Jakarta—Peluncuran program Choix Goncourt Indonesia menjadi penanda babak baru kerja sama budaya antara Prancis dan Indonesia, khususnya di bidang sastra, penerbitan, penerjemahan, dan industri kreatif. Program ini diluncurkan di Jakarta pada Senin (11/5), bertepatan dengan kunjungan Presiden Académie Goncourt Philippe Claudel serta Sekretaris Jenderal penerbit Gallimard, Karina Hocine.
Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabian Panon, menyatakan bahwa budaya dan industri kreatif merupakan salah satu pilar penting dalam hubungan kedua negara. Menurutnya, kolaborasi ini terus berkembang sejak Indonesia dan Prancis menyepakati Deklarasi Borobudur pada Mei tahun lalu.
Deklarasi tersebut menjadi dasar bagi penguatan strategi bersama di bidang budaya dan industri kreatif. Panon menuturkan, sastra, penerbitan, dan penerjemahan termasuk sektor yang mendapat perhatian khusus dalam kerja sama tersebut.
“Buku adalah alat yang kuat untuk dialog dan pengetahuan. Buku memungkinkan kita menemukan cara lain untuk memahami dunia,” kata Panon saat acara di Wisma Duta Besar Prancis, Senin (11/5).
Ia menegaskan, kerja sama sastra tidak berhenti pada seremoni. Sejumlah program telah dijalankan, mulai dari pertukaran profesional, residensi seniman, dukungan penerjemahan, hingga program bagi penulis muda. Panon menyebut Choix Goncourt Indonesia sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem sastra yang lebih kuat dengan mempertemukan mahasiswa, penulis, penerbit, penerjemah, serta lembaga budaya dari kedua negara.
Kehadiran Karina Hocine dari Gallimard turut menguatkan pembahasan mengenai penerbitan dan penerjemahan. Gallimard dikenal sebagai salah satu penerbit besar Prancis yang menerbitkan karya sejumlah tokoh sastra dunia.
Karina menilai sastra dapat menjadi jembatan antara dua budaya. Ia memandang kerja sama semacam ini penting untuk membuka jalan bagi karya-karya Indonesia agar lebih dikenal di Prancis, sekaligus memperluas akses pembaca Indonesia terhadap karya-karya Prancis.
“Sastra, seperti perjalanan, mengubah kita dan membuat kita menjadi lebih baik,” ujar Karina.
Ia juga menekankan peran generasi muda dalam masa depan hubungan sastra Prancis-Indonesia. Menurutnya, mahasiswa yang membaca karya Prancis hari ini dapat menjadi penghubung budaya pada masa mendatang.
Dalam diskusi yang berlangsung, Philippe Claudel turut menyinggung kedekatannya dengan Indonesia. Ia mengaku pertama kali datang ke Indonesia 33 tahun lalu dan telah beberapa kali kembali berkunjung.