KEDIRI — Anggota MPR RI KH. An’im Falahuddin Mahrus menilai generasi muda Indonesia memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas nasional di tengah meningkatnya potensi konflik kawasan dan ketidakpastian akibat krisis global. Hal itu disampaikan dalam dialog kebangsaan yang digelar pada 9 Desember pukul 18.00 WIB di Aula Kantor Kelurahan Banjar Melati, Kota Kediri.
Dalam pemaparannya, KH. An’im menjelaskan bahwa dinamika geopolitik global, konflik antarnegara, krisis energi dan pangan, hingga perang informasi di ruang digital dapat berdampak langsung pada kondisi sosial dan ekonomi nasional. Karena itu, menurut dia, menjaga stabilitas negara tidak semata menjadi tanggung jawab aparat keamanan, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda.
“Ancaman hari ini tidak selalu datang dalam bentuk perang fisik. Konflik global bisa memicu krisis ekonomi, disinformasi, dan perpecahan sosial. Di sinilah peran strategis generasi muda dibutuhkan sebagai penjaga ketahanan sosial dan persatuan bangsa,” ujarnya.
KH. An’im menekankan pentingnya membekali generasi muda dengan kesadaran geopolitik, literasi digital, serta ketangguhan mental untuk menghadapi situasi global yang serba tidak pasti. Ia mengingatkan, sikap mudah terprovokasi, fanatisme sempit, dan penyebaran hoaks dapat melemahkan stabilitas nasional dari dalam.
“Kalau generasi mudanya mudah diadu domba, maka bangsa ini rapuh. Tapi jika pemudanya cerdas, tenang, dan berorientasi pada persatuan, Indonesia akan tetap kokoh meski dunia sedang bergejolak,” kata KH. An’im.
Ia juga mendorong anak muda untuk membangun ketahanan dari lingkungan terdekat, mulai dari keluarga, lingkungan sosial, hingga komunitas digital. Menjaga harmoni sosial, menghormati perbedaan, dan mengedepankan dialog disebutnya sebagai kontribusi nyata untuk mencegah konflik horizontal di tingkat lokal.
Dalam konteks bela negara, KH. An’im menyebut peran generasi muda dapat diwujudkan melalui peningkatan kapasitas diri, kedisiplinan, kepedulian sosial, serta partisipasi aktif dalam pembangunan. Menurutnya, stabilitas nasional akan terjaga jika masyarakat memiliki rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap bangsa.
“Bela negara di era krisis global adalah tentang ketahanan karakter. Generasi muda harus menjadi jangkar stabilitas, bukan sumber kegaduhan,” ujarnya.
Dialog berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan peserta mengenai dampak konflik internasional terhadap Indonesia serta langkah konkret yang bisa dilakukan anak muda. Acara ditutup dengan ajakan kepada generasi muda Banjar Melati untuk menjadi pelopor persatuan dan ketenangan sosial di tengah situasi global yang penuh tantangan.
KH. An’im menyatakan optimistis bahwa dengan karakter kuat dan wawasan kebangsaan yang matang, generasi muda Indonesia mampu menjaga stabilitas nasional sekaligus menjadi kekuatan utama dalam menghadapi krisis global yang terus berkembang.

