Ketegangan terkait Iran kian meningkat, mendorong sejumlah negara mulai mengevakuasi diplomat serta mengeluarkan imbauan agar warga dan staf diplomatik menjauhi wilayah-wilayah rawan di Timur Tengah. Amerika Serikat sebelumnya telah mengeluarkan perintah evakuasi untuk misi diplomatiknya di Beirut pada Senin, diikuti langkah serupa dari negara lain seperti Inggris, China, dan India.
Daftar negara yang menerbitkan imbauan sejenis terus bertambah, termasuk Australia, Polandia, Finlandia, Swedia, dan Singapura. Inggris juga menyatakan akan menarik staf diplomatiknya dari Iran untuk sementara waktu.
Eskalasi terjadi di tengah pengerahan kekuatan militer besar-besaran AS di kawasan. Situasi ini berlangsung saat pembicaraan mengenai program nuklir Teheran masih berjalan. Putaran terbaru negosiasi di Jenewa pada Kamis lalu menghasilkan kesepakatan untuk kembali bertemu pekan depan di Wina.
Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menyampaikan bahwa “perdamaian masih dalam jangkauan” setelah bertemu Wakil Presiden JD Vance. Namun Presiden Donald Trump memberikan sinyal berbeda. “Kami belum membuat keputusan akhir,” kata Trump terkait serangan udara. Ia menegaskan, “Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan kami tidak senang dengan cara mereka bernegosiasi.”
Sumber yang mengetahui posisi AS menyebut tim negosiator Amerika—dipimpin utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner—meninggalkan Jenewa dengan rasa kecewa.
Ketegangan ini turut mengguncang pasar global. Harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak hingga 3,2% menjadi US$73 per barel di London pada Jumat, level harian tertinggi sejak Juli lalu. Trump menepis kekhawatiran atas kenaikan harga minyak. “Saya lebih peduli pada nyawa manusia. Saya peduli pada kesehatan jangka panjang negara ini,” ujarnya.
Dengan adanya kemungkinan keterlibatan Israel dalam konflik apa pun, tekanan juga dirasakan pasar keuangan negara tersebut. Mata uang shekel mencatat kinerja terburuknya dalam dua hari sejak perang 12 hari dengan Iran pada Juni lalu.
Dalam pembaruan diplomatik pada Jumat, Washington menyarankan pekerja non-esensial dan anggota keluarga untuk mempertimbangkan meninggalkan Israel selama penerbangan komersial masih tersedia. Sejumlah maskapai telah menangguhkan penerbangan ke Tel Aviv, pusat komersial Israel.
Kedutaan Besar AS juga menyatakan kemungkinan akan melarang perjalanan staf ke wilayah tertentu, termasuk Kota Tua Yerusalem dan Tepi Barat.
Meski AS menyatakan pintu diplomasi tetap terbuka, Trump terus mengerahkan kekuatan ke Timur Tengah. Kapal induk kedua, USS Gerald R. Ford, disebut telah memasuki kawasan dan berada di perairan Israel, menurut media lokal. Kapal tersebut dapat terlibat dalam serangan terhadap Iran atau membantu mempertahankan Israel serta aset AS dari serangan balasan Iran.
Di sektor pelayaran, meningkatnya ketegangan mendorong dua dari lima perusahaan pelayaran peti kemas terbesar di dunia mengalihkan sebagian kapal menjauhi Laut Merah, wilayah yang disebut menjadi area operasi militan Houthi yang didukung Iran. A.P. Moller-Maersk A/S menyatakan “kendala tak terduga” membuat perusahaan asal Denmark itu mengalihkan sebagian kapalnya melalui selatan Afrika alih-alih melewati Terusan Suez.
Langkah tersebut diikuti Hapag-Lloyd AG yang berbasis di Hamburg, Jerman—mitra Maersk dalam aliansi berbagi kapal—yang menyebut adanya “kendala tak terduga terhadap bantuan keamanan yang tersedia di kawasan Laut Merah.”

