BERITA TERKINI
ASEAN Pertahankan Komunikasi dengan Myanmar di Tengah Konflik, Konsensus Lima Poin Tetap Jadi Acuan

ASEAN Pertahankan Komunikasi dengan Myanmar di Tengah Konflik, Konsensus Lima Poin Tetap Jadi Acuan

ASEAN memutuskan untuk tetap membuka jalur komunikasi dengan Myanmar sebagai bagian dari upaya mencari jalan keluar atas konflik yang berkepanjangan dan mendorong rekonsiliasi nasional. Sikap ini disampaikan Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn setelah KTT ke-48 ASEAN pada Senin (11/5/2026).

Kao menyebut para menteri luar negeri ASEAN sepakat melanjutkan komunikasi dengan pihak Myanmar. Menurutnya, dialog diperlukan agar ASEAN dapat mendengar perkembangan terbaru secara langsung, sekaligus menyampaikan pandangan dan masukan kepada Myanmar.

“Para menteri sepakat akan perlunya mengadakan pertemuan daring untuk mendengar perkembangan dari pihak Myanmar dan, tentu saja, bagi pihak Myanmar untuk dapat mendengar pandangan dan masukan dari mitra di ASEAN,” kata Kao dalam keterangan yang dikutip pada Selasa (12/5/2026).

Dalam konteks diplomasi kawasan, langkah tersebut menunjukkan ASEAN masih berupaya menjaga pendekatan kolektif terhadap Myanmar. Para pemimpin Asia Tenggara disebut tetap mendorong tercapainya konsensus, sementara pembahasan mengenai langkah lanjutan masih terbuka.

ASEAN juga menegaskan Konsensus Lima Poin tetap menjadi rujukan utama dalam upaya penyelesaian damai. Namun, Kao menekankan proses rekonsiliasi harus tetap dipimpin dan diatur oleh Myanmar sendiri.

“Yang perlu ditekankan adalah untuk memastikan tidak ada lagi kekerasan dan bahwa rekonsiliasi nasional sejati dapat terwujud,” ujar Kao.

KTT ke-48 ASEAN turut membuka ruang keterlibatan baru bagi Myanmar. Para pemimpin ASEAN mengizinkan menteri luar negeri dan diplomat Myanmar mengikuti agenda sampingan secara virtual dalam pertemuan tingkat menteri luar negeri ASEAN yang dimulai pada Juli.

Kelonggaran ini muncul setelah ASEAN menyesuaikan diri dengan struktur pemerintahan baru Myanmar yang dipimpin Presiden Min Aung Hlaing. Meski demikian, sikap negara-negara anggota belum sepenuhnya seragam. Thailand mengusulkan agar Myanmar diizinkan mengikuti pertemuan lanjutan, sementara Singapura menolak kehadiran menteri luar negeri Myanmar dalam pertemuan utama secara langsung.