Eskalasi konflik Iran dan Israel dinilai berpotensi mengguncang pasar keuangan global dan menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona merah. Lonjakan harga energi, meningkatnya sentimen penghindaran risiko (risk-off), serta potensi pelemahan nilai tukar rupiah disebut menjadi sejumlah faktor yang dapat memicu koreksi di pasar saham domestik.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Azharys Hardian menilai tensi di Timur Tengah dapat memberi tekanan signifikan pada sektor industri dasar serta sektor yang sangat bergantung pada bahan baku impor. Ia menyoroti posisi China sebagai salah satu konsumen utama minyak Iran, dengan sekitar 13% dari total impor minyak jalur laut China berasal dari Iran.
Menurut Azharys, gangguan pasokan minyak berisiko mendorong lonjakan biaya energi dan biaya produksi di China. Jika biaya energi meningkat dan menekan laju ekonomi China, dampaknya bisa merembet ke Indonesia mengingat China merupakan mitra dagang utama. Kondisi tersebut berpotensi menekan permintaan terhadap ekspor Indonesia, terutama komoditas dan produk industri berbasis bahan baku.
Tekanan juga dapat dirasakan emiten domestik yang mengimpor bahan baku dalam denominasi dolar AS. Azharys menyebut ada risiko “double blow”, yakni kenaikan harga bahan baku global akibat guncangan pasokan (supply shock) dan potensi pelemahan rupiah seiring arus modal keluar serta menguatnya sentimen risk-off.
Di sisi lain, Azharys menilai ada sektor yang justru berpeluang diuntungkan, terutama minyak dan gas (migas). Ia menyoroti Selat Hormuz sebagai jalur krusial karena hampir 30% perdagangan minyak dunia melewati kawasan tersebut. Jika terjadi gangguan atau meningkatnya risiko penutupan, harga minyak mentah global berpotensi melonjak karena kekhawatiran pasokan.
Kenaikan harga minyak dunia dapat meningkatkan average selling price (ASP) perusahaan energi. Azharys menyebut emiten seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Elnusa Tbk (ELSA), dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berpotensi mencatatkan apresiasi harga saham seiring proyeksi kenaikan pendapatan dari peningkatan harga jual rata-rata minyak global.
Selain itu, emiten pelayaran energi seperti PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL), PT GTS Internasional Tbk (GTSI), dan Soechi Lines Tbk (SOCI) dinilai berada dalam posisi strategis untuk memanfaatkan peluang kenaikan tarif pelayaran internasional. Dengan demikian, meski IHSG secara umum berisiko tertekan, rotasi sektor dinilai sangat mungkin terjadi: sektor industri dasar dan importir bahan baku berpotensi melemah, sementara sektor energi dapat menjadi penopang indeks.
Senada, pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan memanasnya konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah masuk ke ranah risiko ekonomi global, tercermin dari pergerakan harga komoditas. Ia menyebut harga emas menguat lebih dari 1%, sementara minyak mentah WTI dan Brent melonjak hampir 3% karena kekhawatiran terganggunya pasokan energi dari Timur Tengah.
Hendra kembali menekankan pentingnya Selat Hormuz sebagai salah satu rute distribusi minyak tersibuk di dunia, dengan sekitar 30% perdagangan minyak global melintasi kawasan itu. Jika eskalasi mengganggu arus kapal tanker, harga minyak berpotensi naik lebih tinggi karena pasar menghitung ulang risiko pasokan.
Menurut Hendra, lonjakan harga energi dapat merambat ke inflasi global, memicu pelemahan mata uang di negara berkembang, serta memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral di banyak negara. Dalam konteks Indonesia, tekanan terhadap IHSG dapat muncul dari dua sisi: potensi capital outflow karena investor asing mengurangi eksposur di emerging market dan risiko inflasi impor akibat kenaikan harga energi yang meningkatkan biaya produksi emiten domestik.
Ia menambahkan, bila harga minyak bertahan tinggi, beban operasional perusahaan dapat meningkat dan margin laba berpotensi tergerus. Dalam skenario tersebut, IHSG disebut berpeluang melemah dan menguji support klasik di level 8.133. Jika level itu ditembus, area psikologis 8.000 menjadi support berikutnya, sementara resistance terdekat berada di kisaran 8.300.
Meski demikian, Hendra menilai tidak semua sektor terdampak negatif. Sektor berbasis komoditas disebut berpotensi menjadi penopang indeks seiring naiknya harga emas dan minyak. Ia menyampaikan sejumlah saham yang menurutnya layak dicermati: PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebagai trading buy dengan target Rp 3.900; PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan target Rp 4.500; PT Elnusa Tbk (ELSA) sebagai trading buy dengan target Rp 900; PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dengan target Rp 1.900; PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) sebagai speculative buy dengan target Rp 1.400; serta PT Soechi Lines Tbk (SOCI) sebagai trading buy dengan target Rp 750, seiring meningkatnya aktivitas dan tarif pengangkutan energi di tengah volatilitas harga minyak global.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Informasi mengenai analisis dampak konflik Iran-Israel terhadap pasar modal ini disampaikan melalui pernyataan Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Azharys Hardian dan Founder Republik Investor Hendra Wardana pada Minggu, 1 Maret 2026.

