Konflik Israel dan Palestina memasuki bulan ke-11 dengan eskalasi yang kian terasa di beberapa front. Dalam sepekan terakhir, serangan di Jalur Gaza kembali memakan korban warga sipil, sementara ketegangan di perbatasan Israel-Lebanon terus meningkat seiring berlanjutnya serangan lintas batas antara Israel dan Hizbullah. Di saat yang sama, upaya diplomasi masih berjalan, namun sejumlah isu kunci tetap menjadi titik sengketa.
Serangan udara di Gaza dilaporkan menewaskan warga sipil
Pada Senin (16/9/2024), serangan udara Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya 16 warga sipil di Jalur Gaza, termasuk perempuan dan anak-anak. Serangan pertama menghantam sebuah rumah di kamp pengungsi Nuseirat, Gaza tengah, yang dilaporkan menewaskan 10 orang—termasuk empat perempuan dan dua anak. Serangan kedua menargetkan rumah di Kota Gaza dan dilaporkan menewaskan enam orang, termasuk seorang perempuan dan dua anak.
Rumah Sakit Awda, yang menerima jenazah korban, mengonfirmasi jumlah korban tewas dan melaporkan 13 orang terluka. Catatan rumah sakit menyebutkan korban tewas termasuk seorang ibu, anaknya, serta lima saudara kandung sang ibu.
Menurut data otoritas kesehatan di Jalur Gaza, lebih dari 41.000 warga Palestina dilaporkan tewas sejak serangan Israel dimulai pada 7 Oktober 2023, dengan lebih dari separuh korban disebut perempuan dan anak-anak.
11 anggota satu keluarga tewas di Kota Gaza
Tragedi lain dilaporkan terjadi pada Sabtu (14/9/2024) pagi. Serangan udara Israel menghantam sebuah rumah di Kota Gaza dan menewaskan 11 anggota satu keluarga. Juru bicara Badan Pertahanan Sipil Gaza, Mahmud Bassal, menyatakan di antara korban terdapat empat anak dan tiga perempuan.
Serangan itu dilaporkan terjadi di dekat sekolah Shujaiya di lingkungan Al-Tuffah, Kota Gaza. Tim penyelamat disebut masih mencari korban yang hilang. Bassal juga melaporkan serangan di beberapa bagian lain Gaza yang menewaskan sedikitnya 10 orang.
Sinwar: Hamas siap menghadapi perang jangka panjang
Di tengah meningkatnya korban, pemimpin Hamas Yahya Sinwar menyatakan kelompoknya siap menghadapi perang jangka panjang melawan Israel. Dalam surat yang ditujukan kepada kelompok Houthi di Yaman, Sinwar menyebut Hamas memiliki sumber daya untuk mempertahankan perlawanan, dengan dukungan sekutu regional yang didukung Iran.
Ia menulis bahwa Hamas telah mempersiapkan diri untuk “perang yang melelahkan” dan menyatakan upaya gabungan dengan kelompok-kelompok di Lebanon dan Irak akan “mematahkan musuh ini dan mengalahkannya.” Pernyataan itu muncul menjelang satu tahun pecahnya perang terbaru.
Israel memperluas tujuan perang, sinyal eskalasi dengan Hizbullah
Israel dilaporkan memperluas tujuan perang dengan memasukkan pemulangan warga di wilayah utara yang dievakuasi akibat serangan Hizbullah dari Lebanon. Keputusan itu disetujui dalam pertemuan kabinet keamanan pada Senin (16/9/2024) malam.
Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant menyatakan peluang untuk mencapai kesepakatan dengan Hizbullah semakin menipis karena kelompok itu terus mengaitkan posisinya dengan Hamas dan menolak mengakhiri konflik. Gallant mengatakan satu-satunya cara untuk memastikan kembalinya warga di utara Israel adalah melalui tindakan militer.
Serangan lintas batas Israel-Lebanon berlanjut
Pertukaran serangan di perbatasan Israel-Lebanon terus berlangsung. Pada Kamis (12/9/2024), serangan Israel di selatan Lebanon dilaporkan menewaskan tiga orang, termasuk seorang anak. Sebagai balasan, Hizbullah meluncurkan rentetan roket Katyusha ke Komando Utara Israel pada Jumat (13/9/2024) pagi.
Situasi ini menambah kekhawatiran akan potensi perang yang lebih luas antara Israel dan Hizbullah, dengan dampak terhadap stabilitas kawasan.
Diplomasi berjalan, isu perbatasan dan pembebasan tawanan jadi perdebatan
Di tengah eskalasi, upaya diplomasi untuk mendorong gencatan senjata masih dilakukan. Amerika Serikat dilaporkan sedang menyelesaikan proposal baru untuk menjembatani perbedaan antara Israel dan Hamas. Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengunjungi Mesir pada Selasa (17/9/2024) untuk membahas upaya gencatan senjata dengan pejabat setempat.
Namun, tuntutan Israel untuk mempertahankan pasukan di perbatasan Jalur Gaza-Mesir serta rincian pembebasan tawanan disebut tetap menjadi poin utama yang diperdebatkan.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan tidak ada pembenaran atas hukuman kolektif terhadap rakyat Palestina. Ia mengatakan semua pihak mengutuk serangan teror Hamas dan penyanderaan yang disebut sebagai pelanggaran hukum humaniter internasional, namun menegaskan hal itu tidak membenarkan hukuman kolektif terhadap warga Palestina.
Unjuk rasa di Israel menuntut pembebasan sandera
Di Israel, ribuan orang berdemonstrasi pada Sabtu (15/9/2024) di sejumlah kota untuk menuntut pembebasan sandera yang masih ditahan di Gaza. Dari 251 orang yang ditangkap dalam serangan Hamas pada 7 Oktober, sebanyak 97 dilaporkan masih ditahan di Jalur Gaza, termasuk 33 yang menurut militer Israel telah tewas.
Unjuk rasa mingguan ini terus menekan pemerintah Israel, yang oleh para pengkritik dituduh mengulur-ulur kesepakatan pembebasan sandera. Penyelenggara menyebut jumlah massa bertambah bulan ini setelah otoritas Israel mengumumkan enam sandera yang jasadnya ditemukan oleh pasukan telah ditembak mati oleh militan di sebuah terowongan di Gaza selatan.
Situasi di persimpangan kritis
Rangkaian peristiwa sepekan terakhir menunjukkan konflik berada dalam fase yang kian genting: korban sipil terus bertambah di Gaza, tujuan perang Israel meluas, dan ketegangan dengan Hizbullah di utara meningkat. Upaya diplomasi masih berlangsung, tetapi perbedaan posisi para pihak terkait isu keamanan perbatasan dan pembebasan tawanan tetap menjadi hambatan utama.
- Korban sipil di Gaza dilaporkan terus bertambah akibat serangan udara.
- Israel memperluas tujuan perang terkait pemulangan warga di utara yang dievakuasi.
- Pertukaran serangan Israel-Hizbullah di perbatasan Israel-Lebanon berlanjut hampir setiap hari.
- Upaya gencatan senjata dibahas, namun isu perbatasan Gaza-Mesir dan pembebasan tawanan masih diperdebatkan.
Dengan dinamika di berbagai front tersebut, risiko meluasnya konflik menjadi perhatian, sementara situasi kemanusiaan di Jalur Gaza dan ketegangan regional tetap menjadi sorotan utama.

