Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev menegaskan Rusia tidak mencari konflik global dan tidak memiliki kepentingan untuk memicu permusuhan berskala besar. Dalam sebuah wawancara, ia menolak anggapan bahwa Moskow secara aktif berupaya memulai konflik luas, seraya menyatakan Rusia “tidak gila” untuk menginginkan skenario tersebut.
Medvedev mengatakan Rusia telah berulang kali menyerukan kepada negara-negara Barat dan NATO agar mempertimbangkan kepentingan keamanan Rusia serta bersedia duduk di meja perundingan. Ia menyoroti isu perluasan NATO dan kemungkinan aksesi Ukraina sebagai pokok yang, menurutnya, perlu dibahas.
Dalam pernyataannya, Medvedev juga menegaskan bahwa Moskow tidak berniat melancarkan “operasi militer khusus” apa pun. Ia menambahkan Rusia, menurutnya, secara ketat mematuhi doktrin nuklir yang berlaku dan belum menghadapi ancaman yang akan memerlukan penggunaan senjata nuklir.
Medvedev kembali menyampaikan penolakan Rusia terhadap perluasan NATO ke arah timur dan rencana penerimaan Ukraina, dengan merujuk pada sengketa teritorial terkait Krimea. Ia menilai dorongan berkelanjutan dari negara-negara Barat terhadap rencana tersebut turut berkontribusi pada munculnya masalah serius dalam skala global.
Terkait kemungkinan penggunaan senjata nuklir, Medvedev menyatakan Rusia bertindak sesuai doktrin nuklirnya. Ia menyebut versi doktrin yang berlaku mulai 2024 mendefinisikan keadaan spesifik yang memungkinkan penggunaan senjata nuklir untuk menghadapi ancaman serius. Menurutnya, fakta bahwa Rusia tidak menggunakan senjata tersebut menunjukkan bahwa ancaman sebagaimana dimaksud doktrin itu belum terwujud.
Medvedev juga menanggapi kekhawatiran yang muncul di Amerika Serikat pada 2022 mengenai kemungkinan serangan nuklir Rusia terhadap Ukraina. Ia menyatakan skenario itu tidak mencerminkan realitas tindakan Rusia.
Ia menambahkan, dokumen terbaru “Prinsip-Prinsip Dasar Pencegahan Nuklir” mempertimbangkan perubahan karakter peperangan modern dan kemunculan senjata baru, termasuk drone, rudal, dan sistem pengiriman lainnya. Meski cakupan skenario dalam doktrin disebut telah diperluas, Medvedev menekankan hal itu tidak berarti Rusia akan otomatis menggunakan senjata nuklir dalam setiap situasi yang relevan. Ia menyatakan keputusan akhir tetap berada di tangan Panglima Tertinggi Rusia berdasarkan penilaian tingkat ancaman aktual terhadap negara tersebut.

