Laporan Institute for Economics and Peace (IEP) melalui Global Peace Index 2025 mencatat penurunan berkelanjutan pada tingkat perdamaian dunia seiring meningkatnya eskalasi konflik di berbagai wilayah. Secara rata-rata, nilai Indeks Perdamaian Global turun 5,4% sejak 2008, mencerminkan memburuknya stabilitas global dalam 17 tahun terakhir.
Global Peace Index disusun dari 23 indikator yang mengukur ketiadaan kekerasan. Indikator tersebut mencakup antara lain jumlah kematian akibat konflik internal dan eksternal, tingkat kejahatan kekerasan, dampak terorisme, demonstrasi yang berujung kekerasan, hingga besaran anggaran belanja militer.
IEP mencatat ada 59 negara yang saat ini terlibat konflik, jumlah terbanyak sejak berakhirnya Perang Dunia II. Selain itu, sebanyak 78 negara disebut terlibat konflik di luar perbatasan mereka, yang membuat konflik semakin sulit ditangani. Kondisi ini turut mendorong tingkat penyelesaian konflik mencapai titik terendah dalam 50 tahun terakhir.
Di saat yang sama, meningkatnya tensi geopolitik mendorong penguatan militer di banyak negara. Tren militerisasi meningkat di 106 negara, setelah sempat menurun selama dua dekade terakhir. Peningkatan ini tercermin dari naiknya pengeluaran untuk kebutuhan militer di berbagai negara.
Dalam pemetaan kawasan rawan konflik, Rusia dan Ukraina tercatat sebagai negara dengan indeks perdamaian terendah akibat konflik yang berkelanjutan. Timur Tengah juga termasuk wilayah dengan indeks perdamaian rendah, dipengaruhi konflik yang berlangsung di Palestina, Suriah, Sudan, serta peningkatan kerusuhan di tingkat regional.
Penurunan indeks perdamaian ini sejalan dengan meningkatnya jumlah kematian akibat konflik internal maupun eksternal. Laporan tersebut menyebut kemerosotan paling signifikan dipicu oleh genosida di Gaza yang menewaskan lebih dari 68 ribu jiwa. Kematian disebut tidak hanya terjadi akibat serangan militer, tetapi juga akibat kelaparan yang berkaitan dengan blokade Israel. Pada awal Maret 2025, seluruh bantuan kemanusiaan diblokir untuk memasuki Gaza, memperburuk krisis kemanusiaan. Laporan juga menyebut gencatan senjata yang baru disepakati tidak menghentikan Israel melakukan serangan ke Gaza.
Masih di kawasan Timur Tengah, Suriah mencatat kemerosotan indeks perdamaian paling besar. Transisi pemerintahan setelah digulingkannya rezim Bashar al-Assad disebut meningkatkan ketegangan politik di negara tersebut.
Di Afrika, perang sipil antara Sudanese Armed Forces (SAF) dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) memicu kekerasan yang semakin meluas. Dampaknya, indeks perdamaian Sudan merosot 0,54% dibanding tahun sebelumnya. Gejolak konflik juga melanda Afrika tengah, yang turut menempatkan kawasan itu dalam kategori indeks perdamaian rendah.
Salah satu tren yang disorot di Afrika adalah gelombang kudeta militer dalam lima tahun terakhir di sejumlah negara, seperti Mali, Guinea, Burkina Faso, Niger, dan Gabon. Menurut laporan, konflik yang berlarut tidak hanya menekan tingkat perdamaian, tetapi juga menghambat pembangunan ekonomi dan memperburuk kondisi masyarakat.
Di Asia, Myanmar disebut sebagai negara yang paling tidak aman dan mencatat kemerosotan indeks perdamaian terburuk pada 2025. Kondisi memburuk seiring berkuasanya junta militer, dengan kekerasan yang meluas akibat kerusuhan sipil dan konflik bersenjata. Kudeta sejak 2021 dilaporkan telah menewaskan lebih dari 5 ribu warga sipil.
Indeks perdamaian rendah juga tercatat di sejumlah negara Barat, termasuk Amerika Serikat. Meski tidak dilanda konflik secara langsung, laporan menilai peran negara tersebut sebagai aktor utama di balik meletusnya berbagai konflik di belahan dunia lain berkontribusi pada penurunan skor, bersamaan dengan keterlibatan dalam konflik eksternal serta meningkatnya anggaran belanja militer.
Sementara itu, kawasan yang dinilai paling damai adalah Eropa Barat dan Tengah. Secara keseluruhan, hanya ada 12 negara yang masuk kategori tingkat perdamaian “sangat tinggi”, dan sembilan di antaranya berada di Eropa Barat dan Tengah. Laporan menyebut stabilitas di kawasan ini berkorelasi kuat dengan pertumbuhan PDB yang lebih tinggi dan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik.
Namun, IEP juga menegaskan indeks perdamaian di Eropa terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Banyak negara di kawasan tersebut meningkatkan anggaran militer karena kekhawatiran konflik Rusia-Ukraina meluas. Pengeluaran besar untuk militer disebut menggeser anggaran sektor produktif seperti pendidikan, kesehatan, dan pengembangan bisnis, yang kemudian berdampak pada turunnya kepercayaan publik terhadap institusi pemerintahan serta meningkatnya ketegangan sosial.
Di Asia-Pasifik, New Zealand tercatat sebagai negara paling damai dan bahkan mencatat perbaikan indeks sekitar 3,1% dibanding tahun sebelumnya. Australia dan Jepang juga masuk kategori tingkat perdamaian “sangat tinggi”. Di Asia Tenggara, Singapura disebut sebagai negara paling damai, sementara negara-negara lain di kawasan ini umumnya berada pada kategori “tinggi” dan “sedang”, kecuali Myanmar.

