BERITA TERKINI
Analis Peringatkan Konflik AS–Israel dan Iran Berisiko Dorong Harga Minyak serta Resesi Global

Analis Peringatkan Konflik AS–Israel dan Iran Berisiko Dorong Harga Minyak serta Resesi Global

JAKARTA — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasar energi global setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir pekan. Sejumlah analis menilai eskalasi konflik berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia, terutama bila berdampak pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan energi global.

Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), dengan produksi sedikit di atas 3 juta barel per hari pada Januari 2026. Negara ini juga memiliki garis pantai di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu rute terpenting bagi distribusi minyak dunia.

Pasar minyak sebelumnya dinilai cenderung mengabaikan risiko gangguan pasokan di Timur Tengah. Namun, beberapa analis menilai pelaku pasar bisa meremehkan dampak yang mungkin muncul dari respons Iran atas serangan AS.

Bob McNally, mantan penasihat energi Gedung Putih pada era Presiden George W. Bush sekaligus pendiri Rapidan Energy, menyebut situasi saat ini serius bagi pasar energi global. Ia memperkirakan harga kontrak berjangka minyak mentah dapat langsung naik 5 dollar AS hingga 7 dollar AS per barel saat perdagangan dibuka Minggu (1/3/2026) malam waktu New York, atau setara sekitar Rp 84.000 hingga Rp 117.600 per barel dengan kurs Rp 16.800 per dollar AS.

Pada penutupan perdagangan Jumat, harga minyak Brent berada di level 72,48 dollar AS per barel, naik 1,73 dollar AS atau 2,45 persen. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup pada 67,02 dollar AS per barel, meningkat 1,81 dollar AS atau 2,78 persen.

Selat Hormuz jadi titik perhatian

Selat Hormuz menjadi sorotan utama dalam eskalasi ini. Berdasarkan data perusahaan konsultan energi Kpler, lebih dari 14 juta barel minyak per hari melewati selat tersebut pada 2025—sekitar sepertiga dari total ekspor minyak mentah dunia yang diangkut melalui jalur laut.

Mayoritas pengiriman menuju negara-negara Asia, termasuk China, India, Jepang, dan Korea Selatan. Sekitar tiga perempat minyak yang melintasi selat itu dikirim ke negara-negara tersebut. China disebut memperoleh sekitar setengah impor minyaknya melalui Selat Hormuz.

McNally menilai Iran memiliki kemampuan meningkatkan risiko keamanan di jalur pelayaran itu sebagai bentuk tekanan geopolitik, termasuk melalui persediaan ranjau laut dan rudal jarak pendek. Ia memperingatkan, jika Selat Hormuz menjadi tidak aman bagi kapal komersial, harga minyak global berpotensi melonjak hingga di atas 100 dollar AS per barel.

McNally juga menekankan dampaknya tidak hanya terbatas pada harga energi. Menurut dia, penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan dapat memicu resesi global.

Ancaman juga terhadap pasokan LNG

Selain minyak mentah, Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan gas alam cair (LNG). Sekitar 20 persen ekspor LNG dunia melewati rute ini, sebagian besar berasal dari Qatar. Jika selat ditutup, pasokan LNG global dinilai berpotensi terganggu dan sulit digantikan oleh sumber lain.

McNally memperkirakan gangguan pasokan energi berskala besar dapat memicu perlombaan pembelian di pasar internasional, terutama oleh negara-negara Asia yang merupakan importir besar minyak dan gas. Ia menilai harga minyak kemungkinan harus naik cukup tinggi hingga memicu perlambatan ekonomi global yang menurunkan permintaan energi agar pasar kembali seimbang.

Indikasi awal gangguan pengiriman

Sejumlah indikasi awal gangguan logistik juga mulai muncul. Matt Smith, analis minyak di Kpler, menyampaikan lebih dari 20 juta barel minyak mentah telah dimuat untuk ekspor dari kawasan Teluk pada hari yang sama, berasal dari Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar.

Namun, Smith mencatat beberapa kapal tanker terpantau mengubah rute dan tidak melewati Selat Hormuz. Kondisi ini dipandang sebagai sinyal awal meningkatnya risiko bagi jalur perdagangan energi global.

McNally menambahkan, sebagian besar kapasitas cadangan produksi minyak dunia berada di negara-negara Teluk. Jika Selat Hormuz ditutup, kapasitas tambahan itu tidak dapat disalurkan ke pasar global, sehingga berpotensi memperparah ketidakseimbangan pasokan dan permintaan.

Jalur alternatif terbatas

Beberapa negara produsen memiliki infrastruktur alternatif untuk menyalurkan minyak tanpa melalui Selat Hormuz, tetapi kapasitasnya terbatas. Arab Saudi memiliki jaringan pipa dari pantai timur ke pantai barat menuju Laut Merah, sementara Uni Emirat Arab memiliki pipa yang berakhir di Teluk Oman sehingga dapat menghindari Selat Hormuz.

Meski demikian, McNally menilai hanya sebagian kecil dari total volume minyak yang biasanya melewati selat tersebut yang dapat dialihkan melalui jalur alternatif. Karena itu, gangguan di Selat Hormuz tetap berpotensi berdampak besar terhadap pasokan energi global.

Eskalasi dan risiko asuransi pelayaran

Ketegangan meningkat setelah Iran melancarkan serangan rudal ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Media pemerintah Iran melaporkan serangan itu menargetkan pangkalan militer AS di Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.

Tom Kloza, principal di Kloza Advisors, menilai eskalasi tersebut dapat memengaruhi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Ia mengatakan meningkatnya risiko keamanan dapat mendorong perusahaan asuransi menaikkan premi secara tajam bagi kapal tanker yang melintasi kawasan itu, bahkan berpotensi menolak memberikan perlindungan. Situasi ini dinilai dapat memperburuk gangguan pengiriman minyak meskipun selat secara teknis masih terbuka.

Opsi cadangan strategis AS

Di tengah kemungkinan lonjakan harga minyak, pemerintah AS memiliki opsi menggunakan cadangan minyak strategis atau Strategic Petroleum Reserve (SPR). Kevin Book, managing director research di ClearView Energy Partners, menyebut persediaan SPR sekitar 415 juta barel berdasarkan data Departemen Energi AS.

Namun, ia menilai cadangan itu mungkin tidak cukup untuk menutupi gangguan besar dalam jangka panjang. Menurut Book, krisis Hormuz skala penuh dapat melampaui kompensasi yang disediakan oleh cadangan strategis di AS maupun negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA).

Pasar bersiap dan skenario terburuk

Pasar minyak kini bersiap menghadapi kemungkinan guncangan pasokan setelah serangan AS terhadap Iran kembali memunculkan kekhawatiran stabilitas ekspor energi dari kawasan Teluk. Para analis memperkirakan reaksi awal harga minyak akan cepat ketika perdagangan dibuka kembali, namun ketidakpastian terbesar adalah apakah konflik berkembang menjadi gangguan pasokan berkepanjangan.

Vandana Hari, CEO Vanda Insights, menilai situasi dapat berkembang menjadi konflik militer besar antara AS dan Iran, dengan lintasan yang sulit diprediksi. Ia menyebut, jika konflik berlangsung beberapa hari dan Iran beserta sekutunya membalas secara maksimal, pasar minyak dapat menghadapi skenario terburuk berupa gangguan besar pada aliran minyak melalui Timur Tengah.

Saul Kavonic, kepala riset energi di MST Marquee, mengatakan skenario yang mungkin terjadi berkisar dari gangguan terbatas pada ekspor minyak Iran hingga blokade penuh Selat Hormuz. Ia menyebut pasar bisa menghadapi potensi kehilangan hingga 2 juta barel per hari dari ekspor Iran, serangan terhadap infrastruktur energi regional, atau gangguan pelayaran di Selat Hormuz.

Kavonic menambahkan, jika rezim Iran merasa menghadapi ancaman eksistensial, upaya memblokir Selat Hormuz tidak dapat dikesampingkan, meski AS dan sekutunya kemungkinan mengerahkan pengawalan militer untuk melindungi jalur pelayaran. Ia memperingatkan dampak penutupan Selat Hormuz terhadap pasar energi global bisa sangat besar dan berpotensi mendorong harga minyak menembus tiga digit serta memicu kenaikan harga LNG mendekati rekor tertinggi 2022.

Andy Lipow, presiden Lipow Oil Associates, menilai serangan terhadap Iran meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak di kawasan meski fasilitas produksi minyak Iran belum menjadi target langsung. Ia menggambarkan skenario terburuk sebagai serangan terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi yang diikuti penutupan penuh Selat Hormuz, dengan probabilitas sekitar 33 persen karena Iran dapat merasa berada dalam situasi terdesak.