Potensi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran pada awal 2026 dinilai dapat memicu guncangan signifikan terhadap ekonomi global. Berbeda dengan ketegangan geopolitik yang dampaknya kerap terbatas, eskalasi di Timur Tengah memiliki jalur penularan yang lebih langsung ke pasar energi dunia, laju inflasi, dan stabilitas sistem keuangan internasional. Dengan pengerahan militer AS yang disebut telah mencapai tingkat kritis serta meningkatnya insiden maritim di Selat Hormuz, pasar keuangan global mulai memasukkan skenario terburuk dalam perhitungan risiko.
Besaran dampak ekonomi sangat bergantung pada skala serangan dan respons balasan Iran, terutama terkait kemungkinan gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk Persia. Pengalaman sebelumnya menunjukkan pasar keuangan cenderung bereaksi lebih cepat dan lebih volatil dibandingkan ekonomi riil, seiring pola antisipasi yang mendorong kenaikan aset safe haven dan koreksi tajam pada aset berisiko. Durasi konflik, efektivitas respons kebijakan bank sentral, serta koordinasi OPEC akan menjadi faktor kunci yang menentukan apakah guncangan bersifat sementara atau berkepanjangan.
Selat Hormuz dan risiko lonjakan harga energi
Gangguan pasokan minyak melalui Selat Hormuz dipandang sebagai saluran transmisi utama dampak ekonomi konflik AS-Iran. Jalur strategis ini menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak global, sementara Iran menyumbang sekitar 3% produksi minyak dunia. Risiko yang dipertimbangkan pasar mencakup potensi blokade Selat Hormuz melalui ranjau laut, serangan terhadap tanker, hingga gangguan produksi langsung dari fasilitas Iran—sebuah potensi supply shock yang disebut belum terjadi dalam skala serupa dalam satu dekade terakhir.
Harga minyak mentah sudah menunjukkan tekanan kenaikan sejak Januari 2026, dengan Brent menembus 70 dolar AS per barel dan WTI berada di atas 65 dolar AS. Jika konflik meletus dan pasokan dari Selat Hormuz terganggu signifikan, proyeksi menempatkan harga minyak berpotensi melonjak ke kisaran 100 hingga 130 dolar AS per barel. Sebagai pembanding, serangan terhadap fasilitas Aramco pada 2019 sempat memicu kenaikan harga minyak sekitar 15% hingga 19% dalam satu hari perdagangan. Dalam skenario konflik regional yang lebih luas, lonjakan dinilai bisa melampaui angka tersebut karena skala gangguan yang berpotensi lebih besar.
Kenaikan harga energi tidak hanya berdampak pada sektor transportasi dan logistik, tetapi juga mendorong naik biaya input produksi di hampir seluruh sektor ekonomi. Negara-negara importir energi neto, termasuk kawasan Eropa dan sebagian besar Asia, diperkirakan menanggung tekanan paling berat terhadap neraca perdagangan dan cadangan devisa.
Inflasi baru dan risiko perlambatan pertumbuhan
Lonjakan harga energi berisiko memicu gelombang inflasi baru di ekonomi global yang masih menjalani proses normalisasi pasca-pandemi. Mekanismenya dinilai berlapis: kenaikan biaya bahan bakar dapat mendorong harga pangan melalui ongkos transportasi dan pupuk yang lebih mahal, sementara sektor manufaktur menghadapi peningkatan biaya produksi yang pada akhirnya diteruskan ke konsumen.
Tekanan inflasi ini berpotensi menekan daya beli rumah tangga dan memperlambat konsumsi domestik yang menjadi penopang pertumbuhan di banyak negara. Bagi negara berkembang yang mengandalkan impor energi, kombinasi kenaikan harga minyak dan pelemahan mata uang domestik terhadap dolar AS dapat memicu imported inflation yang lebih sulit dikendalikan. Jika konflik berlangsung lebih dari beberapa minggu, risiko stagflasi—pertumbuhan melambat disertai inflasi tinggi—dinilai semakin nyata.
Dalam kondisi seperti ini, bank sentral global menghadapi dilema kebijakan: melonggarkan kebijakan moneter untuk menopang pertumbuhan atau mempertahankan suku bunga tinggi untuk meredam inflasi. Pada supply shock energi, ruang gerak kebijakan moneter dinilai cenderung terbatas.
Pasar saham berpotensi terkoreksi, pemulihan bergantung skala konflik
Di pasar keuangan, fase awal konflik diperkirakan mendorong koreksi pasar saham global akibat naiknya premi risiko dan ketidakpastian. Proyeksi menyebut indeks utama seperti S&P 500 dan Nasdaq dapat turun 2% hingga 5% pada minggu-minggu pertama eskalasi. Bursa Asia dan Eropa seperti Nikkei dan DAX juga diperkirakan menghadapi tekanan serupa, dengan kisaran koreksi 1% hingga 3%.
Pola historis menunjukkan, jika konflik terbatas dan tidak berkembang menjadi perang regional, pasar saham cenderung pulih dalam rentang enam bulan. Namun pemulihan dinilai tidak merata: sektor pertahanan dan energi biasanya mengungguli pasar, sementara teknologi, konsumen diskresioner, dan industri lebih tertekan karena kekhawatiran perlambatan permintaan dan gangguan rantai pasok.
Untuk Indonesia, risiko disebut bersifat ganda: arus modal keluar dan pelemahan rupiah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mengalami koreksi lebih dalam dibandingkan bursa regional lain karena sensitivitas pasar domestik terhadap sentimen global dan ketergantungan pada investasi asing.
Dolar menguat, mata uang emerging market rentan
Di pasar valuta asing, dolar AS umumnya menguat saat krisis sebagai mata uang cadangan dunia dan safe haven utama, didorong arus modal ke obligasi pemerintah AS dan instrumen berbasis dolar. Penguatan jangka pendek diperkirakan berkisar 0,25% hingga 0,5%, meski dalam jangka menengah dolar bisa menghadapi tekanan jika inflasi tinggi dan defisit fiskal AS memburuk.
Euro diproyeksikan melemah terhadap dolar dan berpotensi mendekati paritas di level 1,0, seiring ketergantungan Eropa pada impor energi dari Timur Tengah dan kerentanan terhadap inflasi. Di sisi lain, yen Jepang dan franc Swiss cenderung menguat sebagai safe haven alternatif dengan potensi apresiasi 1% hingga 2%, meski pergerakan yen tetap sensitif terhadap dinamika imbal hasil (yield) Federal Reserve dan Bank of Japan.
Yuan Tiongkok disebut berpotensi tertekan akibat arus modal keluar dan kekhawatiran terhadap pertumbuhan domestik, meskipun Beijing diperkirakan dapat melakukan intervensi untuk menstabilkan nilai tukar. Mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, dinilai rentan terhadap volatilitas dan tekanan depresiasi karena lonjakan kebutuhan dolar untuk impor energi serta perpindahan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Emas, perak, minyak, dan kripto: pergeseran ke aset safe haven
Di kelompok aset safe haven, emas dilaporkan menembus rekor baru di atas 6.000 dolar AS per troy ons, didorong permintaan lindung nilai, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Proyeksi analis memperkirakan tren bullish emas dapat bertahan hingga 2028. Perak juga tercatat mencetak rekor di atas 120 dolar AS per troy ons, dengan proyeksi jangka menengah menuju 150 dolar AS seiring rotasi investor ke komoditas dan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi.
Minyak mentah diperkirakan mengalami volatilitas ekstrem: berpotensi melonjak tajam pada fase awal konflik, tetapi juga rentan terkoreksi cepat jika konflik berakhir lebih singkat dari perkiraan pasar. Pola “buy the rumor, sell the news” pada komoditas energi disebut dapat menciptakan peluang sekaligus risiko.
Sementara itu, aset kripto dinilai sensitif terhadap risiko global. Pada fase awal ketidakpastian, kripto berpotensi terkoreksi 4% hingga 5%, meski pemulihan bisa terjadi bila konflik terbukti terbatas. Karakter kripto sebagai aset berisiko tinggi membuatnya lebih rentan terhadap likuidasi massal dibandingkan safe haven tradisional.
Penentu dampak: durasi konflik, bank sentral, dan OPEC
Dalam beberapa hari hingga minggu pertama setelah eskalasi, reaksi pasar diperkirakan didominasi sentimen risk-off: pelarian modal ke aset safe haven dan koreksi tajam pada aset berisiko. Volatilitas dinilai memuncak pada fase ini, dengan pergerakan harga yang dapat melampaui fundamental jangka panjang.
Untuk jangka menengah—sekitar satu hingga enam bulan—dampak ekonomi akan sangat bergantung pada durasi dan intensitas konflik. Jika konflik terbatas dengan target selektif dan berumur pendek, pasar cenderung pulih setelah ketidakpastian mereda. Namun jika meluas menjadi perang regional yang melibatkan sekutu kedua belah pihak, dampaknya diperkirakan lebih berkepanjangan dan struktural.
Respons kebijakan bank sentral utama serta koordinasi OPEC dalam mengelola pasokan minyak dipandang menjadi kunci stabilisasi. Federal Reserve, Bank Sentral Eropa, dan bank sentral lainnya akan menghadapi trade-off antara mendukung pertumbuhan dan menahan inflasi. Di sisi pasokan energi, kemampuan OPEC dan produsen non-OPEC meningkatkan produksi untuk mengompensasi gangguan dari Iran akan menentukan apakah lonjakan harga minyak bersifat sementara atau menetap.
Secara keseluruhan, potensi konflik AS-Iran dinilai dapat menciptakan supply shock energi global dengan efek berantai ke inflasi, volatilitas lintas aset, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Selama eskalasi belum mereda dan jalur diplomasi belum menghasilkan kemajuan konkret, ketidakpastian diperkirakan tetap tinggi dan volatilitas pasar menjadi ciri dominan lanskap ekonomi global.

