BERITA TERKINI
Kunjungan IPDN ke KJRI Shanghai Soroti Peran Diplomasi Pengetahuan dan Ekonomi Indonesia

Kunjungan IPDN ke KJRI Shanghai Soroti Peran Diplomasi Pengetahuan dan Ekonomi Indonesia

Kunjungan delegasi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Shanghai menyoroti perubahan peran diplomasi Indonesia yang kini melampaui fungsi seremonial dan protokoler. Di tengah pesatnya transformasi Tiongkok—dengan Shanghai sebagai salah satu pusat ekonomi dan teknologi dunia—perwakilan Indonesia di luar negeri dinilai memikul peran strategis untuk menjaga kepentingan nasional melalui diplomasi ekonomi, perdagangan, investasi, pendidikan, serta kerja sama riset dan teknologi.

Delegasi Studi Strategis IPDN dipimpin Wakil Rektor IPDN Prof. Hyronimus Rowa dan Direktur Pascasarjana IPDN Prof. Muhadam Labolo. Rombongan diterima Konsul Jenderal Republik Indonesia untuk Shanghai, Berlianto Situngkir. Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog mengenai cara Indonesia membaca perubahan global secara lebih strategis.

Dalam pertemuan itu, KJRI Shanghai digambarkan menjalankan fungsi yang lebih kompleks daripada pelayanan konsuler. Perwakilan ini diposisikan sebagai simpul kepentingan nasional Indonesia di salah satu kawasan paling dinamis di Asia, tempat diplomasi perdagangan, investasi, pendidikan, budaya, dan jejaring industri dijalankan secara konkret.

Bagi mahasiswa IPDN, kunjungan tersebut dipandang sebagai bagian dari pendidikan kenegaraan yang lebih luas. Aparatur pemerintahan masa depan dinilai perlu memiliki perspektif global, tidak hanya memahami administrasi publik dan tata kelola domestik, tetapi juga cara negara membangun pengaruh dan daya saing melalui diplomasi.

Sejumlah agenda strategis mengemuka dalam forum bersama KJRI Shanghai. Pertama, dorongan untuk mengedepankan quality investment bagi Indonesia. Investasi tidak hanya dilihat dari besarnya modal masuk, melainkan juga dari kontribusinya terhadap transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kapasitas industri nasional, serta penguatan rantai produksi domestik. Dalam konteks ini, diplomasi ekonomi Indonesia disebut perlu semakin selektif dan berorientasi jangka panjang.

Kedua, penguatan perdagangan, pendidikan, dan budaya sebagai instrumen hubungan luar negeri yang saling terhubung. Diplomasi modern dinilai tidak lagi berdiri pada satu sektor, melainkan melibatkan kerja sama akademik, pertukaran manusia, hingga produk budaya sebagai bagian dari upaya membangun pengaruh negara.

Ketiga, pengembangan ekonomi kreatif dan ekonomi digital sebagai sektor masa depan yang perlu diarusutamakan dalam diplomasi Indonesia. Shanghai disebut menunjukkan bagaimana teknologi, inovasi, dan kreativitas dapat menjadi mesin pertumbuhan baru. Indonesia dinilai memiliki potensi di sektor ini, namun membutuhkan sumber daya manusia dan ekosistem yang mampu bersaing secara global.

Keempat, pemanfaatan simpul perdagangan seperti Yiwu sebagai akses bagi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta industri rumah tangga Indonesia. Jaringan perdagangan global seperti Yiwu dipandang dapat menjadi pintu bagi produk lokal untuk masuk ke pasar internasional.

Kelima, penguatan eksistensi perusahaan Indonesia di Tiongkok disebut menjadi bukti kapasitas Indonesia untuk bersaing di pasar global. Kehadiran berbagai perusahaan nasional di Shanghai juga disebut mencerminkan pergeseran diplomasi ekonomi dari sekadar promosi menuju penguatan posisi bisnis Indonesia di luar negeri.

Di sektor perbankan dan keuangan, Bank Mandiri disebut telah memiliki kantor cabang penuh (full branch) di Shanghai untuk melayani transaksi perdagangan dan pembiayaan korporasi antara Indonesia dan Tiongkok. Bank Negara Indonesia (BNI) juga hadir melalui kantor perwakilan untuk mendukung pendanaan proyek, layanan remitansi, dan aktivitas bisnis masyarakat Indonesia di kawasan tersebut.

Di sektor barang konsumsi, Mayora Group melalui Mayora Shanghai disebut memperluas penetrasi produk Indonesia di pasar Tiongkok, termasuk Kopiko yang dikenal luas. Indofood juga memperkuat distribusi Indomie dan produk makanan lainnya di wilayah Shanghai dan Tiongkok Timur. Sementara Kapal Api disebut mulai memperluas jaringan distribusi kopi kemasan serta penetrasi pasar gaya hidup urban di pusat-pusat perdagangan Shanghai.

Melalui rangkaian pembahasan tersebut, kunjungan IPDN ke KJRI Shanghai menegaskan pentingnya diplomasi yang menghubungkan kepentingan ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi, serta jejaring internasional sebagai bagian dari arah pembangunan nasional.