BERITA TERKINI
Trump Dinilai Kehilangan Keunggulan Strategis, Konflik dengan Iran Disebut Kian Sulit Diakhiri

Trump Dinilai Kehilangan Keunggulan Strategis, Konflik dengan Iran Disebut Kian Sulit Diakhiri

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai mulai kehilangan keunggulan strategis dalam menghadapi Iran di tengah konflik yang terus memanas di Timur Tengah. Sejumlah tekanan, mulai dari langkah politik, sanksi ekonomi, hingga manuver militer Washington, disebut belum berhasil memaksa Teheran menerima syarat perdamaian yang diinginkan Amerika Serikat.

Sejumlah analis menilai situasi justru berbalik menekan pemerintahan Trump. Konflik yang berkepanjangan dinilai membuat posisi Amerika Serikat semakin sulit, baik di Timur Tengah maupun dalam persaingan geopolitik global.

Selama ini, Trump kerap menggunakan istilah “memegang kartu” untuk menggambarkan posisi tawar Amerika Serikat dalam berbagai negosiasi internasional. Istilah itu merujuk pada keyakinannya bahwa kekuatan militer dan pengaruh politik AS dapat membuat lawan pada akhirnya tunduk. Namun dalam konflik dengan Iran, pendekatan tersebut disebut mulai kehilangan efektivitas.

Direktur Program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies, Mona Yacoubian, menyatakan Trump saat ini tidak memiliki banyak opsi strategis untuk menekan Iran. Menurut dia, tekanan politik maupun militer yang selama ini digunakan Washington belum mampu membuat Iran melunak. Sebaliknya, Teheran dinilai masih dapat mempertahankan pengaruhnya meski menghadapi tekanan besar dari Amerika Serikat dan sekutunya.

Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, Iran tetap menunjukkan perlawanan meski dilaporkan kehilangan sejumlah petinggi militernya dalam konflik yang berlangsung. Kondisi ini dinilai menjadi sinyal bahwa perang dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Beberapa faktor yang disebut turut membuat Iran masih bertahan antara lain dukungan jaringan militer dan politik di kawasan, kontrol strategis terhadap Selat Hormuz, ketahanan menghadapi sanksi ekonomi, serta dukungan internal rezim yang masih cukup kuat. Para pengamat menilai tekanan ekonomi dan manuver militer Amerika Serikat belum cukup untuk mengubah sikap Teheran secara signifikan.

Konflik semakin memanas setelah Trump bergabung dengan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat penting Iran, termasuk pemimpin tertinggi negara itu, Ali Khamenei.