BERITA TERKINI
Pakar: Eskalasi Konflik AS-Israel dan Iran Berisiko Ganggu Energi dan Perdagangan Global

Pakar: Eskalasi Konflik AS-Israel dan Iran Berisiko Ganggu Energi dan Perdagangan Global

Pakar Hukum Internasional Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Satria Unggul Wicaksana, menilai meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi melumpuhkan perdagangan global serta memicu krisis ekonomi dan perdagangan dunia.

Menurut Satria, dampak konflik tidak berhenti pada kemungkinan perang, tetapi juga dapat cepat merembet ke sektor energi. Ia menyebut dunia berpotensi menghadapi krisis energi yang cukup parah apabila pasokan energi dari Timur Tengah tersendat karena hambatan jalur pelayaran, termasuk jika Selat Hormuz ditutup.

“Di mana Selat Hormuz itu berada di bawah yuridiksi laut dari Iran, dan tentu Iran tidak akan tinggal diam dan dia akan melakukan blokade yang demikian signifikan,” kata Satria kepada suarasurabaya.net, Minggu (1/3/2026).

Ia juga menyinggung Terusan Suez di Mesir sebagai jalur strategis lain. Menurutnya, gangguan pada titik-titik vital tersebut dapat berdampak besar pada arus perdagangan dunia. Satria menyebut situasi ini berpotensi melumpuhkan lebih dari 30 persen jalur perdagangan global.

Satria mengingatkan, risiko yang muncul tidak hanya berupa eskalasi perang terbuka, melainkan juga ancaman terhadap pos-pos vital di jalur perdagangan internasional. Ia menilai, jika serangan terhadap titik-titik strategis itu terjadi, dampaknya dapat memicu krisis ekonomi dan perdagangan yang lebih masif.

Dalam pandangannya, situasi tidak aman tidak hanya terbatas di kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi meluas secara global. Karena itu, ia menekankan pentingnya negara-negara lain untuk tidak terlibat dalam konflik dan tidak menjadikan Iran sebagai arena perang.

Satria mencontohkan pernyataan Perdana Menteri Inggris Keir Stremer yang menyatakan akan turun untuk membantu menyelamatkan warga Iran dan lainnya. Ia menilai hal tersebut sebagai tanda kemungkinan meningkatnya keterlibatan negara-negara kuat dan risiko Iran dijadikan “battleground”, berkaca pada konflik bersenjata sebelumnya seperti di Suriah. Menurutnya, wilayah yang dijadikan arena perang dapat memperparah situasi dan meningkatkan korban warga sipil.

Ia juga menilai peluang terjadinya konflik yang lebih luas terbuka, mengingat Iran disebut tidak berdiri sendiri dan memiliki aliansi dengan negara-negara lain seperti Rusia, Tiongkok, Korea, serta negara-negara lain yang melawan liberalisme Amerika Serikat. Namun, Satria juga menyebut kemungkinan Iran bergerak sendiri melawan serangan Amerika Serikat dan Israel, yang dapat memunculkan konflik lain.

Dengan kondisi tersebut, Satria menekankan perlunya langkah lebih kuat dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), khususnya melalui Dewan Keamanan, untuk mengupayakan penghentian konflik bersenjata. Ia mendorong agar upaya tersebut tidak hanya berupa desakan, tetapi juga tekanan yang lebih masif.

Ia menambahkan, para pemimpin dunia perlu menahan diri karena dampak perang akan dirasakan bukan hanya oleh negara yang terlibat langsung di arena pertempuran, tetapi juga negara-negara lain.

Satria berharap upaya perdamaian dapat diwujudkan agar eskalasi tidak meningkat dan tidak berdampak luas pada berbagai negara. “Tentu kita tidak ingin eskalasi perang ini semakin naik dan itu merugikan masyarakat dunia,” ujarnya.