BERITA TERKINI
Harga Emas Menguat ke Zona Bullish, Ditopang Ketegangan Timur Tengah dan Inflasi AS

Harga Emas Menguat ke Zona Bullish, Ditopang Ketegangan Timur Tengah dan Inflasi AS

Jakarta—Harga emas melanjutkan penguatan signifikan pada awal perdagangan hari ini. Kenaikan didorong meningkatnya ketegangan geopolitik global serta data inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi, sehingga memperkuat tren bullish pada XAU/USD dan membuka peluang kenaikan lanjutan dalam jangka pendek.

Logam mulia tersebut sebelumnya menembus level USD5.260 dan mencatat kenaikan lebih dari 1,20 persen, sekaligus mencapai level tertinggi dalam satu bulan terakhir. Dari sisi teknikal, kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average pada timeframe H1 menunjukkan dominasi kekuatan beli yang kian menguat.

Analis pasar Dupoin Futures, Andy Nugraha, mengatakan kondisi ini memperpanjang tren kenaikan emas yang telah berlangsung selama tujuh bulan berturut-turut. Menurutnya, hal itu mencerminkan tingginya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global.

Andy menilai selama tekanan bullish tetap terjaga, harga emas berpotensi melanjutkan kenaikan menuju level resistance berikutnya di sekitar 5.441. Level tersebut disebutnya sebagai target psikologis penting yang dapat diuji apabila momentum beli tetap kuat dan didukung sentimen fundamental yang positif.

Meski demikian, ia mengingatkan potensi koreksi teknikal tetap perlu diantisipasi. Jika harga gagal mempertahankan momentum kenaikan, penurunan terdekat diperkirakan berada di area support 5.222.

Ketegangan Timur Tengah dorong permintaan safe haven

Penguatan emas juga ditopang eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israel. Situasi ini mendorong investor global mengalihkan dana ke aset yang dianggap aman seperti emas.

Dalam pergerakan terbaru, harga emas disebut sempat dibuka dengan gap bullish sekitar USD17 dan melonjak mendekati level USD5.400, mencerminkan respons cepat pasar terhadap eskalasi konflik.

Ketegangan meningkat setelah Presiden Donald Trump mengumumkan dimulainya operasi militer besar di Iran, menyusul serangan sebelumnya oleh Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga menegaskan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya untuk menghilangkan ancaman keamanan.

Andy menyebut situasi itu memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik yang lebih luas, sehingga meningkatkan permintaan emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko geopolitik.

Data inflasi AS ikut memperkuat emas

Dari sisi data ekonomi, Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat tercatat naik 2,9 persen secara tahunan, melampaui ekspektasi pasar. Sementara itu, Core PPI meningkat menjadi 3,6 persen, menandakan tekanan inflasi masih kuat.

Kondisi tersebut dinilai memperkuat daya tarik emas sebagai lindung nilai terhadap penurunan nilai mata uang dan ketidakpastian ekonomi. Selain itu, penghentian sementara pengiriman minyak melalui Selat Hormuz oleh Iran turut memicu lonjakan harga energi global dan meningkatkan ekspektasi inflasi, yang pada gilirannya mendukung prospek bullish emas.

Secara keseluruhan, kombinasi faktor teknikal dan fundamental membuat prospek emas dalam jangka pendek masih cenderung positif. Selama harga bertahan di atas level support utama, peluang kenaikan menuju area 5.441 tetap terbuka, meski volatilitas tinggi akibat perkembangan geopolitik dan rilis data ekonomi global masih menjadi faktor yang perlu dicermati pelaku pasar.

“Dengan kondisi pasar saat ini, emas diperkirakan akan tetap menjadi instrumen investasi yang menarik, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan ekspektasi inflasi yang masih tinggi,” ujar Andy.