Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai diplomasi Presiden Prabowo Subianto di kancah internasional telah mempercepat penyelesaian sejumlah kesepakatan dagang strategis. Ia mengatakan, percepatan tersebut menjadi faktor penting dalam penyelesaian berbagai perjanjian dagang, termasuk dengan Amerika Serikat, yang diyakini dapat mendorong ekspor nasional.
“Pak Presiden Prabowo ini kan memang diplomasinya bagus ya, diplomasi di kancah internasional itu bagus. Jadi banyak perjanjian dagang ini cepat selesai, ya karena Beliau,” ujar Budi saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Budi menyebut diplomasi Presiden Prabowo turut membawa Indonesia memperoleh tarif timbal balik sebesar 19 persen dengan Amerika Serikat. Kesepakatan tersebut baru saja ditandatangani di Washington, DC, Amerika Serikat, Kamis (19/2) waktu setempat.
Selain kesepakatan dengan Amerika Serikat, Budi juga menyampaikan Indonesia telah merampungkan perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement, serta Indonesia-Eurasia Free Trade Agreement (FTA).
“I-EU CEPA cepat selesai akhirnya, setelah diplomasi Beliau bagus. I-Eurasia FTA, kemudian Indonesia-Kanada, dan yang terakhir ini, termasuk yang Amerika. Ini kan cepat dan hasilnya bagus sekali,” kata Budi.
Menurut Budi, penyelesaian perjanjian dagang dalam waktu lebih cepat membuka dua peluang besar bagi Indonesia, yakni menarik investasi asing langsung dan meningkatkan ekspor melalui perluasan akses pasar. Ia menambahkan, semakin banyak perjanjian dagang yang dimiliki Indonesia, pasar ekspor dinilai menjadi lebih luas dan kompetitif.
“Kalau misalnya mereka investasi dan mempunyai atau memproduksi barang-barang yang kompetitif ya, barang-barang manufaktur terutama, ekspor kita akan cepat meningkat,” imbuhnya.

