Ketegangan Iran dan Israel kembali meningkat setelah serangan Israel pada Jumat (13/6/2025) memicu respons pertahanan udara di Teheran, Iran. Laporan media Iran yang dikutip Reuters menyebutkan serangan tersebut menewaskan sedikitnya 224 orang, termasuk sejumlah petinggi militer.
Di sisi lain, otoritas Israel melaporkan 24 warganya tewas akibat serangan balasan Iran. Situasi ini menandai fase baru permusuhan terbuka antara kedua negara, yang sebelumnya lebih sering berlangsung melalui perang proxy dengan melibatkan kelompok seperti Hamas dan Hizbullah.
Ketegangan memuncak setelah Israel menyerang fasilitas nuklir dan militer Iran. Iran kemudian membalas melalui operasi yang disebut “True Promise III” atau Operasi Janji Sejati III, dengan sasaran Haifa, kota pelabuhan strategis di Israel. Konflik ini memperburuk hubungan kedua negara yang telah bermusuhan sejak Revolusi Islam 1979, meski pada era 1950-an Iran dan Israel sempat menjalin kerja sama erat di bawah pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi.
Perbandingan kekuatan militer dan kekhawatiran nuklir
Israel mengandalkan teknologi militer canggih dengan dukungan Amerika Serikat, termasuk jet tempur F-35 serta sistem pertahanan udara seperti Arrow dan David’s Sling. Pada April 2024, sistem pertahanan ini dilaporkan berhasil mencegat 99 persen dari lebih 300 rudal dan drone Iran.
Sementara itu, Iran mengandalkan senjata produksi dalam negeri dan kerja sama dengan Rusia, termasuk pembelian Sukhoi Su-35. Meski dinilai kalah dari sisi teknologi, Iran memiliki persediaan rudal balistik dan drone yang menjadi tulang punggung strategi perang asimetris.
Kekhawatiran global turut meningkat setelah Iran meningkatkan pengayaan uranium hingga 90 persen, yang disebut sebagai ambang batas senjata nuklir. Israel telah lama memperingatkan akan menyerang fasilitas nuklir Iran, serupa dengan serangan yang pernah dilakukan terhadap Irak pada 1981 dan Suriah pada 2007.
Kemlu: WNI yang tertahan sudah kembali, status siaga dua
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyatakan puluhan warga negara Indonesia (WNI) yang sempat tertahan di Israel, Yordania, dan Iran telah kembali dengan aman dengan bantuan Kedutaan Besar RI (KBRI) Amman.
Direktur Pelindungan WNI (PWNI) Kemlu RI Judha Nugraha, dalam arahan pers secara daring di Jakarta, Rabu (18/6/2025), mengatakan 42 WNI peziarah yang berada di Yerusalem, Israel, telah kembali ke Indonesia melalui jalur darat menuju Yordania terlebih dahulu.
Judha juga menyampaikan ada delapan jamaah haji, WNI yang berasal dari Inggris, sempat tertahan di Amman dan telah kembali ke Inggris. Selain itu, dua WNI peziarah di Iran dapat keluar dari Iran melalui jalur darat menuju Pakistan untuk kembali ke Indonesia.
Kemlu menyebut telah menggelar pertemuan daring dengan WNI yang berada di Iran untuk memeriksa kondisi mereka sekaligus menyampaikan langkah-langkah kontingensi yang disiapkan KBRI Teheran dan pemerintah pusat. Judha mengatakan status saat ini berada pada level siaga dua, namun dapat ditingkatkan menjadi siaga satu apabila eskalasi memburuk dan proses evakuasi perlu dilakukan.
Ia kembali mengimbau WNI di Iran dan Israel untuk meningkatkan kewaspadaan, memantau situasi dari media resmi pemerintah dan KBRI, serta menghindari keluar rumah untuk keperluan non-esensial. Dalam keadaan darurat, WNI diminta segera menghubungi hotline KBRI Amman dan KBRI Teheran.
Kemlu juga menyarankan WNI yang memiliki rencana perjalanan ke Iran, Israel, Suriah, Lebanon, dan Yaman untuk menunda perjalanan karena perwakilan RI telah menetapkan status siaga di negara-negara tersebut. Bagi WNI yang memiliki rencana penerbangan melintasi Timur Tengah, Kemlu meminta agar mereka memeriksa pembaruan jadwal penerbangan kepada maskapai karena potensi buka-tutup wilayah udara dapat mengganggu jadwal.
Kemlu memastikan 386 WNI di Iran—mayoritas pelajar di Qom—dan 194 WNI di Israel dalam kondisi aman, meski puluhan lainnya terdampar akibat pembatalan penerbangan.
Negara-negara Asia mulai mengevakuasi warganya
Di tengah konflik yang masih berlangsung, sejumlah negara Asia mulai mengambil langkah evakuasi dan peningkatan peringatan perjalanan. China memerintahkan warganya meninggalkan wilayah konflik “secepat mungkin,” sementara India meminta warganya di Iran segera meninggalkan Teheran.
Korea Selatan dan Jepang menaikkan status peringatan perjalanan ke Iran dan Israel. Malaysia disebut “sangat menyarankan” warganya segera meninggalkan Iran, sedangkan Thailand menyatakan siap mengevakuasi warganya dari Israel jika konflik memburuk.
Harapan Iran kepada Indonesia
Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menyampaikan harapannya agar pemerintah Indonesia terus mendukung Iran di lembaga dan forum internasional. Ia menyebut Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia dan berharap dukungan juga diberikan bagi Iran maupun Palestina di kancah internasional.
Boroujerdi mengatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan pemerintah Indonesia dan menyaksikan kutukan keras yang disampaikan Indonesia di tengah konflik dengan Israel. Ia juga menyebut pemerintah, organisasi Islam, tokoh politik, serta cendekiawan Indonesia menyampaikan solidaritas dan dukungan kepada pemerintah dan rakyat Iran melalui pernyataan dan karangan bunga.
Dalam pernyataannya, Boroujerdi mengimbau negara-negara di dunia menekan Israel agar mencegah perluasan perang ke wilayah lain serta menghentikan agresi yang terjadi di Iran.

