BERITA TERKINI
KJRI San Francisco Kenalkan Tempe sebagai Diplomasi Kuliner Indonesia-AS

KJRI San Francisco Kenalkan Tempe sebagai Diplomasi Kuliner Indonesia-AS

San Francisco — Tempe dihadirkan sebagai lebih dari sekadar hidangan dalam kegiatan bertajuk From Tempeh to Table: An Indonesian Vegan Superfood Cooking Experience yang digelar di Wisma Indonesia San Francisco. Melalui acara ini, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) San Francisco memperkenalkan tempe sebagai bagian dari budaya, pangan sehat, keberlanjutan, sekaligus jembatan persahabatan Indonesia–Amerika Serikat.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 140 peserta yang terdiri dari anggota San Francisco Vegan Society (SFVS), sahabat Indonesia, komunitas kuliner, serta para istri Konsul Jenderal yang tergabung dalam Legion of the San Francisco Consular Corps (LSFCC). Acara diselenggarakan KJRI San Francisco bekerja sama dengan SFVS dan Reculture Foods.

Rangkaian kegiatan mencakup pengenalan sejarah dan budaya tempe, lokakarya pembuatan tempe, demonstrasi masakan vegan Indonesia, hingga jamuan makan siang berbahan dasar tempe dan kuliner nabati Nusantara.

Dalam sambutannya, Konsul Jenderal RI San Francisco Yohpy Ichsan Wardana menekankan bahwa tempe merupakan bagian dari warisan kuliner Indonesia yang lahir dari teknik pengolahan pangan asli dan berkembang melalui pengetahuan lokal lintas generasi. Ia menyebut tempe sebagai pertemuan kekayaan hayati dan kebudayaan, karena melibatkan kedelai, jamur Rhizopus oligosporus, serta tradisi fermentasi yang telah lama hidup di masyarakat Indonesia.

Yohpy juga menyoroti dimensi hubungan Indonesia–Amerika Serikat dalam perjalanan tempe. Menurutnya, sebagian besar tempe di Indonesia saat ini dibuat dari kedelai yang dibudidayakan petani Amerika, sementara teknik pembuatan tempe berasal dari tradisi pangan Indonesia yang kini kian dikenal di Amerika Serikat. Ia menilai tempe dapat menjadi simbol persahabatan kedua bangsa karena memperlihatkan bagaimana pangan mampu mempertemukan budaya dan negara.

Acara ini berlangsung di tengah upaya Pemerintah Indonesia menominasikan budaya pembuatan tempe ke dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Keputusan atas nominasi tersebut diharapkan diumumkan pada tahun ini. Pengakuan itu dipandang penting untuk mengukuhkan tempe sebagai tradisi pangan yang sehat, berkelanjutan, dan berbasis komunitas.

Dukungan terhadap nominasi tersebut juga disampaikan SFVS. Wakil Presiden SFVS Dr. Ravinder Sehgal menyatakan kegiatan ini membantu peserta melihat tempe dalam konteks yang lebih luas, bukan hanya sebagai sumber protein nabati. Ia menyebut tempe mewakili pengetahuan, keterampilan, dan tradisi budaya Indonesia yang diwariskan lintas generasi melalui praktik pembuatan tempe.

Dr. Ravinder menambahkan Dewan SFVS menyatakan dukungan kuat terhadap nominasi Indonesia atas budaya pembuatan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Menurutnya, makna budaya, sejarah, serta manfaat lingkungan dari tempe menjadikan tradisi tersebut layak memperoleh pengakuan global. Ia juga menilai acara ini mengesankan karena mampu mempertemukan berbagai kalangan dan menegaskan bahwa pangan memiliki kekuatan untuk membangun persahabatan, pemahaman, dan komunitas.

Dalam sesi acara, Feby Boediarto, co-founder Reculture Foods—startup tempe di Bay Area—mengulas sejarah dan makna budaya tempe serta memandu lokakarya pembuatan tempe. Ia memperkenalkan tempe sebagai praktik pangan yang hidup, terkait dengan identitas, lingkungan, dan pengalaman diaspora Indonesia.

Sementara itu, Chef Alan Ramdani, juru masak Wisma Indonesia San Francisco, memandu demonstrasi memasak sejumlah hidangan vegan Indonesia, yakni lodeh, tempe mendoan, dan sambal Lamongan. Pada jamuan makan siang, peserta menikmati lodeh, tempe bacem, dan sambal Lamongan sebagai bagian dari pengenalan kuliner vegan Indonesia.

Chef Martin Yan, chef dan penulis kuliner yang dikenal luas melalui program Yan Can Cook, turut hadir dan berpartisipasi dalam demonstrasi memasak, menambah suasana interaktif dalam kegiatan tersebut.

KJRI San Francisco juga menyampaikan apresiasi kepada William Shurtleff dan Akiko Aoyagi, penulis The Book of Tempeh yang pertama kali terbit pada 1979. Buku tersebut dinilai berperan besar dalam memperkenalkan pengetahuan tentang tempe ke luar Indonesia, terutama ke Amerika Serikat, dan memperluas apresiasi global terhadap tempe.

Bagi komunitas vegan di San Francisco, tempe bukan bahan pangan yang sepenuhnya asing. Namun, acara ini memberikan konteks baru bahwa di balik sepotong tempe terdapat sejarah panjang, teknik fermentasi asli Indonesia, relasi pertanian lintas negara, serta warisan budaya yang terus hidup.

Melalui kegiatan ini, KJRI San Francisco berharap tempe semakin dikenal bukan hanya sebagai sumber protein nabati, tetapi juga sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap pangan sehat dan berkelanjutan, tempe dihadirkan sebagai sajian yang membawa rasa sekaligus cerita, serta mempererat jembatan antarbudaya.