BERITA TERKINI
Ketegangan di Timur Tengah Mengguncang Energi, Logistik, dan Inflasi Global

Ketegangan di Timur Tengah Mengguncang Energi, Logistik, dan Inflasi Global

Ketegangan di Timur Tengah memunculkan kekhawatiran baru bagi perekonomian global, terutama melalui risiko gangguan di Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis yang mengangkut hampir seperempat minyak dunia. Hambatan di titik ini dinilai dapat memicu efek berantai, dari lonjakan harga energi hingga tekanan pada rantai pasokan dan sektor penerbangan.

Situasi memanas setelah Iran mendeklarasikan rencana penutupan Selat Hormuz dan terjadi serangan terhadap kapal kargo. Menyusul perkembangan tersebut, sejumlah perusahaan pelayaran besar, termasuk Maersk, MSC, Hapag-Lloyd, dan CMA CGM, dilaporkan menangguhkan atau mengalihkan rute kapal mereka. Pengalihan rute dengan memutar melalui Tanjung Harapan memperpanjang waktu transit sekaligus meningkatkan biaya bahan bakar, asuransi, dan logistik.

Pasar minyak bereaksi cepat. Dalam perdagangan Asia pada pagi hari 2 Maret, harga minyak mentah Brent naik lebih dari 13% dan menembus level US$80 per barel. OPEC kemudian mengumumkan peningkatan produksi lebih dari 200.000 barel per hari untuk meredakan tekanan pasokan. Namun, analis menilai tambahan produksi tersebut kemungkinan belum cukup untuk mengimbangi risiko apabila gangguan di Hormuz berlanjut.

Bagi negara-negara pengimpor energi, terutama di Asia dan Eropa, kenaikan harga minyak berpotensi mengembalikan tekanan inflasi. Kondisi ini terjadi pada saat sejumlah bank sentral baru saja memulai siklus pelonggaran setelah periode pengetatan kebijakan yang berkepanjangan.

Risiko tidak berhenti pada minyak. Kawasan Teluk Persia juga merupakan jalur penting bagi pengiriman gas alam cair (LNG), barang konsumsi, serta bahan baku industri. Penghentian sementara operasi pengiriman melalui Selat Hormuz oleh beberapa operator meningkatkan kemungkinan gangguan rantai pasokan global, termasuk waktu pengiriman yang lebih lama, biaya pengapalan yang lebih tinggi, dan potensi kekurangan bahan baku.

Setelah guncangan logistik akibat pandemi serta konflik Rusia-Ukraina, perekonomian global dinilai belum sepenuhnya stabil ketika Timur Tengah kini muncul sebagai hambatan baru.

Di sektor penerbangan, dampaknya juga terasa signifikan. Selama bertahun-tahun, Timur Tengah dipandang sebagai “persimpangan langit” yang menghubungkan Eropa dan Asia, terlebih ketika wilayah udara Rusia dan Ukraina dibatasi. Namun, dalam 24 jam setelah serangan, setidaknya delapan negara menutup wilayah udaranya, yang membuat pusat transit utama seperti Dubai, Doha, dan Abu Dhabi terdampak.

Menurut lembaga pelacak penerbangan, lebih dari 2.300 penerbangan dibatalkan secara global dalam satu hari, dengan ribuan lainnya mengalami penundaan. Sejumlah maskapai besar, termasuk Lufthansa, Air France, British Airways, Japan Airlines, dan Air India, terpaksa menyesuaikan jadwal.

Kewajiban menghindari zona konflik membuat pesawat harus menempuh rute lebih jauh, yang menaikkan biaya bahan bakar dan waktu operasional. Kenaikan harga minyak turut memperberat beban biaya tersebut. Para ahli memperingatkan tarif penerbangan internasional dapat meningkat tajam apabila situasi berlanjut.

Lonjakan harga energi umumnya berdampak pada kenaikan biaya produksi dan transportasi, yang kemudian berpotensi mendorong harga konsumen. Risiko ini dinilai lebih mengkhawatirkan bagi negara berkembang, mengingat ruang kebijakan moneter dan fiskal yang lebih terbatas.

Pasar keuangan pun cenderung lebih sensitif terhadap gejolak geopolitik. Investor biasanya beralih ke aset safe-haven seperti emas atau obligasi pemerintah, sementara saham dan mata uang negara berkembang berpotensi menghadapi tekanan. Jika ketegangan meningkat menjadi konflik regional yang lebih luas, dunia dapat menghadapi “guncangan minyak” baru—skenario yang secara historis kerap dikaitkan dengan resesi global.

Dampak krisis ini juga disebut tidak terbatas pada kawasan Timur Tengah. Inggris dan Amerika Serikat meningkatkan tingkat kewaspadaan keamanan domestik, mencerminkan kekhawatiran atas risiko terorisme atau kekerasan balasan lintas batas. Kondisi tersebut dapat memicu kenaikan biaya keamanan serta potensi keresahan sosial di negara-negara dengan perekonomian besar.

Dengan proyeksi pertumbuhan global yang moderat pada tahun ini, gejolak geopolitik di Timur Tengah berpotensi menjadi variabel besar yang memengaruhi prospek ekonomi dunia. Dari Selat Hormuz hingga bursa saham Asia, dari bandara Dubai hingga pabrik-pabrik di Eropa, krisis ini menegaskan bagaimana titik panas geopolitik dapat dengan cepat berubah menjadi risiko sistemik global dalam ekonomi yang semakin terhubung.