Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dilaporkan memuncak setelah meninggalnya Ali Khamenei. Dalam situasi tersebut, pada awal Maret 2026 Iran disebut menutup akses Selat Hormuz bagi semua kapal yang melintasi jalur tersebut. Langkah ini segera memicu kekhawatiran di pasar energi internasional karena Selat Hormuz merupakan salah satu rute terpenting bagi pengiriman minyak dan gas dunia.
Selat Hormuz adalah jalur laut sempit di antara Iran dan Oman yang menjadi titik sempit (chokepoint) vital bagi ekspor minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Iran, Irak, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Diperkirakan sekitar 20–30% dari total minyak dunia melintas melalui selat ini setiap hari, dengan volume mencapai puluhan juta barel yang dikirim ke berbagai pasar utama seperti Asia, Eropa, dan Amerika. Karena peran strategis tersebut, gangguan apa pun—termasuk penutupan total—berpotensi memicu gejolak besar pada perdagangan dan harga energi global.
Penutupan Selat Hormuz diperkirakan menimbulkan sejumlah dampak langsung. Pertama, harga energi berpotensi melonjak tajam. Penutupan jalur yang menjadi rute utama ekspor minyak dan LNG dinilai dapat mendorong kenaikan harga minyak mentah, dengan perkiraan harga Brent acuan global bisa naik puluhan persen dari level sebelumnya apabila aliran energi melalui selat benar-benar terputus dalam periode yang cukup lama.
Kedua, gangguan pasokan global dapat terjadi karena besarnya porsi pasokan minyak dan gas yang berasal dari kawasan Teluk. Negara-negara pengimpor utama di Asia seperti China, Jepang, Korea Selatan, dan India, serta banyak negara di Eropa, diperkirakan akan merasakan dampaknya dalam bentuk kekurangan pasokan bahan bakar dan gas. Kondisi ini dapat berpengaruh pada pembangkit listrik, transportasi, dan aktivitas industri secara luas.
Ketiga, kenaikan harga minyak dunia biasanya cepat dirasakan di tingkat konsumen, terutama di negara-negara pengimpor. Dampaknya dapat berupa kenaikan harga bensin, diesel, listrik, dan gas rumah tangga. Peningkatan biaya transportasi juga berpotensi mendorong inflasi harga barang konsumsi.
Keempat, penutupan selat dapat mengganggu perdagangan laut dan rantai logistik global. Kapal tanker dapat dipaksa mengambil rute lebih panjang atau menunggu hingga jalur kembali dibuka, sehingga menambah biaya pengiriman dan meningkatkan premi asuransi akibat risiko konflik di kawasan.
Sejumlah ekonom dan pengamat pasar memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz berpotensi memicu krisis energi global pada 2026, mengingat tingginya ketergantungan pasar pada aliran energi dari Teluk. Dampak yang dikhawatirkan antara lain harga minyak mentah bertahan pada level tinggi yang tidak biasa, persediaan energi global menjadi semakin ketat, serta inflasi global meningkat, terutama di negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi.
Dalam perkembangan terbaru yang dilaporkan, sejumlah kapal tanker besar dan perusahaan perdagangan disebut menghentikan sementara pengiriman melalui selat akibat ketidakpastian dan larangan jalur. Hal ini dinilai mempertegas bahwa penutupan telah menimbulkan dampak langsung terhadap logistik minyak global.
Meski terdapat laporan resmi dari Garda Revolusi Iran yang menyatakan selat ditutup, misi angkatan laut Uni Eropa disebut menilai deklarasi tersebut belum tentu legal menurut hukum laut internasional. Namun, ketegangan yang terjadi tetap membuat jalur tersebut dipandang berisiko tinggi bagi pelayaran komersial.
Penutupan Selat Hormuz setelah eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel menempatkan pasar energi dalam kondisi siaga. Dampaknya berpotensi meluas, tidak hanya pada harga minyak dan gas, tetapi juga pada konsumen, perekonomian nasional, serta negara-negara yang bergantung pada pasokan energi impor.

