WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump melempar wacana kebijakan darurat berupa penghentian sementara pajak bahan bakar federal untuk meredam beban masyarakat akibat kenaikan harga energi.
Dalam wawancara via telepon dengan CBS News pada Senin pagi, Trump mengatakan kebijakan itu dipandang sebagai langkah jangka pendek yang akan berlaku hingga harga bahan bakar kembali stabil. “Saya pikir ini ide yang sangat baik, kita akan menghentikan pajak bensin untuk sementara waktu, dan ketika harga turun, pajak itu akan diberlakukan kembali secara bertahap,” ujar Trump, dikutip Selasa (12/5/2026).
Harga bahan bakar di Amerika Serikat dilaporkan naik lebih dari 50 persen sejak pecahnya konflik dengan Iran pada akhir Februari. Data AAA mencatat harga bensin telah menembus 4,52 dolar AS per galon.
Sejumlah analis energi menilai tekanan harga masih berpotensi berlanjut, terutama setelah Iran membatasi akses jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi salah satu lintasan utama distribusi minyak global.
Meski demikian, rencana penghentian pajak tersebut tidak dapat dilakukan sepihak oleh pemerintah eksekutif karena memerlukan persetujuan Kongres. Pajak federal sebesar 18,4 sen per galon untuk bensin dan 24,4 sen untuk solar selama ini menjadi sumber penting pendanaan infrastruktur.
Jika kebijakan itu diterapkan, pemasukan negara diperkirakan berkurang sekitar 500 juta dolar AS per pekan. Dana tersebut selama ini mengalir ke Highway Trust Fund untuk pembangunan dan perbaikan jalan.
Menanggapi pernyataan Trump, sejumlah legislator dari Partai Republik dan Demokrat disebut langsung merespons dengan mengajukan rancangan undang-undang terkait penangguhan atau penurunan pajak bahan bakar. Senator Republik Josh Hawley menyatakan akan segera mengusulkan legislasi resmi, sementara anggota DPR Anna Paulina Luna mengonfirmasi rencana serupa di parlemen pada pekan ini. Sejumlah politisi Demokrat juga disebut sebelumnya telah mendorong kebijakan sejenis sebagai respons atas tekanan ekonomi akibat kenaikan harga energi.
Dalam wawancara yang sama, Trump menolak gagasan pemberian bailout kepada maskapai penerbangan AS yang tertekan oleh lonjakan harga avtur—yang dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipat sejak konflik berlangsung. “Belum ada proposal bailout yang benar-benar diajukan, dan sejauh ini maskapai masih berjalan cukup baik,” kata Trump.
Namun, tekanan pada industri penerbangan mulai terlihat setelah maskapai berbiaya rendah Spirit Airlines menghentikan operasionalnya akibat lonjakan beban biaya. Para analis memperkirakan harga tiket pesawat akan naik signifikan pada musim panas mendatang seiring meningkatnya biaya operasional.
Trump juga menyinggung dinamika geopolitik dengan menyatakan dirinya telah memperkirakan langkah Iran dalam menutup Selat Hormuz sebagai tekanan strategis. “Saya sudah tahu mereka akan menutupnya, itu satu-satunya senjata yang mereka miliki,” ujarnya, seraya membuka kemungkinan operasi militer untuk menjamin keamanan jalur pelayaran internasional.
Ia mengisyaratkan opsi tindakan yang lebih keras bila situasi memburuk, meski belum memastikan apakah operasi tersebut akan segera dijalankan. Terkait upaya perdamaian, Trump mengatakan menolak proposal terbaru dari Iran karena dinilai tidak memenuhi ekspektasi Amerika Serikat, terutama terkait pembatasan program nuklir.