Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mempromosikan Jawa Timur sebagai gerbang baru investasi global dalam forum East Java Investment Briefing (EJIB) 2026 yang digelar di Hotel Shangri-La, Jakarta.
Forum bertema East Java Investment Outlook 2026: Strengthening Global Connectivity – East Java Strategic Investment Projects as Indonesia’s New Gateway itu dihadiri perwakilan Kementerian Luar Negeri, Direktorat Jenderal Kerja Sama Ekonomi, serta sejumlah duta besar dari Swedia, Rusia, Korea Selatan, Singapura, Finlandia, hingga Jepang.
Emil menyatakan EJIB tidak sekadar menjadi ajang promosi, melainkan upaya membuka jalur diplomasi ekonomi dan memperkuat posisi Jawa Timur dalam peta investasi global. Ia menekankan pentingnya realisasi investasi dan kemampuan menyelesaikan persoalan di lapangan.
“Tidak cukup hanya berbicara. Yang paling penting adalah realisasi dan kemampuan menyelesaikan persoalan investasi di lapangan,” kata Emil dalam keterangannya yang diterima Selasa (10/2/2026).
Di hadapan para diplomat, Emil memaparkan kinerja ekonomi Jawa Timur sepanjang 2025. Jawa Timur tercatat menjadi salah satu kontributor terbesar nasional dengan sumbangan 25,29% terhadap ekonomi Pulau Jawa dan 14,4% terhadap perekonomian Indonesia.
Pada Triwulan IV 2025, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,85% (y-on-y), mendekati 6%. Secara kumulatif 2025 (c-to-c), pertumbuhan mencapai 5,33%, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Emil menilai capaian tersebut menunjukkan konsistensi akselerasi ekonomi daerah di tengah tekanan global.
Dari sisi investasi, realisasi Jawa Timur pada 2025 mencapai Rp147,7 triliun dan menempatkan provinsi ini di tiga besar nasional. Pada Triwulan IV 2025, investasi tumbuh 31,6% (q-to-q) dan 11,4% (y-on-y).
Emil juga menyebut Jawa Timur menjadi tujuan investasi dari 70 negara dengan ribuan perusahaan beroperasi. Sementara itu, data detail Penanaman Modal Asing (PMA) 2025 disebut masih menunggu finalisasi dari DPMPTSP.
Ke depan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur memfokuskan kebijakan pada penguatan daya saing industri, salah satunya melalui pengembangan kawasan industri. Menurut Emil, kawasan industri menjadi daya tarik utama bagi investor asing karena infrastruktur dan perizinan telah disiapkan lebih terintegrasi.
Dalam forum EJIB, Pemprov Jawa Timur juga menawarkan sejumlah Investment Project Ready to Offer (IPRO) di sektor infrastruktur, manufaktur, industri pengolahan, agribisnis, pariwisata, hingga properti.
Emil menegaskan Jawa Timur tidak hanya ingin menjadi tujuan investasi, tetapi juga simpul konektivitas ekonomi nasional dan global.

