Negara-negara Kepulauan Pasifik yang selama ini bergantung pada bahan bakar minyak (BBM) impor mulai merasakan dampak konflik di Timur Tengah, termasuk perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Situasi geopolitik tersebut memicu kekhawatiran baru bagi kawasan yang terisolasi secara geografis dan tidak memiliki produksi minyak domestik maupun kapasitas penyimpanan besar untuk meredam guncangan pasar.
Laporan mendalam yang dikutip dari editor rubrik RNZ Pasifik, Christina Persico, menyebut negara-negara Pasifik menjadi sangat rentan ketika terjadi gejolak harga dan gangguan rantai pasok global. Para peneliti energi bersih menilai krisis ini kembali menegaskan pentingnya percepatan transisi energi terbarukan di kawasan.
Laporan terbaru Zero Carbon Analytics mencatat sekitar 80 persen energi negara-negara Kepulauan Pasifik masih bergantung pada produk minyak impor. Sejumlah negara—Kepulauan Cook, Fiji, Nauru, Kepulauan Marshall, Samoa, Tuvalu, dan Vanuatu—telah berjanji mencapai 100 persen listrik terbarukan pada 2035. Sementara itu, Tonga dan Kepulauan Solomon menargetkan 70 persen listrik terbarukan pada 2030 dan beralih sepenuhnya ke pembangkit listrik terbarukan pada 2050.
Menurut Zero Carbon Analytics, pencapaian target tersebut dan pengurangan ketergantungan pada energi impor dapat memberi perlindungan signifikan terhadap volatilitas pasar bahan bakar fosil internasional. Namun, laporan itu juga menekankan bahwa kemajuan transisi di sebagian besar wilayah masih berjalan lambat.
Di tingkat global, energi terbarukan disebut mencakup hampir 50 persen kapasitas listrik dunia pada tahun lalu, seiring rekor peningkatan instalasi tenaga surya, berdasarkan data Badan Energi Terbarukan Internasional yang dibagikan secara eksklusif kepada Reuters.
Kenaikan harga dan respons di sejumlah negara
Di Fiji, sebagian penumpang dan pengendara dilaporkan mengantre di SPBU pada Selasa malam (31/3/2026) setelah otoritas mengonfirmasi kenaikan harga BBM secara nasional yang dikaitkan dengan perang di Timur Tengah. Komisi Persaingan dan Perlindungan Konsumen Fiji (FCCC) merilis revisi harga BBM untuk April: harga bensin tanpa timbal dan premix naik hampir 50 sen (NZ$0,38), sedangkan solar naik hampir 80 sen (NZ$0,61). Kenaikan ini terjadi sekitar dua minggu setelah Perdana Menteri Sitiveni Rabuka menyampaikan keyakinan kepada publik bahwa biaya BBM tidak akan naik.
Di Samoa, harga BBM untuk April menunjukkan kenaikan tipis, tetapi pemerintah menyatakan kenaikan tersebut bukan dampak konflik Timur Tengah. Pemerintah menjelaskan harga ritel April ditetapkan berdasarkan kargo yang diangkut pada Februari dari Singapura dan dibongkar di Apia pada 25 Maret, sehingga mencerminkan kondisi pasar sebelum konflik Iran/AS/Israel pecah. Pada April, harga bensin naik dari $2,82 menjadi $2,85, solar dari $2,99 menjadi $3,09, dan minyak tanah dari $2,63 menjadi $2,70. Muatan berikutnya dijadwalkan dimuat pada akhir Maret atau awal April untuk pengiriman awal Mei.
Pemerintah Samoa juga menyampaikan pada 26 Maret bahwa setelah penurunan pasokan pada 24 Maret, stok BBM nasional diperkirakan tetap memadai: bensin dan solar diproyeksikan cukup untuk sekitar 50–60 hari, sementara bahan bakar jet/minyak tanah hingga 80 hari.
Di Kepulauan Mariana Utara (CNMI), tingginya harga BBM mendorong Gubernur David Apatang mengarahkan seluruh departemen, kantor, dan lembaga Cabang Eksekutif menerapkan langkah penghematan yang telah direvisi mulai pekan lalu. Perwakilan CNMI di Kongres AS, Kimberlyn King-Hinds, juga mengirim surat kepada Menteri Energi AS Chris Wright, menyatakan harga BBM telah naik ke tingkat yang tidak berkelanjutan di tiga pulau berpenghuni di wilayah tersebut.
Di Vanuatu, Otoritas Pengatur Utilitas menyebut pasokan BBM negara itu bersumber dari Singapura, dengan harga yang banyak dipengaruhi minyak mentah Dubai. Otoritas memperingatkan pelanggan listrik di Port Vila dan Luganville mengenai potensi kenaikan tarif pada April, masing-masing sebesar 12,07 persen di Vila dan 5,31 persen di Luganville. Perbedaan itu dijelaskan terkait sumber pembangkitan: Port Vila lebih bergantung pada diesel, sedangkan Luganville mendapat dukungan energi hidro yang lebih stabil. Tarif listrik di kedua kota diperkirakan turun 1 persen pada Mei.
Di Palau, Island Times melaporkan Presiden Surangel Whipps Jr mendukung pemulihan subsidi listrik rumah tangga yang sebelumnya dipotong dari anggaran tahun fiskal 2026, dengan alasan krisis BBM global yang berlanjut dan dampaknya pada biaya energi lokal.
Di Nauru, Presiden David Adeang menyerukan ketenangan di tengah kekhawatiran terkait BBM akibat perang di Timur Tengah. Pemerintah menyatakan telah menerapkan langkah yang diperlukan untuk mengamankan cadangan BBM yang cukup. Dalam pernyataan di parlemen pekan lalu, Adeang meminta masyarakat bertindak bertanggung jawab serta menggunakan BBM dan listrik secara bijak. Pemerintah juga menyebut pemasok BBM, Vital Energy, memantau pasar internasional dan menilai gangguan berkepanjangan dapat memengaruhi rantai pasok, namun saat ini tidak ada masalah pasokan produk minyak bumi ke Nauru.
Di Kepulauan Marshall, pemerintah mengumumkan keadaan darurat ekonomi selama 90 hari. Pemerintah menyatakan dampak konflik yang mendorong kenaikan harga BBM pada akhirnya memengaruhi komoditas impor lainnya.
Di Tonga, pemerintah meyakinkan publik bahwa situasi BBM masih stabil untuk saat ini. Pada pembaruan 27 Maret, Perdana Menteri Lord Fakafanua mengatakan Tonga masih memiliki cadangan diesel yang cukup untuk menjaga pasokan listrik sekitar tiga bulan. Namun, ia memperingatkan gangguan global yang berkepanjangan dapat menimbulkan tantangan serius pada pertengahan tahun. Ia menyebut jika situasi berlanjut hingga April, Mei, Juni, dan Juli, Tonga dapat memasuki kondisi kritis dan berbahaya. Sebelumnya, perdana menteri juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian panik.
Di Kepulauan Cook, per 30 Maret stok BBM dilaporkan turun hingga cukup untuk 20 hari, kurang dari setengah kapasitas penuh. Para pemasok lokal menilai stok saat ini dapat bertahan hingga pengiriman berikutnya pada awal April, asalkan tidak terjadi pembelian panik. Namun, mereka memperingatkan kenaikan harga yang diperkirakan segera terjadi.
Pemerintah Kepulauan Solomon menyatakan pekan lalu bahwa pasokan BBM di dalam negeri berada pada kisaran 40–50 hari. Jika memperhitungkan pengiriman melalui laut, total pasokan yang tersedia diperkirakan sekitar 50–90 hari.
Pemerintah Papua Nugini, menurut laporan ABC, menyatakan memiliki cukup BBM untuk memenuhi permintaan nasional selama tiga bulan ke depan.
Di Negara Federasi Mikronesia (FSM), pemerintah pada 31 Maret menyatakan pasokan BBM tetap aman “pada tahap awal ini” dan saat ini tidak ada masalah pasokan produk minyak bumi. Pemerintah juga mengingatkan adanya laporan dari berbagai wilayah mengenai kenaikan harga dan kelangkaan minyak, sehingga pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat diimbau tidak melakukan pembelian panik atau penimbunan. Pemerintah menyatakan produk yang tersedia mencukupi berdasarkan praktik pembelian dan permintaan di masa lalu.
Sementara itu, Perdana Menteri Niue pada pertengahan Maret menyebut tidak ada risiko kekurangan BBM dalam waktu dekat. Namun, pemerintah mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak global yang berkepanjangan atau gangguan jadwal pengiriman dapat memengaruhi Niue.
Krisis ini kembali menempatkan isu ketahanan energi di Kepulauan Pasifik dalam sorotan, terutama terkait ketergantungan tinggi pada impor BBM dan lambatnya kemajuan transisi menuju energi terbarukan di sejumlah negara.

