BERITA TERKINI
Konflik AS-Israel-Iran Picu Kekhawatiran Gangguan Pasokan Minyak Global di Selat Hormuz

Konflik AS-Israel-Iran Picu Kekhawatiran Gangguan Pasokan Minyak Global di Selat Hormuz

Pasar energi global dinilai menghadapi salah satu guncangan paling serius dalam beberapa dekade terakhir seiring meningkatnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Para analis memperingatkan situasi ini berpotensi mengganggu arus ekspor minyak dari kawasan Teluk, wilayah yang menyumbang sekitar 20% pasokan minyak dunia, terutama jika ketegangan berlanjut tanpa solusi cepat.

Menurut sejumlah analis, besarnya gangguan akan sangat ditentukan oleh durasi konflik. Namun, pada tahap saat ini, ancaman dan ketidakstabilan dinilai sudah cukup untuk menekan aliran pasokan dari kawasan tersebut. Tanpa penyelesaian yang cepat, harga minyak dikhawatirkan melonjak ketika perdagangan dibuka pada pagi hari 2 Maret.

Harga minyak mentah Brent dilaporkan telah naik dalam beberapa pekan terakhir hingga sekitar 70 dolar AS per barel, yang disebut sebagai level tertinggi sejak Agustus 2025. Meski begitu, hingga kini belum ada kerusakan pada infrastruktur minyak dan gas yang dikonfirmasi sebagai dampak langsung dari serangan.

Risiko di jalur pelayaran, termasuk kemungkinan kapal tanker terdampar di Teluk Persia di utara Selat Hormuz atau menjadi sasaran serangan, membuat produsen, pedagang, dan pemilik kapal meninjau ulang pengangkutan minyak serta gas alam cair (LNG). Sejumlah perusahaan minyak dan gas besar serta perusahaan perdagangan juga disebut telah mengumumkan penangguhan sementara pengiriman melalui selat tersebut selama beberapa hari.

Sejumlah pakar energi di Argentina memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz sampai diblokir sepenuhnya, harga Brent bisa melampaui 100 dolar AS per barel. Kondisi itu diperkirakan membawa dampak luas terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi global.

Mantan Menteri Energi Argentina, Emilio Apud, menilai dampak konflik saat ini terjadi pada dua lapis. Pertama adalah “efek spekulatif”, ketika harga naik karena pelaku pasar melakukan lindung nilai terhadap ketidakstabilan geopolitik. Kedua adalah dampak praktis jika terjadi blokade fisik. Ia menyebut tenggelamnya satu kapal tanker besar di salah satu jalur sempit selat saja dapat memicu gangguan besar.

Apud juga menilai infrastruktur pipa alternatif di kawasan tersebut tidak memadai untuk menggantikan volume pengiriman yang terganggu. Jika rute pengiriman harus dialihkan ke utara dan melewati Terusan Suez, perjalanan dapat bertambah setidaknya dua minggu, yang berujung pada kenaikan signifikan biaya logistik dan asuransi.

Meski demikian, Apud menilai peluang terjadinya blokade berkepanjangan relatif rendah karena kepentingan banyak kekuatan besar, terutama Amerika Serikat. Menurutnya, Washington tidak menginginkan lonjakan harga minyak yang dapat menekan inflasi domestik, sementara Teheran juga dinilai akan kesulitan mempertahankan gangguan jalur pelayaran dalam waktu lama.

Dari sudut pandang lain, mantan CEO perusahaan minyak nasional Argentina (YPF), Daniel Montamat, memperingatkan potensi efek berantai yang dapat menggeser dinamika pasar dari sekadar penawaran dan permintaan menjadi lebih dipengaruhi faktor geopolitik. Ia mencatat sekitar 83% produksi LNG di wilayah Teluk melewati Selat Hormuz, sehingga gangguan apa pun berisiko memicu efek domino di Asia, khususnya Tiongkok dan India.

Namun, Montamat juga mengingatkan bahwa sejumlah perkiraan sebelum konflik menunjukkan pasar minyak global berada dalam kondisi kelebihan pasokan sekitar 2–3 juta barel per hari. Jika ketegangan mereda dengan cepat, harga berpotensi menyesuaikan turun kembali mengikuti faktor fundamental pasar.