Sebuah tulisan opini di platform blog Kompasiana menyoroti meningkatnya ketegangan antara Iran dan poros Amerika Serikat (AS) serta Israel, yang dinilai telah bergerak dari sekadar perang urat syaraf menjadi ancaman konflik yang lebih nyata. Dalam tulisan tersebut, penulis menilai Indonesia tidak semestinya menjadi penonton pasif di tengah pusaran kepentingan global.
Dengan sudut pandang geopolitik dan keamanan strategis, tulisan itu memaparkan empat skenario terburuk yang perlu diantisipasi.
Pertama, skenario perang regional penuh yang disebut sebagai “Rantai Api” di kawasan. Menurut tulisan tersebut, perang dapat dipicu bila Israel melakukan serangan pre-emptive terhadap fasilitas nuklir Iran. Jika itu terjadi, Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah disebut berpotensi menjadi sasaran langsung. Keterlibatan jaringan proksi di Lebanon, Irak, Suriah, hingga Yaman dinilai dapat memunculkan konflik multi-front yang meluas.
Kedua, skenario penggunaan “senjata ekonomi” melalui penutupan Selat Hormuz. Tulisan itu menyebut Iran memiliki posisi geostrategis penting terkait jalur tersebut, mengingat sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Gangguan di jalur ini dinilai dapat memicu lonjakan harga minyak, yang kemudian berdampak pada inflasi global dan krisis energi yang menekan industri di berbagai kawasan.
Ketiga, skenario spiral balas dendam yang tak terkendali. Dalam tulisan tersebut, keberadaan puluhan ribu pasukan AS di pangkalan militer sekitar Teluk disebut sebagai titik rawan. Jika pangkalan-pangkalan itu diserang dan menimbulkan korban jiwa besar, penulis menilai jalur diplomasi bisa terdesak oleh tekanan politik, sehingga memicu rangkaian aksi balas-membalas yang semakin mematikan.
Keempat, skenario ekstrem yang melibatkan ambang batas nuklir. Tulisan itu menyebut bahwa ketika salah satu pihak merasa menghadapi ancaman eksistensial, keputusan ekstrem dapat diambil. Dalam konteks ini, Israel disebut diyakini memiliki hulu ledak nuklir, sementara Iran dituduh berada di ambang kemampuan serupa. Jika eskalasi mencapai tahap tersebut, penulis menilai tatanan dunia akan mengalami guncangan besar.
Kompasiana merupakan platform blog, dan konten yang dimuat menjadi tanggung jawab penulisnya serta tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

