Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai berpotensi tertekan pada Maret 2026. Secara historis, rata-rata dalam sembilan tahun terakhir IHSG melemah 1,97% setiap bulan Maret.
Peluang IHSG menguat pada Maret tercatat hanya 44% dalam periode sembilan tahun terakhir. Dalam rentang waktu tersebut, penguatan terbesar terjadi pada Maret 2025, ketika IHSG naik 3,83%.
IHSG menutup perdagangan Februari 2026 dengan pergerakan flat di level 8.235,48 pada Jumat (27/2). Sepanjang 2025 berjalan, IHSG tercatat sudah terkoreksi 4,76% dengan net sell Rp 9,51 triliun.
Dari sisi eksternal, ketidakpastian pasar meningkat seiring eskalasi geopolitik. Terbaru, Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan militer gabungan ke Ibu kota Iran, Teheran, yang disebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Sebelumnya, pasar saham juga dibayangi sentimen dari S&P Global Ratings yang memperingatkan meningkatnya tekanan fiskal Indonesia, terutama terkait biaya pembayaran utang yang lebih tinggi.
Head of Research NH Korindo Sekuritas Ezaridho Ibnutama menilai konflik saat ini turut mendorong kenaikan premi harga emas serta valuasi saham perusahaan minyak. Menurut dia, karena jalur logistik minyak dan gas global yang krusial di Selat Hormuz berada di bawah kendali pemerintahan Ayatollah, tarif VLCC (Very Large Crude Carrier) berpotensi melanjutkan tren kenaikan tajam.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder Pasar Dana Hans Kwee menambahkan, serangan AS-Israel ke Iran diperkirakan menjadi tema utama pasar pada awal pekan perdagangan saham di bulan Maret 2026. Ia menilai wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran dapat meningkatkan ketidakpastian dan arah akhir konflik belum dapat dipastikan.
Hans juga menyoroti dampak kenaikan harga minyak bagi Indonesia. Menurutnya, lonjakan harga minyak tidak menguntungkan bagi negara net importir minyak seperti Indonesia.
Dalam kondisi tersebut, Hans memperkirakan IHSG berpotensi mengalami koreksi wajar dan bergerak dalam fase bearish consolidation. Ia menyebut investor dapat mencermati saham berbasis energi serta logam dasar.
Sementara itu, Nafan memproyeksikan IHSG bergerak pada kisaran 7.712 hingga 8.528 sepanjang Maret 2026. Ia menyarankan investor memfokuskan perhatian pada emiten dengan fundamental solid dan valuasi yang dinilai menarik.

