Dalam dua pekan terakhir, pasar keuangan global dan dinamika geopolitik internasional diwarnai rangkaian peristiwa yang meningkatkan ketidakpastian. Gejolak di pasar kredit, tekanan pada sektor pinjaman swasta, serta eskalasi ketegangan militer di Timur Tengah disebut saling memperkuat sentimen negatif di pasar.
Salah satu pemicu yang disorot adalah krisis likuiditas yang dialami perusahaan keuangan Inggris, Market Financial Solutions (MFS). Perusahaan itu dilaporkan mengarah pada kondisi insolvensi setelah menghadapi default besar dalam portofolio kreditnya di Bangladesh. Situasi tersebut membuat sejumlah pemberi pinjaman besar—termasuk Barclays, Apollo Atlas, Jefferies, TPG, dan Avenue—terpapar risiko kerugian yang dinilai signifikan.
Krisis ini terjadi di tengah catatan insolvensi yang disebut lebih dulu dialami dua kelompok keuangan besar di Amerika Serikat, yakni First Brands Group dan Tricolor Holding, berdasarkan laporan internal.
Di sisi lain, tekanan juga dirasakan perusahaan yang bergerak di sektor private credit loans, terutama yang memiliki paparan terhadap sektor perangkat lunak. Harga aset di sektor ini dilaporkan turun tajam akibat kekhawatiran investor, di tengah dinamika pertumbuhan pesat perusahaan yang bergerak di bidang kecerdasan buatan (AI). Sejumlah analis menilai percepatan peluang pertumbuhan AI justru melemahkan kepercayaan terhadap keberlanjutan model bisnis tradisional di sektor perangkat lunak dan kredit berbasis aset teknologi.
Sentimen pasar turut dipengaruhi beredarnya laporan berjudul “The 2028 Global Intelligence Crisis” dari Citrini Research. Laporan tersebut menggambarkan skenario di mana perkembangan AI dapat memicu pengurangan besar-besaran pekerjaan white-collar serta menimbulkan tekanan struktural pada sektor keuangan dan ekonomi global. Meski disebut sebagai skenario hipotetik, dampaknya dinilai terlihat pada pasar saham, terutama pada saham perusahaan keuangan dan teknologi yang mengalami tekanan jual.
Seiring meningkatnya kekhawatiran terkait distress loan dan sentimen dari laporan tersebut, indeks saham keuangan utama mengalami penurunan. Saham sejumlah bank besar—JP Morgan, Citi Bank, dan Bank of America—dilaporkan turun sekitar 4–4,9%. Sementara itu, saham institusi finansial investasi juga melemah, antara lain Goldman Sachs turun hingga 7,5%, Morgan Stanley 6%, Wells Fargo 6%, Jefferies 9,3%, KKR 6%, Apollo 8,5%, dan Blackstone 4%.
Di luar faktor pasar, perkembangan geopolitik menjadi perhatian utama. Dalam beberapa hari terakhir, Amerika Serikat bersama Israel dilaporkan melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran, yang digambarkan sebagai bagian dari upaya menghentikan aktivitas nuklir dan program rudal jarak jauh Teheran. Pejabat AS juga menyatakan operasi tersebut sekaligus menargetkan perubahan rezim di Iran.
Menurut pengamat internasional, keputusan itu didorong strategi AS untuk memotong akses sumber energi murah yang sebelumnya dinilai mendukung kekuatan ekonomi mitra strategis rival seperti China. Dalam konteks ini, kegagalan China dan Rusia dalam melindungi sekutu energi seperti Iran disebut dapat melemahkan posisi strategis keduanya di panggung global.
Pengamat menilai China menghadapi tantangan dalam menjaga kredibilitasnya di mata negara-negara yang selama ini menjalin hubungan dekat atau bersikap ambivalen terhadap blok AS–NATO. Krisis ini juga diperkirakan membuka peluang bagi AS untuk menekan hubungan diplomatik negara-negara Global South dengan Rusia dan China, terutama terkait kerja sama energi dan arah kebijakan luar negeri.
Meski pemerintah China dan Rusia masih disebut berhati-hati dalam merespons serangan terhadap Iran, dinamika politik lanjutan diperkirakan menjadi faktor utama yang menentukan eskalasi atau meredanya konflik. Sejumlah kepala negara di berbagai wilayah menyerukan de-eskalasi, sementara negara-negara di Timur Tengah dilaporkan menghadapi situasi yang bergejolak terkait potensi reaksi balik dari Teheran.
Rangkaian peristiwa dalam dua pekan terakhir menggambarkan periode ketidakpastian tinggi, ketika tekanan struktural di pasar keuangan bertemu dengan risiko konflik geopolitik berskala besar. Dari isu dampak AI terhadap tenaga kerja hingga konflik di Timur Tengah, situasi ini disebut berpotensi menjadikan 2026 sebagai salah satu tahun paling bergejolak bagi ekonomi dan stabilitas global.

