Jakarta — Bursa saham Indonesia diperkirakan menghadapi tekanan pada perdagangan Senin (2/3/2026) setelah eskalasi konflik di Timur Tengah menyusul serangan Amerika Serikat (AS) bersama Israel ke Iran. Pelaku pasar menilai situasi ini berpotensi membuat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih volatil.
Konflik geopolitik bukan hal baru bagi IHSG. Dalam beberapa tahun terakhir, pasar berulang kali merespons perang dan ketegangan global yang memicu efek domino terhadap perekonomian dunia, mulai dari lonjakan harga komoditas, inflasi, hingga perubahan arah kebijakan suku bunga di berbagai negara.
Pada 2022, perang Rusia-Ukraina memicu krisis energi dan pangan global. Harga minyak, gas, batu bara, dan gandum melonjak, mendorong inflasi di AS dan Eropa ke level tertinggi dalam 40 tahun. Kondisi tersebut membuat bank-bank sentral, termasuk Federal Reserve dan European Central Bank, agresif menaikkan suku bunga. Dunia memasuki fase pengetatan kebijakan moneter global terbesar sejak krisis 2008.
Memasuki 2023, tren suku bunga tinggi berkontribusi pada perlambatan ekonomi. Daya beli melemah dan biaya pendanaan tetap mahal. Dampaknya terlihat di sejumlah sektor, termasuk krisis perbankan regional di AS yang memuncak dengan runtuhnya Silicon Valley Bank. Di China, sektor properti masih tertekan pascakrisis Evergrande Group, sementara permintaan global melemah dan sejumlah negara mengalami kontraksi manufaktur. Situasi ini membentuk realitas “high rate, low growth”.
Pada 2024, risiko geopolitik dinilai makin kompleks. Konflik Israel-Palestina berkepanjangan memicu ketegangan di Timur Tengah, gangguan pelayaran di Laut Merah mendorong kenaikan biaya logistik global, dan ketegangan dagang AS-Tiongkok berlanjut, terutama di sektor teknologi seperti chip dan kendaraan listrik. Tahun politik besar, termasuk Pemilihan Presiden AS 2024, menambah ketidakpastian kebijakan global. Meski demikian, inflasi mulai turun bertahap sehingga bank sentral mulai membuka ruang mempertimbangkan pelonggaran secara hati-hati.
Memasuki 2025, inflasi global turun mendekati target dan bank sentral mulai memangkas suku bunga secara bertahap. Pasar saham dan obligasi menunjukkan tanda pemulihan, meski belum merata. Namun, konsumen tetap berhati-hati, utang pemerintah di banyak negara masih tinggi, dan fragmentasi rantai pasok melalui friendshoring terus menguat. Di sisi geopolitik, eskalasi Israel-Iran sepanjang 2025 pada Juni berubah menjadi konflik bersenjata antara kedua negara beserta sekutu dan kelompok proxy masing-masing.
Di awal 2026, situasi global digambarkan “stabil tapi rapuh”. Suku bunga lebih rendah dibanding 2023–2024, inflasi cenderung lebih terkendali, pertumbuhan mulai membaik tipis, dan arus modal kembali mencari imbal hasil di negara berkembang. Namun, risiko geopolitik tetap tinggi. Sejak awal Januari 2026, ketegangan meningkat setelah AS—yang sebelumnya mengambil tindakan militer terhadap Venezuela pada 3 Januari 2026—melancarkan serangan langsung bersama Israel ke Iran.
Operasi militer AS-Israel yang disebut “Operation Epic Fury” menargetkan fasilitas strategis dan struktur kepemimpinan Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat senior, serta memicu serangan balasan Iran ke pangkalan AS dan target Israel di kawasan Teluk serta negara-negara tetangga. Eskalasi ini meningkatkan kekhawatiran global terkait potensi terganggunya jalur energi penting seperti Selat Hormuz dan kemungkinan lonjakan harga minyak dunia, yang dapat memicu tekanan inflasi baru saat bank sentral tengah mencoba menurunkan suku bunga.
Dalam catatan pergerakan IHSG selama lima tahun terakhir, pasar beberapa kali menunjukkan pola koreksi awal saat konflik pecah, lalu berupaya pulih dalam periode berikutnya. Saat perang Rusia-Ukraina pecah pada 24 Februari 2022, IHSG turun hingga 1,48% dalam sehari, tetapi sehari setelahnya rebound 2% dan dalam jangka menengah menguat hingga menembus rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di level 7.700.
Ketika serangan Hamas ke Israel terjadi pada 7 Oktober 2023, IHSG merespons pada hari perdagangan berikutnya dengan koreksi 0,04% dalam sehari. Namun pelemahan berlanjut pada hari-hari setelahnya, dan hingga awal November 2023 IHSG turun ke level 6.600 atau menyusut sekitar 4% dibanding sebelum serangan. Meski demikian, IHSG berbalik menguat pada akhir 2023 seiring momentum window dressing dan berlanjut dengan Januari effect pada 2024. Di tengah gejolak suku bunga tinggi dan faktor tahun pemilu pada 2024, IHSG masih sempat kembali mencetak ATH di atas 7.900.
Pada 13 Juni 2025, saat konflik Israel-Iran kembali memanas, IHSG terkoreksi 0,53% dan pelemahan berlanjut hingga 23 Juni 2025. Dalam rentang tersebut, IHSG tercatat turun lebih dari 5%. Namun setelah fase koreksi itu, IHSG justru bangkit dan kembali reli hingga beberapa kali mencetak ATH, terutama setelah pergantian Menteri Keuangan baru. Puncaknya, pada 20 Januari 2026 IHSG sempat menuju level 9.200 untuk pertama kalinya, yang menjadi rekor baru dan belum diuji kembali.
Sebelum eskalasi terbaru di Iran, sempat muncul ketegangan lain pada 3 Januari 2026 terkait serangan AS ke Venezuela. Pada saat itu, IHSG merespons positif pada Senin (5/2/2026) dengan penguatan 1,27%, karena sentimen tersebut dinilai tidak terlalu memengaruhi pasar saham domestik di tengah euforia window dressing dan pemantauan pasar terhadap saham potensial masuk MSCI. Namun, situasi kemudian berubah setelah peristiwa pada 28 Januari yang disebut menggugurkan ekspektasi karena “morning call MSCI”.
Kini, memasuki awal Maret, pasar kembali dihadapkan pada risiko geopolitik AS-Israel melawan Iran. Dampaknya dinilai berpotensi mengguncang IHSG, meski disebut tidak sedalam tekanan saat isu MSCI mencuat hingga muncul kekhawatiran penurunan status ke frontier market. Perhatian pasar juga mengarah pada saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip), terutama yang memiliki eksposur asing besar, karena gejolak global dapat mendorong investor asing memilih mengamankan posisi terlebih dahulu.
Di luar dinamika pasar saham, perang dipandang berisiko mendorong kenaikan harga minyak, memanaskan inflasi, mempertahankan suku bunga tinggi, serta memperberat beban pinjaman yang pada akhirnya menekan prospek ekonomi. Sementara itu, tanpa konflik sekalipun, kekhawatiran perlambatan ekonomi sudah menjadi perhatian dalam beberapa tahun terakhir, dan pasar pada akhirnya akan mencari keseimbangan baru untuk membentuk fase pemulihan berikutnya.

