Di tengah eskalasi konflik global, agresi militer yang terus berlangsung di Timur Tengah kembali memantik keprihatinan dunia. Situasi disebut kian memburuk setelah serangan dilaporkan menyasar jantung Iran, dengan dukungan Amerika Serikat.
Dalam pemberitaan tersebut, Israel disebut melakukan tindakan culas dan ingkar janji untuk menyudahi perang. Ambisi yang kerap dikaitkan dengan gagasan “Visi Israel Raya” juga dinilai sebagai bentuk kolonialisme ekspansionis modern yang dikhawatirkan mengancam stabilitas kawasan, memperluas konflik, dan memperpanjang siklus kekerasan di tingkat regional maupun internasional.
Dari perspektif Islam, dinamika ini dipandang tidak semata sebagai peristiwa politik. Umat Islam diajak merenungi kembali bagaimana Alquran mengungkap karakter dan perilaku kaum terdahulu sebagai pelajaran lintas zaman.
Sifat Bani Israil dalam Perspektif Alquran
Bani Israil disebut sebagai keturunan Nabi Yakub AS yang berasal dari 12 anaknya, yang kemudian menjadi nenek moyang dari 12 suku Israel. Dalam sejarahnya, mereka termasuk kaum yang banyak menerima nikmat dari Allah SWT. Namun, Alquran juga mencatat sejumlah penyimpangan sikap yang dijadikan peringatan bagi umat manusia.
Berikut beberapa sifat Bani Israil sebagaimana dijelaskan dalam Alquran:
1. Ingkar janji
Alquran menyinggung kecenderungan melanggar komitmen dan mengubah ajaran yang telah diturunkan. Hal ini antara lain disebut dalam QS. Al-Maidah ayat 13: “(Tetapi) karena mereka (Bani Israil) melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah firman (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka....”
Penegasan serupa juga terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 100: “Dan mengapa setiap kali mereka mengikat janji, sekelompok mereka melanggarnya? Sedangkan sebagian besar mereka tidak beriman.”
2. Keras kepala dan menentang nabi
Alquran juga menggambarkan sikap keras kepala dan penolakan terhadap para nabi yang diutus kepada mereka, termasuk Nabi Musa AS. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 87 disebutkan: “Dan sungguh, Kami telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami susulkan setelahnya dengan rasul-rasul, dan Kami telah berikan kepada Isa putra Maryam bukti-bukti kebenaran serta Kami perkuat dia dengan Rohulkudus (Jibril). Mengapa setiap rasul yang datang kepadamu (membawa) sesuatu (pelajaran) yang tidak kamu inginkan, kamu menyombongkan diri, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian kamu bunuh?”
3. Kikir dan tamak
Gambaran tentang ketidakpuasan dan kecenderungan tamak juga disebut, meski telah menerima nikmat. QS. Al-Baqarah ayat 61 memuat kisah ketika mereka meminta variasi makanan dan kemudian disebutkan akibat dari kedurhakaan dan pelampauan batas: “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja, maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti: sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merah.” ... Kemudian mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah....”
4. Sombong
Alquran juga menyinggung sikap merasa paling unggul dan eksklusif. Dalam QS. Al-Maidah ayat 18 disebutkan: “Orang Yahudi dan Nasrani berkata, “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” Katakanlah, “Mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu? Tidak, kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang Dia ciptakan....”
Pemberitaan tersebut menegaskan bahwa apa yang diabadikan dalam Alquran tidak dipandang sekadar sebagai kisah sejarah, melainkan peringatan yang relevan sepanjang zaman. Sifat-sifat seperti ingkar janji, keras kepala, tamak, dan sombong disebut sebagai penyakit moral yang bisa menjangkiti siapa saja bila tidak diwaspadai.
Pada saat yang sama, solidaritas terhadap warga Palestina disebut sebagai bagian dari panggilan kemanusiaan dan keimanan. Dengan memahami pesan Alquran secara mendalam, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif untuk menegakkan nilai keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian di tengah dunia yang terus dilanda konflik.

