Penyelesaian konflik Rusia–Ukraina dinilai memerlukan proses dialog dan negosiasi yang melibatkan komunitas internasional. Dalam konteks ini, Brasil, Afrika Selatan, Indonesia, dan China disebut memegang peran penting dalam upaya bina damai, meski prosesnya diakui penuh tantangan.
China menilai Afrika Selatan, Brasil, dan Indonesia sebagai kekuatan penting untuk mendorong perdamaian dan pembangunan dunia. Beijing menyatakan perlu bertukar pandangan lebih jauh dengan mitra-mitra di selatan terkait perkembangan terbaru konflik dan proses perundingan perdamaian. Bersama China, tiga negara tersebut kerap disebut sebagai bagian dari kekuatan “Global South”.
Lawatan Li Hui ke Indonesia
Salah satu langkah yang ditempuh China adalah lawatan Utusan Khusus China untuk Urusan Eurasia, Li Hui, ke Indonesia pada 5–8 Agustus 2024. Kunjungan itu merupakan bagian dari diplomasi ulang alik terkait Ukraina.
Dalam wawancara tertulis, Li Hui menyampaikan perang di Ukraina telah berlangsung hampir 2,5 tahun dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Ia menekankan bahwa krisis tersebut tidak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat karena kompleksitas masalahnya.
Selama berada di Indonesia, Li bertemu dengan sejumlah pejabat untuk bertukar catatan mengenai perkembangan konflik serta upaya perdamaian dari pihak-pihak yang bertikai. Menurut Li, prospek perundingan damai masih belum jelas. Dari informasi yang diperoleh China, masyarakat internasional juga khawatir konflik dapat meningkat dan meluas, sehingga semakin banyak negara meyakini perlunya langkah mendesak untuk meredakan situasi.
Upaya Indonesia dan inisiatif negara lain
Indonesia disebut telah berupaya mendorong perdamaian dengan berbicara kepada kedua belah pihak. Presiden Joko Widodo juga pernah berkunjung ke China dengan membawa sejumlah agenda kerja sama, termasuk upaya penyelesaian konflik Rusia–Ukraina. Menteri Pertahanan Prabowo Subianto juga melawat ke China.
Di sisi lain, Presiden Brasil Inacio Lula da Silva pernah mengusulkan pembentukan tim juru damai untuk memediasi konflik Rusia–Ukraina, dengan Indonesia sebagai salah satu anggota yang diusulkan.
Dampak global dan seruan dialog
Li menyebut krisis Ukraina sebagai konflik geopolitik terbesar sejak berakhirnya Perang Dingin dan berdampak ke seluruh dunia. Ia menilai tidak ada negara yang dapat tinggal diam, terutama karena ketahanan pangan dan energi negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin disebut semakin terpuruk.
Li menegaskan Brasil, Afrika Selatan, Indonesia, dan China sama-sama mengedepankan posisi yang obyektif dan tidak memihak, serta berkomitmen mempromosikan penyelesaian politik melalui dialog dan negosiasi.
Dalam diplomasi ulang alik tersebut, pembahasan juga diarahkan pada cara mendinginkan situasi dan mengumpulkan prasyarat agar perundingan perdamaian bisa dimulai kembali. Li menyatakan semakin banyak negara yang ikut menyerukan penyelesaian krisis, semakin besar peluang meredakan situasi dan memulai kembali perundingan.
Posisi China dan contoh keterlibatan di isu lain
China menyatakan menjunjung posisi obyektif dan tidak memihak pihak bertikai, serta berpihak pada perdamaian dengan upaya membangun konsensus internasional. Dalam pernyataannya, China juga menyebut komitmen untuk mendukung peningkatan hubungan Arab Saudi dan Iran, serta menjadi tuan rumah perundingan rekonsiliasi internal di antara faksi-faksi Palestina.
China menyatakan mendorong Prakarsa Keamanan Global yang diusulkan Presiden Xi Jinping dan mengajak masyarakat internasional bekerja sama menjaga stabilitas di tengah dunia yang bergejolak. Li juga menilai sebagian negara masih melihat konflik melalui mentalitas Perang Dingin dan hal itu tidak membantu, meski ia menegaskan China siap membuka jalan menuju gencatan senjata.
Enam kesepahaman China–Brasil
China dan Brasil bersama-sama mengeluarkan enam kesepahaman terkait penyelesaian politik krisis Ukraina. Kesepahaman itu memuat sejumlah prinsip, elemen, seruan, dan perlindungan yang dinilai relevan di tengah sulitnya mewujudkan gencatan senjata dalam waktu dekat.
- “Tiga prinsip” meredakan situasi: tidak memperluas medan perang, tidak meningkatkan pertempuran, dan tidak ada provokasi oleh pihak mana pun.
- “Tiga elemen” perundingan damai: hal yang diakui oleh Rusia dan Ukraina, partisipasi setara semua pihak, serta diskusi yang adil tentang semua rencana perdamaian.
- “Tiga seruan”: meningkatkan bantuan kemanusiaan, menghindari serangan terhadap fasilitas sipil, serta melindungi perempuan dan anak-anak; termasuk dukungan terhadap pertukaran tawanan perang.
- “Tiga perlindungan”: menjaga keamanan energi, keuangan, perdagangan, dan pangan; menjaga keamanan infrastruktur penting; serta menjaga stabilitas rantai industri dan pasokan global.
Li mengklaim bahwa dalam dua bulan sejak kesepahaman itu dikeluarkan, ada 110 negara yang merespons positif. Ia juga menyebut baik Rusia maupun Ukraina belakangan menyampaikan beberapa pernyataan terkait perundingan damai, yang menurut China menunjukkan meningkatnya keinginan untuk berunding.
Li menilai komunitas internasional perlu menciptakan kondisi dan menawarkan bantuan agar kedua pihak dapat memulihkan dialog dan perundingan langsung. Ia menyatakan China siap menjaga komunikasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk Afrika Selatan, untuk mengarahkan situasi menuju penyelesaian politik.

