Presiden Republik Islam Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa kemenangan yang diklaim telah diraih angkatan bersenjata Iran di medan perang perlu disempurnakan melalui jalur diplomasi. Menurutnya, pilihan yang rasional dan logis, dengan mempertimbangkan kepentingan nasional, adalah memanfaatkan diplomasi untuk mengamankan hasil yang telah dicapai secara militer.
Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian dalam pertemuan dengan komandan dan perwira senior Kepolisian Iran (Faraja) pada 11 Mei 2026, sebagaimana dilaporkan Pars Today. Dalam kesempatan tersebut, ia menilai kepolisian tetap hadir menjaga keamanan internal dengan kewibawaan dan pengorbanan, meski menghadapi keterbatasan dan kekurangan sarana.
Pezeshkian juga menyinggung peran bangsa Iran dan angkatan bersenjatanya dalam menggagalkan tujuan musuh. Ia menekankan bahwa Iran berhasil mencegah musuh mencapai targetnya, serta memaksa pihak lawan menerima gencatan senjata dan menghentikan perang.
Dalam paparannya, Pezeshkian menguraikan tiga opsi yang menurutnya berada di depan Iran, yakni melanjutkan situasi status quo “perang-dan-damai”, melanjutkan konfrontasi dan perang, atau memasuki negosiasi dengan bermartabat sambil mempertahankan kepentingan nasional dan mengamankan hak bangsa Iran.
Ia menegaskan dukungannya pada opsi ketiga. Pezeshkian menyatakan bahwa diplomasi perlu digunakan untuk mengukuhkan kemenangan yang telah dicapai di medan perang, serta menetapkan hak-hak bangsa Iran dari posisi yang ia sebut bermartabat dan kuat.
Dalam pernyataannya, Pezeshkian menggambarkan Iran berada pada titik balik penting, dengan dorongan untuk mengalihkan fokus dari keberhasilan militer menuju capaian diplomatik yang lebih berkelanjutan melalui negosiasi dari posisi yang kuat.