Ketegangan geopolitik pada 2025 memicu kekhawatiran baru mengenai kemungkinan pecahnya Perang Dunia III. Sejumlah konflik bersenjata di berbagai kawasan—mulai dari Eropa hingga Timur Tengah dan Asia Selatan—dinilai menunjukkan eskalasi militer yang kian meluas.
Di tengah situasi tersebut, sebagian pengamat dan pakar hubungan internasional mempertanyakan apakah dunia sedang bergerak menuju konfrontasi global berskala besar. Berbagai konflik disebut memiliki potensi memicu keterlibatan lebih banyak negara, terutama jika eskalasi melebar melampaui batas wilayah masing-masing.
Salah satu konflik yang menjadi sorotan utama adalah perang Rusia-Ukraina. Konflik ini bermula dari pencaplokan Krimea pada 2014 dan memasuki fase paling mematikan setelah invasi besar-besaran Rusia pada Februari 2022. Dalam perkembangannya, Rusia dilaporkan meluncurkan rudal hipersonik sebagai respons terhadap serangan drone dari Ukraina.
Pada Juni 2025, Ukraina kembali menjadi perhatian internasional setelah melancarkan Operasi Jaring Laba-laba. Operasi ini disebut sebagai serangan drone tersembunyi yang menargetkan lima pangkalan udara Rusia. Serangan tersebut dilaporkan menghancurkan lebih dari 40 pesawat tempur strategis Rusia dan dinilai menunjukkan kemampuan Ukraina melakukan operasi besar tanpa dukungan langsung dari Amerika Serikat.
Rangkaian eskalasi ini menegaskan bahwa perang Rusia-Ukraina masih menjadi salah satu titik paling rawan dalam peta konflik global 2025, terutama karena dampaknya yang dapat meluas ke dinamika keamanan internasional.

