Serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari memunculkan kekhawatiran baru di pasar global. Peristiwa ini dinilai tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dunia melalui kenaikan harga energi, tekanan inflasi, volatilitas pasar keuangan, hingga gangguan rantai pasok.
Dalam ekonomi yang saling terhubung, eskalasi di Timur Tengah dapat dengan cepat merembet ke berbagai wilayah. Kenaikan biaya energi dapat memengaruhi harga pangan, memicu inflasi, dan mengubah sentimen investor. Peristiwa ini sekaligus menegaskan bahwa globalisasi tidak hanya mengintegrasikan perdagangan, tetapi juga mengintegrasikan risiko.
Iran memiliki posisi penting dalam peta energi dunia. Negara ini termasuk pemilik cadangan minyak dan gas terbesar, dan meski berada di bawah sanksi internasional selama bertahun-tahun, tetap menjadi bagian dari dinamika pasokan energi global, khususnya bagi negara-negara Asia.
Di luar faktor cadangan energi, letak geografis Iran juga menjadi sorotan. Iran berbatasan langsung dengan Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menjadi salah satu arteri utama perdagangan minyak dunia. Sekitar seperlima hingga sepertiga minyak global yang diperdagangkan lewat laut melintasi selat tersebut. Karena itu, ancaman terhadap stabilitas kawasan sekitar Hormuz kerap dipandang sebagai risiko terhadap sistem energi global, bukan sekadar isu regional.
Pasar minyak cenderung bereaksi terhadap risiko, bukan hanya pada gangguan pasokan yang nyata. Bahkan tanpa kerusakan fisik pada fasilitas produksi atau distribusi, ekspektasi potensi gangguan dapat mendorong harga naik melalui apa yang kerap disebut sebagai “premi risiko geopolitik”. Dalam konteks konflik, pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan terganggunya produksi Iran serta potensi eskalasi yang dapat memengaruhi distribusi melalui Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak memiliki dampak luas karena energi menjadi input utama hampir seluruh aktivitas ekonomi modern. Transportasi darat, laut, dan udara bergantung pada bahan bakar fosil. Industri manufaktur dan kimia menggunakan produk turunan minyak sebagai bahan baku. Sektor pertanian pun terkait erat dengan energi melalui kebutuhan pupuk dan distribusi. Saat harga energi naik, biaya produksi meningkat, dan perusahaan dihadapkan pada pilihan untuk menyerap biaya atau meneruskannya kepada konsumen. Dalam banyak kasus, kenaikan tersebut berujung pada tekanan inflasi.
Tekanan inflasi dari energi juga dinilai lebih membebani kelompok berpendapatan rendah karena porsi pengeluaran mereka untuk kebutuhan pokok dan transportasi relatif lebih besar. Sementara bagi negara berkembang yang bergantung pada impor energi, lonjakan harga dapat memperlebar defisit neraca perdagangan, menekan nilai tukar, dan meningkatkan beban subsidi.
Situasi ini terjadi ketika banyak negara belum sepenuhnya pulih dari tekanan inflasi pascapandemi dan gangguan rantai pasok global. Dalam beberapa tahun terakhir, bank sentral di sejumlah negara berupaya menurunkan inflasi melalui kebijakan suku bunga tinggi. Lonjakan harga energi akibat konflik menempatkan otoritas moneter pada posisi dilematis: pengetatan kebijakan diperlukan untuk menahan inflasi, tetapi pengetatan berlebihan berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi yang sudah rapuh.
Jika suku bunga dinaikkan untuk meredam inflasi energi, biaya kredit meningkat dan dapat menahan investasi serta konsumsi. Risiko perlambatan ekonomi bahkan resesi menjadi lebih nyata. Namun jika bank sentral memilih menahan diri, inflasi berisiko mengakar dan mengganggu stabilitas jangka panjang.
Ketidakpastian geopolitik juga cepat tercermin di pasar keuangan. Dalam situasi konflik, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti emas dan obligasi pemerintah negara maju. Pergeseran sentimen ini dapat menekan indeks saham, terutama pada sektor yang sensitif terhadap biaya energi seperti penerbangan, logistik, dan manufaktur berat.
Di saat yang sama, arus modal keluar dari negara berkembang dapat meningkat, memicu depresiasi mata uang dan menambah tekanan pada stabilitas makroekonomi. Penguatan dolar AS yang sering muncul dalam periode ketidakpastian menjadi tantangan tambahan bagi negara berkembang yang memiliki utang dalam denominasi dolar karena beban pembayaran utang dapat meningkat.
Dampak konflik juga dapat menjalar ke logistik global. Pembatasan atau penutupan ruang udara di sejumlah wilayah dapat memaksa maskapai mengubah rute, menambah waktu tempuh, dan meningkatkan biaya bahan bakar. Pada sektor maritim, perusahaan pelayaran menghadapi kenaikan premi asuransi karena risiko keamanan meningkat. Jika risiko di sekitar Selat Hormuz membesar, sebagian kapal dapat memilih jalur lebih panjang, yang berarti tambahan waktu dan biaya pengiriman.
Dalam sistem produksi global yang mengandalkan efisiensi dan persediaan minim, keterlambatan pengiriman komponen dapat mengganggu proses produksi di negara lain. Pengalaman pandemi sebelumnya menunjukkan bahwa gangguan rantai pasok dapat menimbulkan biaya ekonomi besar. Konflik geopolitik berpotensi memperpanjang kerentanan tersebut.
Besaran dampak pada pertumbuhan ekonomi global sangat bergantung pada durasi dan eskalasi konflik. Jika konflik singkat dan terkendali, dampaknya dapat terbatas pada lonjakan volatilitas jangka pendek. Namun jika berlanjut, harga energi tinggi yang bertahan lama cenderung menekan konsumsi dan investasi. Dunia usaha dapat menunda ekspansi karena ketidakpastian, sementara konsumen menahan belanja karena harga kebutuhan pokok naik. Dalam kondisi demikian, pertumbuhan PDB global berisiko melambat, terutama bagi negara pengimpor energi bersih di Asia dan Eropa yang neraca perdagangannya dapat memburuk akibat impor energi yang lebih mahal.
Di sisi lain, negara pengekspor energi berpotensi memperoleh keuntungan jangka pendek dari kenaikan harga. Namun keuntungan itu dapat tergerus apabila konflik memperluas ketidakstabilan regional. Ketegangan juga berpotensi mempercepat fragmentasi ekonomi global, mendorong negara-negara mengurangi ketergantungan pasokan pada kawasan tertentu. Tren diversifikasi rantai pasok dan pemindahan kembali produksi yang sudah terlihat dalam beberapa tahun terakhir dapat semakin menguat.
Di tengah risiko tersebut, krisis energi kerap menjadi pemicu percepatan transisi energi. Ketika harga minyak melonjak dan risiko pasokan meningkat, negara-negara terdorong mencari alternatif yang lebih stabil dan terbarukan. Investasi pada energi surya, angin, dan teknologi penyimpanan dapat memperoleh momentum. Bagi negara importir energi, diversifikasi sumber energi dapat dipandang sebagai isu keamanan nasional, bukan semata isu lingkungan. Meski demikian, transisi energi tidak dapat terjadi dalam waktu singkat, sementara ketergantungan pada bahan bakar fosil masih tinggi dalam jangka pendek.
Bagi banyak negara berkembang, situasi ini menghadirkan tantangan ganda: tekanan inflasi dan nilai tukar akibat kenaikan harga energi serta arus modal keluar, sementara ruang fiskal untuk subsidi atau stimulus sering kali terbatas. Indonesia, yang masih menjadi pengimpor bersih minyak, dapat merasakan tekanan melalui kenaikan harga BBM dan biaya distribusi. Pemerintah dihadapkan pada pilihan antara menaikkan harga domestik atau menambah subsidi yang membebani anggaran.
Secara lebih luas, krisis seperti ini dinilai dapat memperlebar kesenjangan antara negara maju dan berkembang. Negara maju umumnya memiliki cadangan devisa lebih besar dan akses pembiayaan yang lebih murah, sementara negara berkembang cenderung lebih rentan terhadap guncangan eksternal.
Di tengah dampak ekonomi yang meluas, diplomasi menjadi faktor penting. Upaya de-eskalasi dipandang krusial bukan hanya untuk stabilitas politik, tetapi juga untuk kestabilan ekonomi. Negara-negara besar memiliki kepentingan mencegah konflik meluas karena dampaknya terhadap pertumbuhan dan inflasi global dapat signifikan. Meski organisasi internasional dan forum multilateral berpotensi memainkan peran dalam meredam ketegangan, dinamika dunia yang semakin multipolar dapat membuat konsensus global tidak mudah dicapai karena perbedaan kepentingan strategis, aliansi militer, dan rivalitas geopolitik.
Serangan pada 28 Februari itu kembali menegaskan betapa sensitifnya ekonomi global terhadap guncangan geopolitik, terutama yang melibatkan kawasan strategis seperti Timur Tengah. Dampaknya dapat merambat dari harga minyak ke inflasi, dari pasar saham ke nilai tukar, dari logistik ke prospek pertumbuhan. Dalam jangka pendek, dunia menghadapi volatilitas dan ketidakpastian. Dalam jangka menengah, arah konflik akan menentukan apakah dampaknya hanya sementara atau berkembang menjadi pemicu perlambatan global yang lebih dalam.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa stabilitas ekonomi global tidak hanya ditentukan oleh angka pertumbuhan dan kebijakan suku bunga, tetapi turut bergantung pada stabilitas politik dan keamanan internasional. Selama energi masih menjadi nadi aktivitas ekonomi modern, setiap percikan konflik di Timur Tengah berpotensi memicu gelombang dampak yang meluas ke berbagai belahan dunia.

