NANPING — Para menteri luar negeri negara-negara ASEAN melanjutkan diplomasi ulang-alik (shuttle diplomacy) ke China untuk membahas perkembangan krisis di Myanmar, di tengah situasi yang disebut kian memburuk dan meningkatnya kekerasan terhadap pengunjuk rasa.
Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan bertemu Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Fujian pada Rabu (31/3/2021). Dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri Singapura, keduanya membahas sejumlah isu, termasuk situasi di Myanmar.
Menurut pernyataan tersebut, Balakrishnan dan Wang menyoroti “situasi tragis di Myanmar” serta menyampaikan keprihatinan atas peningkatan kekerasan dan penggunaan kekuatan mematikan oleh aparat Myanmar terhadap pengunjuk rasa. Keduanya juga mengimbau peredaan situasi, penghentian kekerasan, serta segera digelarnya dialog di antara semua pihak.
Sementara itu, dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri China, Wang menyebut Myanmar sebagai anggota ASEAN yang penting. Ia menyatakan senang melihat ASEAN mempertahankan prinsip tidak mencampuri urusan dalam negeri anggotanya, sembari terus berupaya mendorong stabilitas di Myanmar.
Rangkaian kunjungan Menlu ASEAN ke China
Diplomasi ulang-alik terkait Myanmar sebelumnya telah dilakukan Menteri Luar Negeri RI Retno L.P. Marsudi ke sejumlah negara ASEAN pada Februari. Istilah shuttle diplomacy merujuk pada upaya pihak ketiga menjadi mediator untuk mendamaikan pihak-pihak yang terlibat konflik yang tidak bersedia berunding langsung.
Pada Februari, Retno juga berkomunikasi dengan pejabat Myanmar U Wunna Maung Lwin—yang ditunjuk junta sebagai pejabat menteri luar negeri—serta Komite Perwakilan Pyidaungsu Hluttaw (CRPH) yang digagas anggota parlemen dari Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi. Namun, berbagai upaya diplomasi itu disebut belum membuahkan hasil.
Menjelang pertemuan Balakrishnan dan Wang, Kementerian Luar Negeri China mengumumkan bahwa Menlu RI Retno L.P. Marsudi, Menlu Malaysia Hishammuddin Hussein, dan Menlu Filipina Teodoro Locsin Jr juga akan berkunjung ke China secara terpisah pada periode 31 Maret–2 April.
Retno dijadwalkan bertemu Wang di Fujian pada Jumat. Delegasi Indonesia juga terdiri dari Menteri Perdagangan M. Lutfi dan Menteri BUMN Erick Thohir. Dalam delapan bulan terakhir, Retno dan Erick tercatat sudah dua kali melawat ke China.
Retno bertandang ke China setelah kunjungan ke Jepang, di mana ia juga membahas isu Myanmar.
Perubahan sikap China dan perdebatan soal sanksi
Pertemuan Wang dengan para menteri luar negeri ASEAN berlangsung setelah muncul perubahan sikap Beijing terkait Myanmar. Hingga Rabu (31/3) pagi, China disebut masih menahan diri dan tidak bersikap tegas. Namun pada Rabu siang, Wakil Tetap China untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Zhang Jun menyatakan China berharap melihat transisi demokrasi yang damai di Myanmar.
Meski demikian, Zhang menegaskan China tidak mendukung sanksi terhadap Myanmar dengan alasan sanksi hanya akan memperburuk keadaan.
Sejumlah negara mengambil langkah berbeda. Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mengumumkan sanksi tambahan untuk Myanmar dengan menjatuhkan sanksi kepada Myanmar Economic Corporation (MEC) atas dugaan keterlibatan dalam pelanggaran hak asasi manusia.
Menurut London, MEC menyediakan dana bagi militer Myanmar, Tatmadaw. Raab menyatakan sanksi terbaru Inggris menyasar salah satu sumber pendanaan militer.
Peran MEC dan MEHL dalam bisnis Myanmar
Bersama Myanma Economic Holdings Public Company Ltd (MEHL), MEC mengendalikan berbagai bisnis di Myanmar. Sejumlah penyelidikan berbagai pihak menyebut MEHL dan MEC mengendalikan perusahaan-perusahaan yang rutin menyalurkan dana untuk Tatmadaw dan para petingginya.
Berbagai pihak mendesak agar MEHL dan MEC, serta badan usaha dan individu yang terafiliasi dengan keduanya, dikenai sanksi berupa larangan bertransaksi.
Anak usaha MEHL antara lain pusat perbelanjaan Gandamar dan Ruby Mart di Yangon. Pada Kamis dini hari, sebagaimana dilaporkan media Myanmar Now, kedua pusat perbelanjaan itu terbakar. Warga mempertanyakan bagaimana kebakaran bisa terjadi di kawasan darurat militer ketika jam malam sedang berlangsung.
Sejak Maret 2021, Tatmadaw memberlakukan jam malam pukul 20.00 hingga 04.00. Selama jam malam, warga dilarang keluar rumah; pelanggar dapat ditangkap dan bahkan ditembak.
Ruby Mart dan Gandamar disebut sebagai anak usaha MEHL yang terkait dengan hajat hidup orang banyak. Dalam laporan tersebut, dana dari MEHL-MEC dan badan usaha yang terafiliasi dinilai memungkinkan Tatmadaw terus beroperasi, termasuk menggerakkan aparat dalam penindakan terhadap penentang kudeta.

