Pemerintah Kota Tangerang Selatan mempercepat langkah antisipasi menghadapi meningkatnya ketidakpastian global yang dipicu eskalasi konflik geopolitik. Situasi tersebut dinilai berpotensi mendorong lonjakan harga energi dunia dan berdampak pada inflasi hingga ke tingkat daerah.
Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie, melalui Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika TB Asep Nurdin, menyampaikan bahwa pemerintah daerah mengambil langkah percepatan realisasi belanja daerah serta menggencarkan program intervensi ekonomi untuk menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
Menurut Asep, eskalasi konflik di Timur Tengah membawa risiko nyata terhadap kenaikan harga energi serta gangguan rantai pasok pangan dunia. Karena itu, pemerintah daerah menyiapkan langkah antisipatif agar dampak inflasi global tidak meluas ke masyarakat di Tangerang Selatan.
Kenaikan harga minyak dunia dikhawatirkan akan meningkatkan biaya logistik nasional dan pada akhirnya memengaruhi harga kebutuhan pokok di pasar-pasar tradisional. Dalam kondisi tersebut, Pemkot Tangerang Selatan menempatkan perlindungan daya beli masyarakat sebagai prioritas.
Percepatan belanja daerah diharapkan menjadi stimulus bagi perputaran ekonomi lokal, sekaligus mendorong aktivitas sektor swasta dan pelaku UMKM. Asep menyebut belanja pemerintah daerah diarahkan agar dapat dirasakan manfaatnya secara cepat oleh masyarakat, terutama setelah Idul Fitri 2026.
Selain kebijakan fiskal, Pemkot Tangerang Selatan juga memperkuat langkah stabilisasi harga melalui kegiatan di lapangan. Sejak Ramadan hingga pasca-Lebaran, pemerintah menggelar bazar murah dan operasi pasar secara masif di tujuh kecamatan untuk menjaga ketersediaan bahan pangan dengan harga terjangkau serta mengantisipasi dampak kenaikan biaya distribusi.
Pemerintah daerah juga mengoptimalkan peran sosial-keagamaan dalam menjaga ketahanan ekonomi warga. Penyaluran zakat, infak, dan sedekah melalui jaringan masjid turut digerakkan untuk membantu masyarakat yang terdampak.
Di sisi lain, Tangerang Selatan yang dinilai bergantung pada kelancaran distribusi logistik disebut rentan terhadap fluktuasi harga energi global. Karena itu, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan harga komoditas di pasar.

