Meningkatnya ancaman terorisme dan serangan siber di Asia Tenggara mendorong Indonesia mengambil langkah strategis dengan menginisiasi program ASEAN Our Eyes (AOE) pada 2017. Inisiatif ini diposisikan sebagai tonggak kerja sama intelijen regional untuk menjaga stabilitas keamanan, termasuk di ruang digital, di kawasan ASEAN.
Pembentukan AOE tidak lepas dari situasi keamanan pada tahun itu, ketika Asia Tenggara menghadapi berbagai serangan teror serta serangan siber berbahaya seperti malware WannaCry dan Fireball. Indonesia disebut termasuk salah satu negara yang terdampak. Sejumlah insiden teror, seperti kasus bom di Mall Alam Sutera dan penembakan di Jalan MH Thamrin, juga menjadi penanda bahwa pola kejahatan berkembang melampaui metode konvensional. Pelaku dinilai semakin memanfaatkan teknologi, menyasar ekonomi digital, dan menggunakan internet untuk menyamarkan jejak.
AOE merupakan program kerja sama berbagi informasi intelijen antarnegara ASEAN, yang disebut memiliki kemiripan dengan model “Five Eyes” milik Amerika Serikat dan sekutunya. Melalui AOE, negara-negara anggota dapat berbagi data intelijen secara real-time, melakukan pelatihan dan operasi bersama, serta meningkatkan kemampuan mendeteksi dan menangkal aksi terorisme maupun kejahatan lintas negara, terutama yang memanfaatkan internet sebagai sarana utama.
Program ini pada awalnya melibatkan Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Seiring pelaksanaannya, seluruh negara ASEAN kemudian turut serta dalam AOE.
Seorang peneliti menilai pendekatan Indonesia melalui AOE tidak semata bertumpu pada kekuatan militer, melainkan juga bagian dari diplomasi siber. Strategi ini dipahami sebagai upaya menjaga keamanan nasional secara damai, kolaboratif, dan berbasis kepercayaan antarnegara. Dalam pandangan tersebut, soft power seperti diplomasi dianggap lebih efektif untuk menghadapi ancaman modern karena memungkinkan pencegahan dilakukan lebih dini melalui kerja sama.
AOE disebut memberikan sejumlah manfaat bagi Indonesia dan ASEAN. Indonesia dinilai lebih siap menghadapi ancaman digital dengan dukungan intelijen dari negara tetangga. Di tingkat kawasan, ASEAN dipandang lebih solid dalam menghadapi terorisme karena memiliki sistem peringatan dini bersama. Dampaknya, respons terhadap ancaman dapat dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi, sehingga meningkatkan rasa aman masyarakat.
Meski demikian, peneliti mengingatkan tantangan ke depan masih besar. Perbedaan kepentingan antarnegara, ketimpangan infrastruktur siber, serta prinsip non-intervensi dapat menghambat koordinasi cepat. Namun, jika solidaritas ASEAN dapat dipertahankan, program seperti AOE berpeluang menjadi model kerja sama keamanan regional yang berhasil.
Melalui inisiatif ASEAN Our Eyes, Indonesia dinilai menunjukkan kepemimpinan strategis yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan nasional, tetapi juga pada upaya membangun Asia Tenggara yang lebih aman dan stabil dari ancaman terorisme dan serangan siber.

