BERITA TERKINI
ICMSS Bahas Bullion Bank dan Peran Emas sebagai Alternatif di Tengah Gejolak Saham-Kripto

ICMSS Bahas Bullion Bank dan Peran Emas sebagai Alternatif di Tengah Gejolak Saham-Kripto

Di tengah volatilitas pasar saham dan aset kripto, rangkaian seminar menyoroti emas sebagai alternatif investasi yang dinilai lebih stabil. Pada sesi keempat bertema “Bullion Banks: A Strategic Initiative for Indonesia’s Economic Strengthening”, para pembicara membahas peran bullion bank dalam mengintegrasikan emas ke dalam sistem keuangan formal.

Sesi tersebut menghadirkan Sandra Sunanto selaku Chief Executive Officer PT Hartadinata Abadi Tbk, Samahari Gumawan sebagai Head of PVML Development Directorate, serta Ferdian Timur Satyagraha selaku Chief Financial & Strategy Officer PT Pegadaian. Mereka menekankan bahwa bullion bank dapat memperkuat ekosistem investasi emas melalui penguatan regulasi, transparansi harga, dan peningkatan likuiditas.

Para pembicara juga membandingkan karakter emas dengan instrumen lain seperti saham dan kripto yang cenderung dipengaruhi sentimen pasar jangka pendek. Emas dinilai memiliki karakteristik nilai yang lebih stabil dan kerap berfungsi sebagai safe haven. Dengan dukungan bullion bank, akses masyarakat terhadap investasi emas disebut dapat diperluas, sekaligus mendorong pendalaman pasar keuangan nasional serta menyediakan alternatif instrumen investasi di luar saham dan obligasi.

Menutup rangkaian seminar, Sim Invest menghadirkan sesi khusus edukasi terkait fitur dan keunggulan investasi digital. Dalam sesi ini, peserta juga diingatkan mengenai pentingnya diversifikasi portofolio di tengah dinamika pasar.

Dalam sesi Doorstep Interview, Samahari Gumawan menegaskan emas tidak hanya berperan sebagai instrumen lindung nilai, tetapi juga alternatif investasi jangka panjang yang semakin relevan, terutama bagi generasi muda. Ia menekankan perlunya pemahaman menyeluruh terhadap produk emas, mulai dari proses perolehan, karakteristik, hingga kesesuaiannya dengan kebutuhan investor.

“Seiring masuknya emas ke dalam sistem keuangan formal, emas dinilai semakin menarik dibanding instrumen berisiko tinggi di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian,” kata Samahari dalam keterangan tertulis, Selasa (10/2/2026).

Ia juga menyoroti peran digitalisasi dalam mendorong pertumbuhan investasi emas ritel di Indonesia, dengan catatan manajemen risiko dan keamanan siber tetap diperhatikan. Samahari mengingatkan agar investor, khususnya generasi muda, tidak terjebak fear of missing out (FOMO).

Menurutnya, kehadiran bullion bank dapat meningkatkan transparansi harga dan keamanan penyimpanan, sekaligus membuka peluang nilai tambah dari emas yang lebih produktif. Di tengah fluktuasi saham dan kripto, emas dipandang dapat menjadi instrumen penyeimbang portofolio yang berkelanjutan.