BERITA TERKINI
Peran Raja Fahd dalam Diplomasi dan Konflik Timur Tengah

Peran Raja Fahd dalam Diplomasi dan Konflik Timur Tengah

Raja Fahd bin Abdulaziz memimpin Arab Saudi setelah menggantikan Raja Khalid. Pada masa pemerintahannya, ia dikenal melahirkan sejumlah terobosan di bidang politik dan diplomasi, termasuk menjalin kerja sama diplomatik dengan Amerika Serikat. Di saat yang sama, Arab Saudi di bawah Fahd tetap menyatakan dukungan penuh kepada Palestina dan memusuhi Israel, yang merupakan sekutu utama Washington.

Diplomasi di tengah konflik kawasan

Pada periode kepemimpinan Fahd, konflik Arab-Israel menjadi isu yang mendominasi diplomasi Arab Saudi. Fahd menempatkan Saudi sejalan dengan pendekatan komprehensif pemerintahan Presiden AS Jimmy Carter, yang menekankan pentingnya konsensus menyeluruh ketimbang negosiasi antarnegara secara terpisah.

Namun, rangkaian peristiwa pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an menguji batas pengaruh Saudi. Dalam rentang 1978–1980, pendekatan konsensus terguncang oleh kesepakatan Camp David yang diprakarsai Anwar Sadat. Pada saat yang hampir bersamaan, Shah Iran digulingkan dan digantikan pemerintahan teokrasi Syiah di bawah Ayatollah Khomeini. Uni Soviet juga menginvasi Afghanistan, sementara Saddam Hussein—sekutu Moskow dan pemimpin Irak—menginvasi Iran.

Krisis keamanan dan respons pemerintah

Tantangan paling berat bagi kerajaan terjadi pada 20 November 1979, ketika kelompok lawan Saudi merebut Masjidil Haram di Mekkah. Setelah pertempuran berdarah dan upaya yang dinilai sia-sia untuk mengamankan tempat suci, Fahd akhirnya memanggil Pasukan Khusus Prancis untuk memulihkan kembali kompleks tersebut.

Merespons tekanan yang datang bertubi-tubi, Fahd mengambil dua langkah utama. Pertama, ia menolak menghentikan program pembangunan dan meningkatkan belanja militer. Anggaran tahunan “minimum” Arab Saudi disebut meningkat hingga sekitar US$55 miliar. Kedua, ia memperkuat peran Saudi sebagai “swing oil producer”, yakni negara yang siap menggunakan kapasitas cadangan produksi minyak untuk mencegah harga yang berpotensi merusak ekonomi negara konsumen minyak utama, terutama Amerika Serikat.

Minyak, pengadaan militer, dan hubungan dengan Washington

Kebijakan minyak dan pengadaan militer memperkuat posisi Saudi di mata sekutu-sekutunya. Salah satu contoh yang menonjol adalah pembelian pesawat AWACS oleh Arab Saudi pada 1981, yang terjadi meski menghadapi oposisi pro-Israel yang kuat di Kongres AS.

Pembangunan dan pertumbuhan ekonomi

Di dalam negeri, Fahd membelanjakan pendapatan besar yang diperoleh dari lonjakan harga minyak. Ia meluncurkan pembangunan infrastruktur skala besar yang mengubah kawasan perkotaan menjadi area konstruksi luas. Pada era ini, pertumbuhan sosio-ekonomi juga disebut menguatkan sektor ekonomi dan politik di kawasan Arab, termasuk mendorong pertumbuhan usaha swasta dan investasi.

Salah satu capaian penting yang kerap dikaitkan dengan pemerintahannya adalah proyek-proyek untuk memperluas fasilitas kerajaan guna menampung jutaan jemaah haji setiap tahun, termasuk perluasan Masjid Al Haram dan Masjid Nabawi.

Diplomasi kemanusiaan dan krisis regional

Selain isu Arab-Israel, Arab Saudi pada masa Fahd juga terlibat dalam aksi diplomasi kemanusiaan dengan menangani berbagai krisis regional dan global. Disebutkan beberapa peristiwa yang menjadi perhatian, seperti invasi Irak ke Kuwait, Perang Sipil Lebanon, serta bantuan kemanusiaan ke negara-negara yang terdampak bencana alam.

Tantangan keagamaan

Fahd juga menghadapi tekanan di ranah agama. Terdapat keluhan internal mengenai perilaku kerajaan yang dianggap lemah. Pada saat yang sama, peziarah dari kelompok Iran pendukung Khomeini disebut mengganggu pelaksanaan ibadah haji melalui demonstrasi politik dan kekerasan, yang ditujukan untuk mempermalukan para wali Wahabi.

Kesehatan memburuk dan peralihan kekuasaan de facto

Pada 29 November 1995, Raja Fahd jatuh sakit. Setahun kemudian, kondisinya dinilai tidak akan pulih seperti semula. Putra Mahkota Abdullah kemudian menjadi penguasa pengganti secara de facto, meski pemerintahan Fahd secara formal berlanjut hampir satu dekade setelahnya.

Dalam periode tersebut, media kerajaan disebut mempertahankan kesan bahwa rutinitas Raja Fahd tetap berjalan. Sesekali ia muncul untuk menyambut tamu penting dan berdiskusi singkat, meski perubahan fisiknya terlihat jelas.

Gaya kepemimpinan dan sorotan anggaran

Raja Fahd digambarkan sebagai seorang royalis yang tidak membiarkan pemerintah mengganggu jadwalnya. Ia disebut menutup keterlambatan dengan periode kerja maraton yang tiba-tiba, di tengah kekhawatiran birokrasi Saudi yang melambat. Dalam catatan yang sama, disebut pula adanya pembangunan replika Gedung Putih yang sangat mewah namun tidak pernah ditempati, yang dipandang sebagai salah satu bukti bahwa Fahd tidak berhati-hati dalam penggunaan dana dan program pembangunannya.