Gangguan pengiriman di Selat Hormuz akibat perang di Iran memicu pengetatan pasokan aluminium global dan mendorong kenaikan harga. Penutupan jalur pelayaran tersebut menghentikan ekspor aluminium dari kawasan Teluk, sehingga lebih dari lima juta ton aluminium dari produsen besar tidak dapat dikirim ke pasar internasional.
Dampak gangguan ini terlihat pada lonjakan harga patokan aluminium yang mencapai 3.385 dolar AS atau sekitar Rp57,32 juta per metrik ton. Terhambatnya akses ke fasilitas produksi utama seperti Qatalum di Qatar dan Alba di Bahrain membuat pasokan menyusut tajam, sementara industri otomotif dan konstruksi di Eropa serta Amerika Utara harus bersaing untuk mendapatkan stok yang tersisa. Situasi itu terjadi bersamaan dengan meningkatnya biaya energi global.
Gangguan pelayaran juga memukul rantai pasok bahan baku. Impor bauksit dan alumina, yang dibutuhkan smelter di Timur Tengah untuk mempertahankan operasi, ikut terhenti. Pelaku pasar kini mencermati pergerakan harga, dengan perkiraan harga aluminium global berpotensi menembus 4.000 dolar AS atau sekitar Rp67,73 juta per metrik ton apabila konflik bersenjata berlanjut tanpa tanda mereda.
Di tengah kelangkaan di pasar internasional, kondisi berbeda terjadi di China. Persediaan aluminium primer di negara itu dilaporkan membengkak hingga lebih dari 1,3 juta ton. Penumpukan terjadi karena produsen lokal mengurangi aktivitas pembelian secara drastis, menilai harga sudah terlalu tinggi sementara permintaan domestik masih lemah.
“Pabrik-pabrik di China kini hanya membeli aluminium jika ada kebutuhan yang sangat mendesak. Minat beli mereka merosot tajam setelah harga melonjak hingga mencapai titik tertinggi dalam empat tahun terakhir,” ujar analis Mysteel Global, Huang Yuyao, dikutip dari The Edge Singapore.
Penumpukan stok tersebut disebut menjadi sinyal peringatan bagi kesehatan ekonomi China. Negara itu menghadapi tekanan dari mahalnya biaya energi dan perlambatan sektor properti, yang selama ini menjadi salah satu penyerap utama logam industri. Meski China memiliki batas kapasitas produksi tahunan yang besar, mencapai 45 juta ton, kelebihan pasokan di gudang-gudang utama mencerminkan ketidakseimbangan antara ketersediaan barang dan daya beli industri pengguna akhir.
Melimpahnya stok di China sekaligus membuka peluang peningkatan ekspor ke pasar global. Ekspor dipandang dapat mengurangi kelebihan persediaan, sekaligus memanfaatkan selisih harga antara bursa Shanghai dan London yang dinilai menguntungkan.
Goldman Sachs memperkirakan, berhentinya produksi di Timur Tengah selama satu bulan saja dapat mendorong harga aluminium naik hingga 3.600 dolar AS atau sekitar Rp60,96 juta per metrik ton. Kondisi ini dinilai memberi insentif ekonomi bagi perusahaan-perusahaan China untuk menjual produk mereka ke luar negeri ketika pasokan global sedang ketat.
Namun, rencana ekspor dari China masih dibayangi sejumlah risiko. Selain kemungkinan meluasnya gangguan pengiriman, terdapat potensi munculnya hambatan perdagangan baru dari negara-negara Barat yang khawatir pasar mereka dibanjiri produk logam berharga lebih murah.

