Sejumlah negara di Afrika mulai merasakan tekanan pada pasokan bahan bakar di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Gangguan pada rantai pasok global memunculkan kekhawatiran akan kelangkaan energi, lonjakan harga, hingga potensi perlambatan ekonomi di sejumlah kawasan.
Di Zambia, cadangan bahan bakar dilaporkan berada pada level mengkhawatirkan. Stok bensin sekitar 40 juta liter diperkirakan hanya cukup untuk 23 hari ke depan berdasarkan tingkat konsumsi saat ini. Sementara itu, cadangan minyak tanah sebesar 65,9 juta liter diprediksi habis dalam waktu kurang dari 10 hari.
Kondisi serupa juga terjadi pada bahan bakar penerbangan Jet A-1, yang disebut hanya memiliki cadangan untuk sekitar 10 hari.
Tekanan pasokan juga mulai terasa di Afrika Selatan. Sejumlah laporan menyebutkan kekurangan solar di berbagai stasiun pengisian bahan bakar kian sering terjadi. Pemerintah setempat menyiapkan langkah antisipatif, antara lain diversifikasi sumber pasokan energi, peningkatan kapasitas penyimpanan minyak, serta percepatan pembangunan infrastruktur energi untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
Di Somalia, lonjakan harga bahan bakar mendorong pemerintah turun tangan. Harga bensin dan solar dilaporkan melonjak lebih dari dua kali lipat, sehingga otoritas menerapkan regulasi baru. Pemerintah membatasi margin keuntungan penjual, memberlakukan sanksi bagi pelanggar, serta mengatur agar kenaikan harga hanya dapat dilakukan pada hari tertentu untuk menekan gejolak pasar.
Sementara itu, Zimbabwe menghadapi tekanan inflasi energi yang kian nyata. Otoritas pengatur energi negara tersebut kembali menaikkan harga bahan bakar untuk kedua kalinya dalam waktu singkat. Harga bensin kini mencapai 2,17 dolar AS per liter, naik 27 persen, sedangkan solar naik 15 persen menjadi 2,05 dolar AS per liter.
Rangkaian perkembangan ini mencerminkan dampak luas konflik di Timur Tengah terhadap pasar energi global. Ketergantungan negara-negara Afrika pada impor bahan bakar membuat kawasan tersebut rentan terhadap gangguan distribusi dan fluktuasi harga internasional.
Jika ketegangan global berlanjut, tekanan pada pasokan energi di Afrika diperkirakan semakin dalam, dengan risiko lanjutan terhadap stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

