BERITA TERKINI
Ketegangan AS–Iran Memuncak, Pasar Global Waspadai Guncangan Energi dan Volatilitas Keuangan

Ketegangan AS–Iran Memuncak, Pasar Global Waspadai Guncangan Energi dan Volatilitas Keuangan

Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki fase kritis pada awal 2026, memicu kekhawatiran meluas terhadap stabilitas ekonomi global dan meningkatnya volatilitas pasar keuangan. Pengerahan militer AS di Timur Tengah, disertai rangkaian insiden maritim di Selat Hormuz dan Teluk Persia, menempatkan kedua negara pada situasi yang oleh sejumlah analis disebut sebagai “high-risk brinkmanship”—peningkatan tekanan maksimum sambil tetap menyisakan ruang negosiasi untuk mencegah eskalasi penuh.

Namun, ruang diplomasi dinilai kian menyempit. Pengerahan aset militer AS yang disebut sebanding dengan mobilisasi sebelum serangan ke Venezuela pada Januari 2026, serta pernyataan sejumlah pemimpin Eropa yang menilai kepemimpinan Iran berada di “hari dan minggu terakhir,” memperkuat pandangan bahwa konflik militer bukan lagi skenario yang jauh. Jika pecah, dampaknya diperkirakan menjalar luas, mulai dari lonjakan harga energi, gejolak nilai tukar, hingga koreksi pasar saham global.

Bagi pelaku pasar dan investor institusional, situasi ini mendorong peninjauan ulang strategi alokasi aset dan manajemen risiko. Proyeksi skenario konflik, jalur transmisi dampak ekonomi, dan potensi pergerakan aset keuangan utama menjadi perhatian, terutama jika eskalasi terjadi dalam hitungan minggu.

Eskalasi militer dan insiden di jalur energi

Indikator eskalasi militer dilaporkan berada pada level tinggi. Kapal induk USS Abraham Lincoln beserta strike group ditempatkan di Laut Arab sejak 26 Januari 2026, dengan sekitar 50.000 personel militer AS tersebar di berbagai pangkalan di Timur Tengah. Pengerahan ini disebut sebagai salah satu mobilisasi terbesar AS di kawasan dalam beberapa tahun terakhir.

Ketegangan meningkat setelah insiden maritim pada 3 Februari 2026, ketika enam kapal patroli Garda Revolusi Iran mencoba menghentikan sebuah tanker AS di Selat Hormuz. Dua hari kemudian, Iran menyita dua tanker minyak asing di Teluk Persia. Langkah ini menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global yang melintasi Selat Hormuz, rute yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Berdasarkan sinyal geopolitik yang menguat, estimasi waktu konflik disebut berada dalam rentang dua minggu hingga dua bulan. Sejumlah jenderal sekutu AS memperkirakan kesiapan militer dan posisi strategis di kawasan telah memasuki fase kritis. Kanselir Jerman Friedrich Merz juga menyatakan secara terbuka bahwa kepemimpinan Iran berada di “hari dan minggu terakhir.” Di sisi lain, rencana perundingan di Oman yang berfokus pada isu nuklir masih berlangsung, menunjukkan jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup.

Skenario konflik dan peluangnya

Analisis yang beredar memetakan empat skenario utama dengan probabilitas berbeda. Skenario perang skala penuh—termasuk serangan terhadap instalasi nuklir dan militer Iran—dinilai memiliki probabilitas tertinggi, sekitar 40% hingga 45%, dengan dampak ekonomi sangat tinggi. Skenario ini mencakup kampanye pengeboman besar-besaran terhadap jaringan militer, pusat komando, dan instalasi pemerintah, dengan kemungkinan operasi darat terbatas serta kolaborasi dengan sekutu seperti Israel dan negara-negara Teluk.

Skenario serangan terbatas diperkirakan memiliki probabilitas 30% hingga 35%, dengan fokus pada target presisi seperti fasilitas nuklir, markas Garda Revolusi Iran, dan infrastruktur militer strategis. Skenario eskalasi bertahap melalui konflik proksi diproyeksikan 15% hingga 20%. Sementara itu, de-eskalasi diplomatik disebut hanya memiliki peluang 5% hingga 10% dan dampak ekonomi relatif rendah.

Jika terjadi serangan, respons balasan Iran diperkirakan dapat mencakup serangan rudal dan drone terhadap pangkalan AS di Qatar, Bahrain, Irak, dan Yordania, serta infrastruktur energi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Dalam eskalasi yang lebih luas, target di Israel juga berpotensi terdampak. Iran juga berulang kali menyatakan serangan AS dapat memicu perang regional, termasuk kemungkinan blokade Selat Hormuz melalui ranjau laut atau serangan kapal, aktivasi kelompok aliansi regional di Irak, Yaman, dan Libanon, serta operasi siber terhadap infrastruktur kritis AS dan sekutunya.

Jalur dampak ke ekonomi global

Konflik militer AS–Iran berpotensi memicu guncangan ekonomi global melalui beberapa saluran. Yang paling langsung adalah lonjakan harga energi, mengingat gangguan pasokan minyak dan gas dari Teluk Persia dapat mendorong harga minyak mentah ke level tertinggi dalam beberapa tahun. Iran disebut memproduksi sekitar 3% minyak dunia, sementara gangguan di Selat Hormuz berisiko menghambat sekitar 20% pasokan global, sekaligus menaikkan biaya logistik dan transportasi.

Di pasar keuangan, ketidakpastian geopolitik diperkirakan memicu aksi jual di aset berisiko seperti saham global dan menekan mata uang negara berkembang. Investor cenderung beralih ke aset safe haven seperti emas, obligasi pemerintah, serta mata uang seperti Yen Jepang dan Franc Swiss. Kenaikan inflasi global yang dipicu oleh energi dan pangan yang lebih mahal juga berpotensi menekan daya beli dan memperlambat pertumbuhan, terutama di negara-negara importir energi seperti Indonesia dan negara-negara Eropa.

Besaran dampak diperkirakan bergantung pada durasi konflik, tingkat gangguan pasokan di Selat Hormuz, serta respons kebijakan bank sentral dan OPEC. Dalam sejumlah catatan historis, harga minyak dan emas sering melonjak pada fase antisipasi, tetapi dapat terkoreksi cepat bila konflik berlangsung singkat. Pasar saham global juga kerap terkoreksi pada awal ketidakpastian dan pulih dalam sekitar enam bulan jika konflik terbatas.

Proyeksi pergerakan aset: dolar, saham, emas, hingga minyak

Dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia dan safe haven utama diproyeksikan menguat sekitar 0,25% hingga 0,5% di tengah krisis, seiring arus modal masuk ke obligasi pemerintah AS. Namun, dalam jangka menengah, penguatan dolar disebut dapat terkoreksi jika inflasi tinggi dan defisit fiskal memburuk. Euro diperkirakan melemah terhadap dolar dan berpotensi mendekati paritas sekitar 1,0, dipengaruhi ketergantungan Eropa pada impor energi dan risiko inflasi. Yen Jepang dan Franc Swiss diproyeksikan menguat sekitar 1% hingga 2%.

Dari sisi ekuitas, pasar saham global diperkirakan menghadapi tekanan. Indeks S&P 500 dan Nasdaq diproyeksikan terkoreksi 2% hingga 5% pada fase awal konflik, terutama pada sektor teknologi dan konsumen, sementara saham sektor pertahanan dan energi dinilai berpotensi lebih kuat. Bursa utama di Asia dan Eropa seperti Nikkei dan DAX diperkirakan terkoreksi 1% hingga 3%. Untuk Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi tertekan oleh arus modal keluar, pelemahan rupiah, serta kekhawatiran defisit fiskal dan kenaikan biaya energi.

Emas dan perak diproyeksikan menguat sebagai aset safe haven. Harga emas disebut berpotensi menembus 6.000 dolar AS per troy ons, didorong permintaan lindung nilai dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. Perak diproyeksikan dapat mencapai 150 dolar AS per troy ons. Tren penguatan untuk kedua logam mulia ini disebut dapat bertahan hingga 2028.

Sementara itu, harga minyak mentah WTI dan Brent diperkirakan dapat melonjak ke kisaran 100 hingga 130 dolar AS per barel jika pasokan dari Selat Hormuz terganggu. Dalam skenario serangan signifikan terhadap infrastruktur energi, kenaikan harga harian 15% hingga 19% disebut mungkin terjadi, merujuk pada preseden serangan terhadap Aramco pada 2019. Meski demikian, harga minyak juga dinilai berpotensi sangat volatil dan dapat turun tajam di akhir konflik jika pasokan pulih cepat.

Respons investor: diversifikasi dan lindung nilai

Di tengah ketidakpastian tinggi, diversifikasi portofolio dipandang krusial. Strategi yang disebut relevan mencakup penyebaran investasi ke berbagai kelas aset, termasuk aset safe haven seperti emas dan obligasi pemerintah, serta saham sektor pertahanan dan energi yang dinilai lebih resilien dalam kondisi konflik geopolitik.

Manajemen risiko dan hedging melalui instrumen lindung nilai juga ditekankan untuk mengelola volatilitas harga komoditas dan nilai tukar. Dalam pendekatan taktis, strategi buy on dips disebut dapat diterapkan pada aset safe haven ketika rumor konflik menguat, serta pada aset berisiko ketika sinyal konflik mereda. Namun, fokus pada fundamental bisnis dan valuasi wajar tetap dianggap penting agar keputusan investasi tidak didorong euforia atau kepanikan jangka pendek.

Ketidakpastian meningkat

Risiko eskalasi konflik militer AS–Iran dinilai berada pada level tinggi, dengan implikasi sistemik bagi ekonomi global. Lonjakan harga energi, volatilitas lintas aset, dan tekanan inflasi berpotensi menjadi tantangan bagi pelaku pasar dan pembuat kebijakan. Dalam situasi ketika perkembangan geopolitik dapat memicu pergerakan tajam di pasar, kewaspadaan dan respons yang terukur menjadi faktor penting bagi berbagai pelaku ekonomi.