MOSKOW — Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev memperingatkan negara-negara Barat bahwa situasi global semakin berbahaya. Namun, ia menegaskan Rusia tidak menginginkan konflik global.
Pernyataan itu disampaikan Medvedev dalam wawancara di kediamannya di luar Moskow bersama Reuters, TASS, dan blogger perang pro-Rusia WarGonzo, sebagaimana dilaporkan Reuters pada Selasa (3/2/2026). Ia menilai “ambang batas rasa sakit” di tingkat global tampak menurun dan menyebut situasinya “sangat berbahaya”.
“Kami tidak tertarik pada konflik global. Kami tidak gila,” kata Medvedev. “Konflik global tidak dapat diabaikan.”
Medvedev, yang pernah menjabat sebagai presiden Rusia pada 2008–2012 dan dikenal sebagai sekutu dekat Presiden Vladimir Putin, juga memuji Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia menyebut kontak yang kembali terjalin dengan Washington sebagai perkembangan yang menggembirakan, di tengah upaya utusan Trump untuk menegosiasikan pengakhiran perang Rusia-Ukraina.
Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 telah memicu konfrontasi terbesar antara Barat dan Moskow sejak era Perang Dingin. Dalam wawancara tersebut, Medvedev kembali menyatakan bahwa Barat berulang kali mengabaikan kepentingan Rusia. Ia juga menanggapi anggapan di Barat yang meremehkan kemungkinan Rusia mengambil tindakan, seraya menyebut apa yang Kremlin sebut sebagai “Operasi Militer Khusus” di Ukraina sebagai bukti bahwa Rusia akan membela kepentingannya.
Menurut diplomat asing, Putin tetap menjadi pengambil keputusan terakhir dalam kebijakan Rusia. Meski demikian, Medvedev—yang kini dipandang sebagai tokoh garis keras Kremlin—kerap dianggap mencerminkan cara pandang kalangan garis keras di elite Rusia. Ia sebelumnya juga berulang kali melontarkan kecaman kepada Kyiv dan kekuatan Barat, disertai peringatan tentang risiko eskalasi perang hingga “kiamat nuklir”.
Di sisi lain, Ukraina dan sekutu-sekutu Eropanya menilai perang tersebut—yang disebut sebagai yang paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II—sebagai perebutan wilayah bergaya imperialis. Mereka menyatakan, jika Rusia menang di Ukraina, Moskow suatu hari dapat menyerang NATO. Rusia menolak klaim itu dan menyebutnya omong kosong.
Konflik di Ukraina timur sendiri bermula pada 2014 setelah presiden yang pro-Rusia digulingkan dalam Revolusi Maidan. Rusia kemudian mencaplok Crimea, sementara separatis yang didukung Moskow bertempur melawan angkatan bersenjata Kyiv di wilayah timur Ukraina.
Medvedev juga menyinggung sejumlah peristiwa global pada Januari, termasuk di Venezuela dan Greenland, yang ia nilai terlalu “berlebihan”. Terkait Presiden Venezuela Nicolas Maduro—sekutu Rusia—Medvedev mengatakan bahwa apabila Trump “dicuri” oleh kekuatan asing, maka Amerika Serikat akan memandangnya sebagai tindakan perang. Ia juga menyebut klaim Barat tentang ancaman Rusia atau China terhadap Greenland sebagai “kisah horor” palsu yang menurutnya dibuat-buat oleh para pemimpin Barat untuk membenarkan perilaku mereka sendiri.

