Lockheed Martin memperkirakan laba dan pendapatan pada 2026 akan melampaui ekspektasi pasar, ditopang permintaan yang terus menguat terhadap jet tempur dan sistem persenjataan. Prospek tersebut mendorong saham kontraktor pertahanan asal Amerika Serikat itu naik sekitar 7% pada perdagangan awal di New York, Kamis (29/1/2026).
Lonjakan belanja militer global, yang dipicu konflik berkepanjangan di Timur Tengah serta perang Rusia–Ukraina, menjadi katalis bagi perusahaan pertahanan seperti Lockheed Martin. Ketegangan geopolitik juga disebut meningkat menyusul operasi militer Amerika Serikat yang melibatkan penangkapan presiden Venezuela.
CEO Lockheed Martin Jim Taiclet mengatakan sejumlah produk utama perusahaan digunakan dalam operasi tersebut, termasuk jet tempur F-35 dan F-22, drone siluman RQ-170, serta helikopter Black Hawk yang diproduksi unit Sikorsky. Pernyataan itu disampaikan Taiclet dalam konferensi pers setelah pengumuman kinerja keuangan perusahaan.
Di sisi kontrak, Lockheed Martin pada awal bulan ini mengamankan kesepakatan tujuh tahun dengan Departemen Pertahanan AS untuk meningkatkan produksi rudal pencegat Patriot PAC-3 menjadi 2.000 unit per tahun, dari sekitar 600 unit sebelumnya. Perusahaan juga menyepakati peningkatan kapasitas produksi sistem pertahanan udara Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) menjadi 400 unit per tahun, dari 96 unit.
Manajemen menyatakan, apabila target produksi dan profitabilitas pada kontrak Patriot dan THAAD terlampaui, sebagian keuntungan tambahan akan dibagikan kembali kepada pemerintah AS, antara lain melalui peningkatan pasokan suku cadang atau investasi fasilitas produksi. Namun, kontrak tersebut juga memuat mekanisme perlindungan jika dukungan anggaran dari Kongres tidak sesuai rencana.
Pada kuartal keempat, segmen rudal dan sistem kendali tembak—yang mencakup sistem Patriot—mencatat pertumbuhan penjualan tercepat, naik 17,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, penjualan segmen aeronautika yang memproduksi jet F-35 dan menjadi penyumbang pendapatan terbesar meningkat 6,4%.
Lockheed Martin juga melaporkan pengiriman rekor 191 unit jet tempur F-35 sepanjang 2025, naik dari 110 unit pada 2024. Program F-35 merupakan proyek akuisisi terbesar Pentagon, dengan estimasi biaya seumur hidup melebihi US$2 triliun, mencakup pembelian, operasional, dan pemeliharaan.
Meski kinerja menguat, industri pertahanan AS menghadapi ketidakpastian kebijakan. Presiden Donald Trump pada Januari menandatangani perintah eksekutif yang mengaitkan pembagian dividen, pembelian kembali saham, dan kompensasi eksekutif dengan jadwal pengiriman persenjataan, yang berpotensi memengaruhi strategi pengembalian modal perusahaan pertahanan.
Untuk 2025, Lockheed Martin membayarkan dividen US$3,13 miliar, naik dari US$3,06 miliar pada tahun sebelumnya. Ke depan, perusahaan memproyeksikan pendapatan 2026 di kisaran US$77,5 miliar hingga US$80 miliar, di atas estimasi analis sebesar US$77,83 miliar. Laba per saham diperkirakan mencapai US$29,35 hingga US$30,25, juga melampaui perkiraan pasar.
Pada kuartal terakhir, Lockheed Martin membukukan pendapatan US$20,32 miliar, meningkat dari US$18,62 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

