BERITA TERKINI
The Yudhoyono Institute Gelar Diskusi Panel Bahas Geopolitik, Keamanan, dan Ekonomi Global

The Yudhoyono Institute Gelar Diskusi Panel Bahas Geopolitik, Keamanan, dan Ekonomi Global

Jakarta — Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menaikkan tarif impor timbal balik (resiprokal) terhadap ratusan negara, termasuk Indonesia, dinilai memicu dampak luas di tengah situasi global yang kian bergejolak. Pada saat yang sama, persaingan strategis negara-negara besar juga semakin tajam, ditandai meningkatnya ketegangan di sejumlah titik panas dunia.

Sejumlah konflik yang disebut masih berlangsung antara lain perang Rusia–Ukraina, eskalasi konflik di Gaza dan Timur Tengah, serta memanasnya situasi di Laut Tiongkok Selatan. Rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok turut mewarnai dinamika tersebut, tidak hanya dalam persaingan militer dan teknologi, tetapi juga dalam perang dagang dan tarif yang memengaruhi rantai pasok global serta perdagangan internasional.

Dalam tren yang lebih luas, dunia disebut menghadapi kemunduran multilateralisme dan meningkatnya proteksionisme ekonomi. Fragmentasi geopolitik, disrupsi digital, serta ancaman transnasional seperti perubahan iklim dan ancaman siber menambah kompleksitas tantangan global, yang pada akhirnya meningkatkan ketidakpastian dan mempersulit upaya menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Di tengah perubahan cepat tersebut, kawasan Indo-Pasifik dipandang berada pada posisi sentral sebagai episentrum pertumbuhan ekonomi, inovasi teknologi, dan dinamika strategis. Namun, kawasan ini juga menghadapi dilema yang semakin kompleks, mulai dari menjaga kedaulatan nasional tanpa mengorbankan kerja sama regional, membangun ketahanan ekonomi di tengah tekanan proteksionisme, hingga membentuk arsitektur kawasan yang dapat mencegah eskalasi konflik.

Merespons perkembangan itu, The Yudhoyono Institute akan menggelar The Yudhoyono Institute Panel Discussion sebagai forum untuk membahas berbagai dilema dan merumuskan rekomendasi serta pandangan strategis yang dapat menjadi referensi bagi pembuat kebijakan dan pemimpin di kawasan Indo-Pasifik maupun dunia.

Acara bertema “Dinamika dan Perkembangan Dunia Terkini: Geopolitik, Keamanan dan Ekonomi Global” dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 13 April 2025, pukul 09.00–16.00 WIB di Grand Sahid Jaya, Jakarta.

Diskusi panel ini ditargetkan menganalisis tantangan geopolitik dan kerja sama multilateral beserta implikasinya terhadap perdamaian dan keamanan global. Selain itu, forum ini juga akan mengkaji dinamika keamanan regional dan respons strategis di Indo-Pasifik, serta membahas dampak ketidakpastian ekonomi global, ketegangan perdagangan, dan tarif perdagangan AS terhadap pembangunan kawasan. Penyelenggara juga menyebut agenda ini mendorong dialog lintas sektor dan pemikiran berbasis kebijakan untuk memperkuat pengambilan keputusan strategis di tingkat nasional, regional, dan global.

Acara akan dibuka oleh Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute, Agus Harimurti Yudhoyono. Sesi pertama mengangkat tema “Ekonomi Global dan Masa Depan Kawasan” dengan topik “Membangun Ketahanan: Ekonomi Kawasan dalam Dunia yang Terfragmentasi”. Pembicara yang dijadwalkan hadir yakni Chairul Tanjung (Chairman CT Corp), Mari Elka Pangestu (Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional), M. Chatib Basri (Menteri Keuangan ke-28), serta Hermanto Siregar (ekonom dan akademisi), dengan moderator Raden Pardede.

Sesi kedua membahas “Pergeseran Geopolitik dan Keamanan Regional” dengan topik “Tata Dunia yang Berubah: Persaingan Kekuatan dan Masa Depan Stabilitas Regional dan Dunia”. Sesi ini menghadirkan H.E. Arrmanatha Christiawan Nasir (Wakil Menteri Luar Negeri), Dino Patti Djalal (Wakil Menteri Luar Negeri ke-5), Rizal Sukma (Senior Fellow, CSIS), serta Ossy Dermawan, M.Sc (Wakil Menteri ATR/BPN). Diskusi dimoderatori oleh Ahmad Khoirul Umam dan akan ditutup oleh Chairman The Yudhoyono Institute, Prof. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono.