Negara-negara berpendapatan rendah dan menengah disebut menjadi pihak yang paling terdampak dalam krisis energi global yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Perang tersebut menghentikan hampir seluruh ekspor minyak melalui Selat Hormuz, jalur sempit yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Gangguan di Selat Hormuz mengguncang pasar energi global, memicu lonjakan harga dan menambah tekanan bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi. Negara-negara miskin di Asia dan Afrika harus bersaing dengan negara-negara kaya di Eropa dan Asia, serta pembeli besar seperti India dan China, untuk mendapatkan pasokan gas yang kian terbatas.
Persaingan tersebut mendorong harga semakin tinggi dan memperburuk tekanan ekonomi. Sejumlah negara yang sangat bergantung pada impor energi, seperti Benin dan Zambia di Afrika, serta Bangladesh dan Thailand di Asia, dinilai berpotensi mengalami guncangan paling besar.
Kenaikan harga bahan bakar berdampak langsung pada biaya transportasi dan harga pangan. Di sisi lain, cadangan devisa yang terbatas membuat negara-negara tersebut kesulitan membayar impor apabila harga energi bertahan tinggi.
Afrika dinilai paling rentan karena banyak negara di kawasan itu masih mengandalkan minyak impor untuk menjalankan transportasi dan rantai pasok. Kondisi ini mendorong kebutuhan strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi.
“Masuk akal secara strategis bagi negara-negara Afrika untuk membangun ketahanan energi jangka panjang melalui investasi pada energi yang lebih bersih,” kata Kennedy Mbeva dari University of Cambridge, Jumat (20/3/2026).
Namun, tidak semua negara memilih jalur energi terbarukan. Afrika Selatan, misalnya, mempertimbangkan pembangunan terminal impor LNG dan pembangkit listrik berbahan bakar gas baru. Sementara itu, Ethiopia mempercepat transisi energi bersih, termasuk melarang kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel sejak 2024 untuk mendorong penggunaan kendaraan listrik.
Analis dari lembaga think tank Ethiopia, Hanan Hassen, menilai tantangan utama bukan hanya bertahan dari krisis, tetapi memastikan gangguan energi tidak menggagalkan jalur pembangunan negara. “Tantangan sesungguhnya adalah memastikan krisis ini tidak mengganggu arah pembangunan,” ujarnya.

