Jakarta — Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi pada pekan ini, seiring meningkatnya risiko geopolitik global.
Menurut Imam, IHSG diperkirakan bergerak dengan level support di 8.031 dan resistance di 8.437. Ia menilai eskalasi konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat, serta ketegangan di kawasan Asia Selatan, telah meningkatkan premi risiko global. Perkembangan situasi di sekitar Selat Hormuz—jalur vital distribusi energi dunia—ikut menjadi perhatian pasar.
Imam mengatakan ketidakpastian geopolitik berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas energi. Kondisi tersebut umumnya memicu rotasi dana ke aset safe haven dan menekan arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Namun, bagi IHSG, kenaikan harga minyak dan batu bara dinilai dapat menjadi penopang sektor energi dan pertambangan, terutama jika harga komoditas bertahan tinggi. Indonesia sebagai eksportir batu bara dan sejumlah komoditas energi dinilai berpeluang diuntungkan dari peningkatan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) dan potensi perbaikan margin emiten sektor terkait.
Imam menambahkan, dalam situasi global yang tidak pasti, saham berbasis komoditas kerap menjadi proxy lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi global.
Di sisi lain, ia mengingatkan apabila eskalasi konflik memicu lonjakan harga energi yang terlalu tajam dan berkepanjangan, risiko inflasi global dapat meningkat dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi bertambah. Kenaikan harga minyak yang signifikan juga dinilai dapat memperbesar tekanan pada neraca transaksi berjalan melalui kenaikan nilai impor migas, sekaligus meningkatkan volatilitas rupiah.
Imam menyebut, jika rupiah melemah dan imbal hasil obligasi global naik, volatilitas IHSG dapat meningkat karena investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko. Karena itu, dalam jangka pendek, arah pergerakan IHSG dinilai sangat bergantung pada apakah kenaikan harga energi masih terkendali dan mendukung emiten komoditas, atau berubah menjadi guncangan inflasi yang menekan stabilitas makro.
Selain geopolitik Timur Tengah, Imam menyoroti faktor lain yang membentuk kehati-hatian pasar, yakni kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang terus berubah serta peringatan lembaga pemeringkat kredit terkait meningkatnya tekanan fiskal Indonesia. Kombinasi isu tersebut dinilai menciptakan kondisi kehati-hatian di pasar keuangan global maupun domestik.
Imam menjelaskan, konsekuensi ekonomi global dari eskalasi di Timur Tengah terutama terkait Selat Hormuz, rute transit penting bagi sekitar 20–25 persen pasokan minyak mentah dan LNG dunia setiap hari. Penutupan atau gangguan di jalur ini berpotensi mengguncang pasar energi global, memengaruhi harga minyak, rantai pasok energi, serta mendorong kenaikan tajam biaya asuransi pengiriman.
Di tengah ketidakpastian tersebut, kebijakan ekonomi AS juga menjadi sorotan. Pada pekan lalu, Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif impor global yang sebelumnya diberlakukan pemerintahan Donald Trump karena dinilai melampaui kewenangan hukum. Kondisi ini mendorong administrasi AS mencari dasar hukum baru untuk mempertahankan sebagian kebijakan tarif.
Trump kemudian mengumumkan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15 persen sebagai respons atas pembatalan tersebut. Sementara itu, Departemen Perdagangan AS menetapkan bea masuk anti-subsidi untuk panel surya dari beberapa negara, termasuk Indonesia, dengan kisaran tarif 86 persen hingga 143,3 persen karena dinilai menerima subsidi yang merugikan industri domestik AS.
Imam menilai ketentuan tarif tinggi tersebut dapat menekan ekspor sektor energi terbarukan Indonesia ke pasar AS dan menambah tekanan pada neraca perdagangan sektor terkait.
Dari dalam negeri, S&P Global Ratings memperingatkan tekanan fiskal Indonesia yang terus meningkat. Lembaga tersebut memperkirakan rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara telah atau berpotensi bertahan di atas level 15 persen, yang menjadi tolok ukur penting dalam penilaian kesehatan fiskal. Jika rasio tetap tinggi dalam jangka menengah, potensi penurunan peringkat kredit dapat terjadi meski outlook saat ini masih stabil.
Menurut Imam, peringatan tersebut menambah kehati-hatian investor dan pembuat kebijakan dalam merespons gejolak global sambil mengelola tantangan fiskal domestik.
Memasuki awal Maret 2026, pasar juga menanti sejumlah rilis data ekonomi, antara lain PMI Manufaktur Indonesia Februari 2026, Neraca Perdagangan Indonesia Januari 2026, Inflasi Indonesia Februari 2026, PMI ISM Manufaktur AS Februari 2026, PMI ISM Jasa AS Februari 2026, PMI NBS China Februari 2026, Initial Jobless Claims AS per 28 Februari, cadangan devisa Indonesia, serta Non-farm Payrolls dan tingkat pengangguran AS.

