Presiden kelima Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri membawa misi ideologis Pancasila dan ajaran Trisakti dalam kunjungan ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), pada 1–5 Februari 2026. Megawati menghadiri rangkaian agenda Zayed Award for Human Fraternity (ZAHF), yang meliputi Zayed Award 2026 Annual Ceremony, Guest Of Honour Gala Dinner, Zayed Award Roundtable Meeting, dan International Human Fraternity Majlis. Selama di UEA, ia didampingi Ketua DPR RI Puan Maharani, Ketua DPP PDIP M. Prananda Prabowo, serta rombongan.
Dalam forum internasional tersebut, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu memperkenalkan Pancasila dan Trisakti sebagai model universal untuk membangun perdamaian dunia. Di hadapan para pemimpin dunia dan tokoh perempuan global, Megawati menyampaikan bahwa konsep persaudaraan manusia bukan hal baru bagi Indonesia karena nilai itu telah lama hidup dalam Pancasila.
“Pancasila berfungsi sebagai dasar berpijak dan bintang penuntun ke mana arah dan perjalanan bangsa Indonesia,” ujar Megawati. Ia menekankan bahwa inti dari lima sila Pancasila adalah gotong royong, yang disebutnya sebagai kearifan lokal pemersatu bangsa Indonesia yang terdiri dari lebih dari 17 ribu pulau, 1.300 etnis, dan ratusan bahasa daerah.
Megawati juga mengutip pesan ayahnya, Proklamator RI Soekarno, bahwa Indonesia tidak didirikan untuk satu golongan, agama, atau suku tertentu. “Indonesia didirikan untuk semua, semua untuk satu. Prinsip ini yang menjadi fondasi etik kepemimpinan nasional kami,” katanya.
Selain Pancasila, Megawati memperkenalkan Trisakti sebagai pilar membangun bangsa yang bermartabat: berdaulat di bidang politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Menurut dia, kepemimpinan global masa depan perlu berakar pada persaudaraan kemanusiaan yang melampaui batas negara, agama, dan identitas.
Di tengah dunia yang dinilainya semakin terfragmentasi, Megawati menegaskan keberagaman bukan penghalang, melainkan kekuatan, sebagaimana tercermin dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika. “Ketika kita menghadirkan nilai kemanusiaan, empati, dan kepedulian dalam seluruh ruang hidup, kepemimpinan tidak lagi semata soal jabatan, melainkan kontribusi nyata bagi peradaban global,” ujarnya.
Megawati juga menyoroti tantangan global yang ia lihat sebagai menurunnya kesadaran akan persatuan sesama penghuni bumi. “Dari semua pembicaraan dalam forum ini, semua merasakan bagaimana dunia sepertinya mulai melupakan sebetulnya kehidupan kita itu satu, satu bumi,” ujar Megawati. Ia menilai nilai-nilai dalam Pancasila bersifat universal dan sejalan dengan semangat Human Fraternity atau Persaudaraan Manusia.
Dalam forum tersebut, Megawati duduk bersebelahan dengan Presiden Timor Leste José Ramos-Horta dan aktivis HAM India Kailash Satyarthi. Ia juga berdialog dengan sejumlah pemimpin perempuan dunia, di antaranya Ibu Negara Lebanon Nehmat Aoun, Ibu Negara Pakistan Aseefa Bhutto Zardari, Ibu Negara Kolombia Veronica Alcocer Garcia, Saida Mirziyoyev dari Uzbekistan, dan Leyla Aliyeva dari Azerbaijan.
Megawati turut menyampaikan usulan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membuat hukum internasional tentang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Dalam Forum Zayed 2026, ia meminta agar generasi penerus terlindungi dari ancaman AI. “Pentingnya pergerakan kolektif yang lebih masif untuk menjamin masa depan generasi penerus,” kata Megawati. “Seharusnya kita lebih banyak bergerak untuk masa depan anak-anak. Harus dirancang sejak sekarang.”
Meski mengakui manfaat teknologi, Megawati menyatakan kekhawatiran jika AI dibiarkan tanpa payung hukum demi melindungi kemanusiaan. Ia mencontohkan potensi manipulasi digital ketika teknologi mampu merekayasa visual dan suara seseorang hingga memunculkan deepfake. Megawati meminta PBB melihat situasi ini secara serius dan segera merumuskan hukum internasional yang dapat mengatur cara kerja AI agar tidak merugikan umat manusia. Pandangan tersebut disebut mendapat respons positif dari para tokoh yang hadir, dengan kesepahaman bahwa pengaturan teknologi tetap krusial.
Dalam kesempatan yang sama, Megawati menyampaikan pesan khusus bagi perempuan, terutama generasi muda, bahwa peran di ruang publik dan peran dalam keluarga tidak harus dipertentangkan. Menurut dia, yang dibutuhkan adalah manajemen waktu, komunikasi yang setara dengan pasangan, serta dukungan struktural dari negara dan lingkungan sosial.
Megawati juga bercerita tentang perjalanan hidupnya yang dibentuk oleh pendidikan orang tuanya, Presiden Soekarno dan Ibu Negara Fatmawati, yang menanamkan nilai keyakinan, keteguhan, keberanian, kesabaran, serta etika moral. Ia menyebut tetap dapat menjalankan peran sebagai istri dan ibu di tengah perjalanan panjang sebagai Ketua Umum PDIP sejak 1993, anggota DPR, Wakil Presiden, hingga Presiden RI.
Ia menekankan empati sebagai kekuatan dalam menghadirkan kepemimpinan yang manusiawi. Megawati kemudian berbagi pengalaman saat memimpin Indonesia pada masa transisi demokrasi awal 2000-an ketika konflik horizontal pecah di Poso dan Ambon. Ia mengatakan memilih jalan dialog dan rekonsiliasi dengan semangat kekeluargaan, alih-alih mengedepankan pendekatan represif. “Sebagai kepala negara, saya membawa negara hadir bukan sebagai kekuatan represif, melainkan sebagai penjamin rekonsiliasi,” katanya. “Kepemimpinan sejati menuntut kemampuan mendengar denyut kehidupan rakyat, menghadirkan empati, dan membangun kepercayaan.”
Zayed Award for Human Fraternity merupakan penghargaan internasional yang digagas pada 2019 dan terinspirasi dari penandatanganan Dokumen Persaudaraan Manusia oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Ahmed Al-Tayeb di Abu Dhabi. Megawati disebut memiliki hubungan khusus dengan penghargaan ini. Pada 2024, ia menjadi anggota dewan juri serta memperjuangkan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah hingga terpilih sebagai pemenang kategori organisasi kemasyarakatan.
Dalam kunjungan tersebut, Megawati bertemu Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled Bin Mohamed Bin Zayed Al Nahyan di Istana Qasr Al Watan. Pertemuan berlangsung sekitar satu jam dan membahas peluang kerja sama strategis, khususnya di bidang riset. Sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Megawati memaparkan potensi kerja sama penelitian di berbagai bidang, mulai dari pangan hingga keanekaragaman hayati. Ia juga menyoroti ketertarikannya pada teknologi desalinasi air laut yang telah maju di UEA.
Di sela agenda resmi, Megawati bertemu Presiden Timor Leste José Ramos-Horta yang kemudian mengundangnya ke Timor Leste. Megawati juga menanyakan kabar anak angkatnya yang kini menjadi Duta Besar Timor Leste untuk Kamboja, Kupa Lopez.
Saat berkunjung ke kantor Kedutaan Besar RI untuk UEA, Megawati menuliskan pesan dalam buku tamu Wisma Duta: “MERDEKA. Sebagai Bangsa Indonesia kita selalu harus punya keyakinan, keteguhan, keberanian, kesabaran dalam membangun Negara kita tercinta. Karena perjuangan kita memerdekaan Indonesia sejati belum selesai!”

