Dunia internasional kembali menyoroti meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran. Eskalasi ini dipandang bukan sekadar pertarungan militer, melainkan bagian dari persoalan yang lebih luas terkait dinamika politik global, diplomasi, dan isu kemanusiaan.
Dalam pandangan yang disampaikan kader PMII Rayon Fajrul falaakh, konflik tersebut perlu dibaca secara jernih dan tidak terjebak pada narasi sepihak. Ia menilai, situasi ini mencerminkan ketidakadilan sistemik di tingkat global, sehingga respons publik seharusnya tetap berpijak pada nilai kemanusiaan universal.
Menurutnya, serangan Israel dinilai sebagai bentuk provokasi yang dapat menghambat jalur diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Israel disebut merasa khawatir terhadap proses perundingan nuklir yang dianggap berlarut-larut dan tidak mengakomodasi kepentingannya, terutama terkait upaya melucuti kemampuan rudal balistik Iran.
Ia juga menilai, langkah Israel menyerang lebih dulu berpotensi menempatkan AS pada posisi sulit, seolah tidak memiliki pilihan selain memberikan dukungan militer penuh. Strategi semacam itu dinilai berisiko karena dapat menggeser fokus dari upaya perdamaian kawasan menjadi dorongan untuk penggantian rezim (regime change), yang dikhawatirkan memicu perang berkepanjangan.
Dalam pernyataannya, ia mengingatkan agar publik bersikap kritis terhadap alasan “pencegahan senjata nuklir” yang kerap disuarakan Israel dan AS. Ia menyebut hingga saat ini tidak ada bukti kuat bahwa Iran memproduksi senjata nuklir, dan merujuk pada investigasi IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional) yang disebut menunjukkan program nuklir Iran ditujukan untuk kepentingan energi damai.
Ia juga membandingkan situasi ini dengan kasus Irak pada masa Saddam Husein, yang kala itu digulingkan dengan dasar isu senjata pemusnah massal yang belakangan dinilai tidak terbukti. Karena itu, ia menekankan pentingnya akuntabilitas atas klaim-klaim yang beredar agar masyarakat tidak kembali menjadi korban propaganda perang.

