BERITA TERKINI
Konflik Timur Tengah Picu Ketidakpastian Global, Analis Perkirakan IHSG Tetap Volatil

Konflik Timur Tengah Picu Ketidakpastian Global, Analis Perkirakan IHSG Tetap Volatil

Ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah kembali menekan sentimen pasar keuangan global, termasuk pasar saham Asia dan Indonesia. Eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran mendorong investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, sehingga pergerakan bursa di kawasan cenderung beragam dan volatilitas meningkat.

Pada perdagangan Jumat (27/2/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak relatif datar. MNC Sekuritas mencatat IHSG ditutup di level 8.235,49 atau menguat tipis 0,00 persen, di tengah tekanan jual investor asing. Dalam risetnya, MNC Sekuritas menyebut terjadi net foreign sell sebesar Rp 694,22 miliar.

Secara sektoral, penguatan indeks ditopang sektor industri yang naik 4,48 persen dan sektor cyclicals yang menguat 2,28 persen. Sementara itu, sektor keuangan menjadi penekan utama dengan penurunan 0,83 persen, disusul sektor infrastruktur yang melemah 0,36 persen.

MNC Sekuritas juga mencatat IHSG sempat tertekan secara intraday hingga turun 1,72 persen setelah muncul peringatan dari S&P Global Ratings terkait kondisi fiskal Indonesia. Meski demikian, indeks kemudian pulih dan ditutup sedikit lebih tinggi sejalan dengan mayoritas pasar Asia. Namun, risiko eksternal dinilai masih berpotensi menekan pasar dalam jangka pendek.

Dalam proyeksinya, MNC Sekuritas mengantisipasi potensi tekanan penurunan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Israel terhadap Iran yang disebut menyebabkan penutupan Selat Hormuz. Di saat yang sama, pelaku pasar juga memantau rilis data makroekonomi domestik pada awal Maret, sementara rupiah tercatat melemah dan ditutup di level Rp 16.771 per dollar AS. MNC Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak pada rentang 8.187 hingga 8.281 pada perdagangan selanjutnya.

Di sisi lain, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menilai perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi global kembali menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar dan risiko domestik Indonesia. Ia menyebut ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah target strategis Iran dalam operasi yang disebut Operation Epic Fury, yang menyasar kompleks militer serta fasilitas yang diduga berkaitan dengan program rudal dan nuklir Iran.

Menurut laporan yang dikutip dalam riset tersebut, serangan disebut menimbulkan korban jiwa signifikan di Iran, dengan laporan lebih dari 200 orang tewas, termasuk puluhan anak sekolah, serta ratusan lainnya luka-luka. Serangan juga dilaporkan menghantam wilayah sipil, termasuk sekolah dasar di Minab, dan otoritas Israel menyatakan terdapat indikasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal balistik ke sejumlah negara yang menjadi basis militer AS dan sekutunya di kawasan Teluk, termasuk Bahrain, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, dan Irak. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan sembilan korban tewas dari kalangan sipil di beberapa wilayah, memicu sirine serangan udara di Israel, serta pengerahan besar-besaran pasukan cadangan. Konflik yang meluas ini menambah ketidakpastian yang disebut telah berlangsung sejak konflik Iran-Israel sebelumnya pada pertengahan 2025.

Dampak konflik juga dinilai berpotensi merembet ke ekonomi global melalui risiko gangguan jalur distribusi energi. Selat Hormuz menjadi titik krusial karena merupakan rute transit sekitar 20 hingga 25 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia setiap hari. Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan pembatasan atau penutupan akses terhadap Selat Hormuz dengan alasan jalur tersebut dinilai tidak aman untuk dilintasi, sehingga aktivitas pelayaran dihentikan sebagai langkah pengamanan.

Sejumlah laporan menyebut kapal dagang, termasuk tanker minyak berukuran besar, menerima peringatan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz. Otoritas maritim AS juga memperingatkan kapal sipil agar menjauhi kawasan Teluk karena tingginya risiko konflik. Gangguan terhadap jalur ini dinilai berpotensi memicu lonjakan harga energi, mengganggu rantai pasok global, serta meningkatkan biaya asuransi pengiriman.

Selain faktor geopolitik, sentimen global juga dipengaruhi dinamika kebijakan ekonomi AS. Imam menyebut Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif impor global yang sebelumnya diberlakukan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump karena dianggap melampaui kewenangan hukum. Keputusan itu disebut memaksa pemerintah AS mencari dasar hukum baru untuk mempertahankan sebagian kebijakan tarif, sementara Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15 persen.

Imam juga menyoroti kebijakan Departemen Perdagangan AS yang menetapkan bea masuk anti-subsidi terhadap panel surya dari sejumlah negara, termasuk Indonesia, dengan kisaran tarif 86 persen hingga 143,3 persen. Menurutnya, kebijakan ini berpotensi menekan ekspor sektor energi terbarukan Indonesia ke pasar AS dan menambah tekanan pada neraca perdagangan sektor terkait.

Dari dalam negeri, perhatian investor turut tertuju pada peringatan S&P Global Ratings terkait tekanan fiskal Indonesia. S&P memperkirakan rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara telah atau berpotensi bertahan di atas 15 persen, yang menjadi ambang penting dalam penilaian kesehatan fiskal. Jika rasio tersebut tetap tinggi dalam jangka menengah, terdapat risiko penurunan peringkat kredit Indonesia meski outlook saat ini masih stabil.

Imam menilai eskalasi konflik Timur Tengah dapat memberikan dampak berbeda antar sektor. Sektor energi dan komoditas disebut paling sensitif terhadap perkembangan konflik, karena risiko gangguan pasokan dapat mendorong harga minyak mentah naik dan berpotensi menguntungkan emiten batu bara serta migas dari sisi harga jual rata-rata. Namun, lonjakan harga energi juga berisiko menekan sektor padat energi seperti penerbangan dan manufaktur yang bergantung pada impor bahan bakar.

Selain minyak, ketidakpastian geopolitik biasanya mendorong kenaikan harga emas sebagai aset lindung nilai. Dalam konteks ini, sektor tambang emas dan logam mulia dinilai berpotensi diuntungkan di tengah meningkatnya premi risiko global.

Terkait arus modal, Imam menyebut ketidakpastian geopolitik dapat mendorong penguatan dollar AS dan kenaikan harga komoditas energi, yang biasanya memicu rotasi dana ke aset safe haven dan menekan arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Meski demikian, kenaikan harga komoditas juga dapat menjadi penopang pasar saham Indonesia melalui kinerja emiten berbasis sumber daya alam.

Namun, jika kenaikan harga energi terlalu tajam dan berkepanjangan, risiko inflasi global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dapat meningkat. Kenaikan harga minyak yang signifikan berpotensi memperbesar tekanan pada neraca transaksi berjalan melalui peningkatan impor migas. Di saat yang sama, pelemahan rupiah dan kenaikan imbal hasil obligasi global dapat meningkatkan volatilitas IHSG.

Dalam proyeksi IPOT, IHSG berpotensi bergerak volatil dalam jangka pendek dengan kecenderungan konsolidasi. Imam menyebut support IHSG berada di 8.031 dan resistance di 8.437, dengan arah pergerakan sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik dan dampaknya terhadap harga energi global.

Pelaku pasar juga menantikan rilis sejumlah data ekonomi pada awal Maret 2026, baik dari dalam negeri maupun global. Indikator yang dipantau antara lain PMI Manufaktur Indonesia Februari 2026, neraca perdagangan Indonesia Januari 2026, inflasi Indonesia Februari 2026, serta PMI manufaktur dan jasa AS. Pasar juga menunggu data tenaga kerja AS seperti initial jobless claims, non-farm payrolls, dan tingkat pengangguran, serta PMI dari Badan Statistik China dan posisi cadangan devisa Indonesia.

Perkembangan indikator-indikator tersebut diperkirakan akan ikut membentuk sentimen pasar di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah.