Eskalasi konflik yang melibatkan Iran dan Israel, dengan potensi keterlibatan Amerika Serikat, diperkirakan memicu gejolak di pasar keuangan global hingga berdampak ke Indonesia. Dalam situasi ketidakpastian tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai rentan mengalami koreksi dalam jangka pendek, sementara investor ritel menghadapi pilihan strategi antara bertahan, mengurangi eksposur, atau mencari peluang baru.
Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai ketegangan geopolitik yang meningkat dapat kembali menekan pasar global dan domestik. Menurutnya, kekhawatiran gangguan pasokan energi dari Timur Tengah turut mendorong lonjakan harga minyak dunia, yang berpotensi memicu inflasi serta meningkatkan volatilitas pasar.
“Konflik Iran-AS bisa buat pasar modal global dan domestik kembali mengalami tekanan risiko geopolitik. Ketegangan ini mendorong harga minyak dunia naik tajam karena kekhawatiran gangguan pasokan, yang memicu inflasi dan meningkatkan volatilitas pasar,” ujar Reydi saat dihubungi pada Minggu (1/3/2026).
Mengacu pada data CNBC, kontrak berjangka minyak mentah Brent tercatat naik 1,73 dolar AS atau 2,45 persen menjadi 72,48 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,81 dolar AS atau 2,78 persen dan ditutup di 67,02 dolar AS per barel pada perdagangan Jumat (27/2/2026).
Di pasar saham, kekhawatiran konflik meluas disebut mendorong pergeseran dana investor global ke aset yang dianggap lebih aman, seperti emas dan obligasi. Perpindahan ini berpotensi menekan pasar saham, termasuk IHSG.
Reydi menjelaskan tekanan pada IHSG dapat muncul dari aksi jual pelaku pasar, arus modal asing yang keluar dari pasar negara berkembang, serta menguatnya sentimen risk-off secara global. “IHSG cenderung terkoreksi karena aksi jual, arus modal keluar asing, dan sentimen risiko global yang meningkat,” katanya.
Meski demikian, Reydi menilai arah pergerakan IHSG tetap sangat bergantung pada perkembangan konflik. Jika situasi terkendali dan tidak berkembang menjadi krisis yang lebih besar, koreksi dinilai berpeluang bersifat sementara dengan peluang rebound ketika sentimen membaik dan investor kembali masuk ke aset berisiko.
Namun apabila ketegangan meningkat dan ketidakpastian berlangsung lebih lama, volatilitas pasar diperkirakan makin dalam disertai tekanan lanjutan pada indeks. “Bila (perang) berlanjut, volatilitas bakal lebih dalam dengan tekanan lanjutan pada indeks. Investor sebaiknya mengamankan sebagian atau keseluruhan dana guna untuk mengambil peluang saat indeks terkoreksi,” ujar Reydi.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, turut menekankan pentingnya disiplin dan selektivitas bagi investor ritel dalam kondisi pasar yang dibayangi ketegangan geopolitik. Menurutnya, respons investor sebaiknya disesuaikan dengan profil risiko masing-masing.
“Bagi investor ritel, sikap terbaik adalah disiplin dan selektif. Jika memiliki profil agresif, momentum di sektor komoditas bisa dimanfaatkan dengan manajemen risiko yang ketat,” kata Hendra.
Hendra menilai investor agresif masih dapat memanfaatkan momentum pada sektor komoditas, terutama ketika harga energi dan emas menguat akibat konflik global. Namun, ia mengingatkan strategi tersebut perlu disertai manajemen risiko yang ketat, termasuk pengaturan batas kerugian dan ukuran posisi.
Sementara bagi investor konservatif, pendekatan wait and see dinilai lebih relevan. Investor disarankan memantau perkembangan konflik, pergerakan harga komoditas global, serta arus dana asing sebelum mengambil keputusan lanjutan.
“Dalam situasi geopolitik yang panas kunci bukan sekadar masuk atau keluar pasar, melainkan kemampuan membaca rotasi sektor dan menjaga risiko agar tetap terkendali,” pungkas Hendra.
Pandangan mengenai potensi dampak konflik Iran-Israel terhadap pasar modal serta strategi investor tersebut disampaikan para pengamat pada Minggu, 1 Maret 2026.

