Thailand dan Amerika Serikat mempertahankan salah satu aliansi keamanan paling lama dan bernilai strategis di kawasan Indo-Pasifik, yang telah terjalin selama hampir tiga perempat abad. Kerja sama ini berakar pada kepercayaan dan terus berkembang mengikuti perubahan dinamika keamanan regional maupun global.
Landasan hubungan pertahanan kedua negara dikodifikasikan melalui Pakta Manila 1954 atau Perjanjian Pertahanan Kolektif Asia Tenggara. Komitmen tersebut kemudian diperkuat lewat Komunike bilateral Thanat–Rusk pada 1962 yang menegaskan kembali dukungan Amerika Serikat. Sejak itu, kerja sama pertahanan Thailand-AS berkembang menjadi kemitraan yang dinamis.
FORUM, yang akan merayakan ulang tahun ke-50 pada 2025, turut mencatat komitmen bersama kedua negara terhadap stabilitas kawasan. Dalam perkembangannya, aliansi Thailand-AS dibangun di atas tiga pilar utama, yakni komitmen pertahanan timbal balik, interoperabilitas, serta visi bersama untuk Indo-Pasifik yang aman, bebas, dan makmur.
Kemitraan tersebut berulang kali ditunjukkan melalui kerja sama operasional yang mencakup berbagai bidang, mulai dari kontraterorisme, respons kemanusiaan, hingga kesiapan pasukan gabungan. Salah satu capaian paling menonjol adalah latihan tahunan Cobra Gold yang pertama kali digelar pada 1982.
Latihan yang semula berupa pelatihan amfibi bilateral itu berkembang menjadi salah satu latihan militer multinasional terbesar di dunia. Panglima Angkatan Bersenjata Thailand Jenderal Songwit Noonpackdee, dalam iterasi 2024, menyatakan ruang lingkup operasi militer telah diperluas untuk menghadapi spektrum ancaman di berbagai ranah dengan tujuan mendorong kolaborasi demi stabilitas regional.
Cobra Gold melibatkan lusinan negara dan ribuan prajurit, dengan rangkaian kegiatan seperti latihan penembakan menggunakan amunisi aktif, skenario pertahanan siber, proyek bantuan sipil kemanusiaan, serta simulasi pos komando yang kompleks. Latihan ini juga menjadi wadah integrasi kemampuan dengan mitra lain, termasuk Indonesia, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura, sekaligus memperkuat peran Thailand dan AS dalam membentuk arsitektur keamanan kawasan.
Duta Besar AS untuk Thailand Robert F. Godec, dalam upacara pembukaan Cobra Gold 2025, menyebut latihan tersebut menegaskan kemitraan keamanan abadi kedua negara dan menjadi pilar komitmen terhadap kawasan. Sementara itu, Komandan Jenderal Angkatan Darat AS di Pasifik Jenderal Ronald P. Clark mengatakan kedua pihak memiliki sasaran yang sama, yakni mencegah perang dengan tetap siap bersama.
Setelah serangan teroris September 2001 di Amerika Serikat, kerja sama pertahanan kedua negara meluas ke kontraterorisme dan keamanan maritim. Pelatihan gabungan pasukan operasi khusus memperkuat kapasitas Thailand dalam merespons ancaman teroris di provinsi selatan serta berkontribusi pada interdiksi maritim multinasional. Thailand dan AS juga berkolaborasi melalui Inisiatif Keamanan Proliferasi yang diluncurkan pada 2003 untuk menghentikan perdagangan senjata pemusnah massal, serta melakukan patroli rutin guna menjaga jalur pelayaran vital di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan.
Thailand juga disebut memainkan peran penting dalam operasi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk di Darfur, Sudan Selatan, dan Timor-Leste, yang dinilai menggarisbawahi relevansi global aliansi tersebut.
Dalam respons bencana, kerja sama kedua negara terlihat saat tsunami Samudra Hindia pada 2004. Pasukan AS dikerahkan ke Lapangan Udara U-Tapao Angkatan Laut Thailand, yang kemudian menjadi pusat tanggap bencana multinasional untuk menyalurkan makanan, air, dan bantuan medis ke negara-negara terdampak dari Indonesia hingga Sri Lanka. Pola kerja sama serupa juga terjadi ketika banjir melanda Thailand pada 2011, saat personel militer AS bekerja sama dengan otoritas setempat menyediakan dukungan teknis, kemampuan pemurnian air, serta pengintaian udara untuk mitigasi bencana.
Dalam beberapa dekade terakhir, kedua negara meningkatkan kerja sama menghadapi ancaman baru seperti intrusi siber, keamanan ruang angkasa, pandemi, dan ketidakstabilan sumber daya. Mereka juga disebut membantu membangun kapasitas keamanan di kawasan Sungai Mekong, termasuk memimpin pelatihan di Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam untuk meningkatkan kesadaran ranah maritim, koordinasi penegakan hukum, serta respons kemanusiaan guna memperkuat stabilitas kawasan dan menangkal pemaksaan.
Sejumlah inisiatif turut menjadi kerangka penguatan aliansi, antara lain Dialog Strategis AS-Thailand dan Pernyataan Visi Gabungan untuk Aliansi Pertahanan Thailand-AS yang ditandatangani pada 2020. Dokumen itu menguraikan peta jalan integrasi teknologi generasi berikutnya, perluasan kesadaran ranah, serta peningkatan sistem komando dan kontrol gabungan. Komunike Aliansi dan Kemitraan Strategis AS-Thailand yang ditandatangani pada 2022 juga disebut semakin memperkokoh kerja sama.
Secara keseluruhan, aliansi Thailand-AS digambarkan sebagai kerangka untuk tindakan gabungan dalam masa damai, krisis, maupun konflik. Dari kepemimpinan latihan kerja sama, respons kemanusiaan, hingga interdiksi maritim, kemitraan pertahanan kedua negara dipandang tetap menjadi kekuatan penstabil dan pendaya guna strategis di kawasan.

